Hits: 17

Evelin Margaretha Purba

Pagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Ada sesuatu yang retak, sesuatu yang terasa sampai ke tulang. Kakakku sedang berperang dengan pikirannya sendiri antara mau meledak atau membeku.

Semalam, suaminya melontarkan kalimat yang bahkan tidak bisa kuterima dengan akal sehatku.

“Biarkan aku mencari ketenanganku dengan orang lain!”

Kalimat itu tidak hanya melukai hati mungil kakakku, tetapi juga mengguncang keadaan rumah ini.

Di satu sisi pekerjaan kantor menumpuk, deadline mengejar, dan pikiranku sendiri sudah penuh. Ayah telah lama tiada dan ibu menyusul, menyisakan kami berdua.

Dan pagi itu, aku memilih untuk menyibukkan diri.

Nah, sedikit lagi selesai. Mungkin aku akan berdiskusi dengan Rita dulu,” gumamku sambil menutup laptop.

Telepon tersambung.

“Hai sistaa, ada aposka? Tumben siang-siang gini nelfon?” suara Rita terdengar ceria di seberang.

“Halo Rit, aku mau nanya aja nih seputar pekerjaan kemarin…”

PLAK!

Pintu kamarku terbuka keras. Kakakku berdiri di sana, raut wajah itu tidak pernah kulihat sebelumnya.

Aku langsung mematikan telepon.

“Kamu kok gak ngerjain pekerjaan rumah sih, dek? Kamu itu di sini masih numpang sama aku. Setidaknya bantu aku lah!” ketusnya dengan nada tinggi.

Aku terdiam. Ini bukan kakakku yang biasanya. Bukan dia yang lembut, yang sabar, yang selalu dikatakan orang “perempuan terlembut yang pernah ada”.

Sesuatu dalam diriku ikut tersulut.

“Kakak gak lihat aku lagi sibuk? Kalau gak sabar, kerjain aja sendiri!”

Kalimat itu meluncur begitu saja, tanpa sempat kupikirkan. Dan seperti yang bisa ditebak, semuanya memburuk.

“Memang manusia gak tahu diuntung kamu! Aku udah kasih kamu tempat tinggal, tapi begini balasanmu? Angkat kaki dari rumahku! Jangan sampai kulihat lagi wajahmu di sini!” teriaknya.

Sunyi.

Hanya detak jantungku yang terdengar.

Dia pergi, meninggalkanku dengan kata-kata yang menggema di kepala.

Aku menangis.

Bukan hanya karena marah, tetapi karena tidak percaya. Kamar ini… tempat aku bertahan setelah kehilangan ayah dan ibu… sekarang terasa seperti bukan milikku lagi.

Dengan tangan gemetar, aku mulai mengemas barang-barangku. Setiap lipatan pakaian membawa kenangan. Tawa ibu. Obrolan malam. Pelukan hangat yang kini hanya khayalan.

“Ini, ambil uangmu. Semoga cukup.”

Aku menoleh. Kakakku berdiri di ambang pintu, wajahnya masih keras, tetapi matanya… tidak.

Aku menarik napas panjang.

“Ternyata seperti ini ya, kak. Aku selalu ada buat kakak selama ini. Hanya karena aku tak bantu sehari… jadi seperti ini.”

Dia terdiam.

“Kalau kakak marah sama suami kakak… jangan marah juga sama aku. Jangan jadikan aku pelampiasan.”

Aku menggenggam koperku, melangkah melewatinya.

“Dek…”

Langkahku terhenti.

Suara itu berbeda. Lembut. Rapuh.

Aku menoleh.

Dia menangis.

“Maafkan aku… aku gak bermaksud nyakitin kamu,” katanya lirih.

“Aku cuma… terbawa emosi. Jangan pergi, dek. Cuma kamu yang aku punya sekarang…”

Dadaku sesak.

Semua amarah yang tadi membara, perlahan runtuh.

Aku menjatuhkan koperku.

“Jangan khawatir, kak. Dia pasti akan kembali. Dia gak serius dengan ucapannya. Dia sayang sama kakak,” kataku tersenyum sambil memeluknya dengan kencang.

Dia mengangguk dalam tangis.

“Iya… dia pasti kembali.”

Kami berpelukan lama. Hangat. Seperti dulu. Seperti saat ibu masih ada.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa rumah ini… masih ada.

Beberapa hari kemudian…

“Ini dia kopi dan tehnya, tuan dan nyonya! Minum gih, sambil komunikasi. Biar aku gak jadi korban keributan kalian lagi!” kataku sambil meletakkan dua buah cangkir di meja.

Mereka saling menatap.

Lalu tertawa kecil, canggung tetapi tulus.

Aku tersenyum.

Mungkin rumah ini memang sempat hampir pergi.

Namun, selama kami masih kembali, rumah itu akan selalu ada.

Leave a comment