Hits: 35
Aura Qathrunnada Gultom
Pijar, Medan. Indonesia dikenal dengan keberagaman kulinernya yang tidak hanya sekadar makanan tradisional, tetapi juga memiliki makna mendalam dan dampak bagi ketahanan pangan, salah satunya adalah Tiwul. Tiwul atau disebut juga Thiwul, merupakan makanan tradisional Indonesia dengan bahan utama tepung gaplek yang berasal dari singkong, lalu diberi gula dan diolah dengan cara dikukus.
Meskipun sudah semakin jarang ditemui, dahulu kita dapat mencari Tiwul di pasar tradisional pada pagi hari, dan biasanya dibungkus menggunakan daun pisang dengan porsi kecil. Sajian ini sendiri populer di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), terutama di masyarakat daerah Gunungkidul, Yogyakarta. Namun, kuliner ini sekarang tersebar di Indonesia dan dapat ditemui di luar Pulau Jawa.
Jika menilik dari sejarahnya, Tiwul merupakan makanan pokok masyarakat di masa lalu. Melansir dari kompas.com, sebelum dikenal sebagai jajanan, Tiwul atau Thiwul sebenarnya adalah makanan pokok pengganti nasi yang biasa dikonsumsi jadi makanan sehari-hari oleh masyarakat Wonosobo, Gunungkidul, Wonogiri, Pacitan, dan Blitar.
Pada masa penjajahan Jepang dan tahun 1960-an, terjadi masa kekurangan bahan makanan akibat kemarau panjang sehingga menyebabkan krisis pangan. Oleh karena itu, masyarakat mencari alternatif bahan dasar makanan pokok lain. Tanaman dasar alternatif yang populer saat itu adalah singkong. Singkong lalu diolah menjadi Tiwul dan dikonsumsi sebagai makanan pokok untuk menggantikan nasi.
Tanaman singkong menjadi bahan makanan pokok alternatif karena mudah tumbuh di cuaca yang kering dan di tanah yang kurang subur, seperti daerah Gunugkidul dan sekitarnya. Ditambah dengan kurangnya aliran air untuk menciptakan tanah lembab yang dibutuhkan untuk menanam padi.
Karena tanaman singkong dapat bertahan di cuaca yang kering, hal ini memudahkan masyarakat pada saat itu untuk memasok bahan dasar makanan pokok. Hal inilah yang membuat Tiwul bermakna besar dalam ketahanan pangan di masa krisis.
Namun, beberapa sumber juga menyatakan bahwa sajian Tiwul ini sudah ada sejak lama, jauh sebelum masa penjajahan Jepang dan krisis pangan tahun 1960-an. Bahkan dikonsumsi sebelum beras populer di masyarakat sebagai makanan pokok utama pada masa orde baru. Kemudian, ketika krisis pangan berlangsung dan singkong dijadikan bahan makanan pokok alternatif, dari sinilah Tiwul kembali dan semakin dikenal oleh masyarakat luas.
Dahulu, Tiwul dikonsumsi layaknya seperti nasi dan disandingkan dengan hidangan lain beserta lauk pauk. Berbeda dengan masa sekarang yang biasanya dikonsumsi sebagai kudapan dan memiliki berbagai variasi, seperti tambahan ketan, jagung pipil, dan siraman gula merah. Bahkan, penyajiannya juga dilengkapi dengan parutan kelapa yang ditaburi garam.
Apabila dilihat dari sisi manfaatnya, selain perannya untuk ketahanan pangan, saat ini Tiwul juga dapat menjadi alternatif makanan pokok yang bisa kita konsumsi untuk mengurangi kadar gula. Hidangan ini termasuk makanan yang rendah gula jika dibandingkan dengan nasi dan menjadi pilihan yang lebih baik, terutama bagi penderita penyakit diabetes.
Tiwul juga dapat menjadi pengganti bagi orang yang memiliki intoleransi dengan gluten yang terkandung dalam olahan tepung terigu. Selain itu, Tiwul juga kaya akan serat yang baik untuk pencernaan, serta rendah kalori sehingga dapat mengenyangkan dalam waktu yang lama.
Dengan berbagai manfaat tersebut, Tiwul tidak hanya berperan sebagai warisan kuliner yang mencerminkan kearifan lokal, tetapi juga menjadi penyelamat di tengah-tengah krisis yang dialami masyarakat. Keberadannya menjadi pengingat bahwa dari tradisi sederhana, tersimpan solusi bagi ketahanan pangan dan pola hidup yang lebih sehat. Sudah saatnya kita melestarikan warisan ini dengan mendorong keberagaman pangan.
(Redaktur Tulisan: Yudika Phareta Simorangkir)

