Hits: 6
Ruth Syahputri Situmorang
Pijar, Medan. Film Tinggal Meninggal disutradarai oleh Kristoffer Bramantyo dan dibintangi oleh Omara Esteghlal sebagai Gema, tokoh utama dalam film ini. Terdapat pula beberapa aktor pendukung yang membuat cerita semakin hidup dan terasa dekat dengan realitas kehidupan anak muda saat ini. Film ini mulai tayang di bioskop Indonesia pada Agustus 2025 dan telah resmi turun dari layar dengan jumlah penonton sebanyak 184.960 orang. Saat ini, Tinggal Meninggal sudah dapat ditonton melalui Netflix sejak Januari 2026.
Film Tinggal Meninggal, yang kerap disingkat sebagai film “Tingning”, menjadi salah satu tontonan yang berbeda. Sebagian orang mungkin mengira bahwa film ini bergenre horor jika melihat dari judulnya, tetapi pada kenyataannya, film ini memiliki sudut pandang yang berbeda dari film horor Indonesia pada umumnya. Ceritanya berfokus pada sosok Gema yang hidupnya dapat dikatakan sangat sepi.
Gema tidak memiliki banyak teman. Hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya, khususnya dengan keluarganya juga berjalan secara biasa saja dan cenderung dingin. Pada titik ini, penonton diajak untuk merasakan bagaimana menjadi seseorang yang seolah-olah “tidak terlihat” di lingkungannya sendiri. Gema merasa membutuhkan perhatian dan pengakuan, tetapi tidak mengetahui cara untuk memperolehnya.
Kehidupannya berubah ketika ayahnya meninggal dunia, karena untuk pertama kalinya, ia merasakan empati dan perhatian dari rekan-rekannya. Namun, perhatian tersebut hanya berlangsung sementara, dan suasana kembali dingin setelah masa duka berakhir. Merasa kosong, Gema kemudian mencari cara agar kembali diperhatikan. Hingga pada akhirnya, Gema memiliki ide-ide yang cukup ekstrem, ia mulai menciptakan kebohongan seolah-olah orang-orang terdekatnya meninggal dunia agar orang di sekitarnya memberikan perhatian lagi kepadanya.

Sumber Foto: imdb.com
Awalnya mungkin terlihat “sepele”, tetapi lama-kelamaan keadaan mulai menjadi tidak nyaman. Penonton diajak berpikir, “Kok bisa ya orang sampai segitunya cuma buat dapetin perhatian?” Namun di sisi lain, penonton juga menjadi paham, kesepian itu ternyata dapat menciptakan dampak sejauh itu. Pemeran lainnya juga menampilkan karakter yang beragam dan memiliki ciri khas masing-masing, sehingga mampu memberikan dukungan yang kuat terhadap jalannya cerita dalam film ini.
Selain itu, detail-detail kecil yang disajikan dalam film ini memiliki makna yang besar dan cukup mendalam. Hal tersebut membuat banyak membuat penonton merasa memiliki keterkaitan emosional dengan apa yang dirasakan oleh Gema. Secara genre, film ini memang sering disebut sebagai film “horor”, tetapi Tinggal Meninggal lebih tepat dikategorikan sebagai film horor psikologis. Unsur keseramannya tidak hanya berasal dari visual atau suara, melainkan juga dari situasi yang terasa nyata.
Banyak adegan yang tidak memerlukan jumpscare, tetapi tetap mampu menimbulkan rasa merinding karena memiliki keterkaitan dengan kehidupan sehari-hari, terutama bagi anak muda yang hidup di lingkungan sosial yang terkadang terasa dingin. Selain itu, film ini juga menyinggung fenomena sosial masa kini, khususnya terkait kebutuhan akan validasi. Terutama di era media sosial, banyak individu yang ingin diperhatikan dan diakui keberadaannya, bahkan terkadang rela melakukan hal-hal yang tidak wajar.
Akting Omara Esteghlal layak mendapatkan apresiasi. Ia mampu menampilkan perubahan emosi karakter secara halus, mulai dari sosok yang tampak pendiam hingga berkembang menjadi pribadi yang terasa mengganggu bagi penonton. Hal tersebut membuat penonton dapat merasakan perjalanan emosional tokoh secara mendalam, tidak sekadar menyaksikan alur cerita.
Secara keseluruhan, film Tinggal Meninggal bukanlah film horor yang berfokus pada unsur menakutkan semata, melainkan lebih mengajak penonton untuk berpikir. Film ini menunjukkan bahwa perasaan kesepian, apabila dibiarkan berlarut-larut, dapat berkembang menjadi sesuatu yang berbahaya. Selain itu, kekuatan utama film ini terletak pada kedekatan ceritanya dengan realitas kehidupan sehari-hari.
(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

