Hits: 5

Tevy Ulani S Depari

Pijar, Medan. Di tengah ramainya makanan modern dan tren kuliner yang silih berganti, ada satu sajian tradisional Indonesia yang mencuri perhatian, namanya Mi Sagu. Kuliner khas Riau ini tidak dibuat dari tepung terigu seperti mi pada umumnya, melainkan dari pati sagu. Hasilnya adalah mi dengan tekstur kenyal, padat, sedikit lengket, dan memberi sensasi yang khas ketika dikunyah. Bentuknya sekilas menyerupai kwetiau, tetapi sensasi chewy dan rasa khasnya membuat Mi Sagu mudah dikenali sejak suapan pertama.

Mi Sagu dikenal luas berasal dari Selat Panjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau. Dilansir dari laman riauin.com, Selat Panjang merupakan daerah yang lekat dengan tradisi kuliner berbahan sagu.

Asal-usulnya tidak lepas dari kondisi alam wilayah pesisir Riau yang banyak ditumbuhi pohon sagu. Batang pohon sagu diolah menjadi pati, lalu dimanfaatkan sebagai bahan makanan sehari-hari. Dari bahan inilah masyarakat menciptakan berbagai olahan, termasuk Mi Sagu yang merupakan makanan khas masyarakat setempat dan kini dikenal luas.

Secara tampilan, Mi Sagu memiliki bentuk pipih memanjang dan warna pucat cenderung bening. Jika mi terigu terasa lebih lembut, Mi Sagu justru lebih padat, kenyal, dan sedikit lengket saat digigit. Karakter inilah yang membuat banyak orang penasaran dan menjadikannya berbeda dari mi pada umumnya.

Mi Sagu cenderung mudah menyerap bumbu. Karena itu, kelezatan Mi Sagu sangat bergantung pada cara pengolahannya. Versi paling populer adalah Mi Sagu Goreng yang dimasak bersama bawang, cabai, tauge, dan daun kucai, lalu diberi taburan ikan teri goreng. Ikan teri bukan bahan wajib, tetapi cukup umum digunakan karena menambah rasa gurih dan tekstur renyah. Selain itu, Mi Sagu juga sering disajikan sebagai mi rebus dengan kuah ringan yang hangat dan sederhana.

Di beberapa tempat, Mi Sagu mulai dikreasikan secara lebih modern. Ada yang menambahkan telur, ayam, seafood, hingga sambal khas daerah. Hal ini menunjukkan bahwa kuliner tradisional tetap bisa beradaptasi dengan selera masa kini tanpa kehilangan identitas utamanya.

Keistimewaan Mi Sagu juga terletak pada bahan dasarnya. Dilansir dari ditjenbun.kementrian.go.id, sagu merupakan salah satu sumber karbohidrat lokal yang berpotensi mendukung diversifikasi pangan nasional. Artinya, sagu dapat menjadi alternatif selain beras dan gandum. Bagi Indonesia yang kaya akan sumber daya alam, pemanfaatan sagu menunjukkan bahwa pangan lokal memiliki nilai strategis sekaligus ekonomis.

Proses pembuatan Mi Sagu juga tidak sederhana. Tepung sagu dicampur dengan air panas dalam takaran tertentu, lalu diaduk hingga kalis sebelum dibentuk menjadi helai-helai mi. Jika komposisinya tidak tepat, tekstur mi bisa terlalu keras atau mudah putus. Karena itu, keterampilan membuat Mi Sagu biasanya diwariskan secara turun-temurun di lingkungan keluarga maupun usaha rumahan.

Saat ini, Mi Sagu tidak hanya bisa ditemukan di daerah asalnya. Di luar daerah asal, Mi Sagu juga hadir melalui usaha para perantau. Di Medan, salah satu tempat yang pernah menjual Mi Sagu adalah Warung Mie Sagu di kawasan Jalan Kenanga Raya, Tanjung Sari, Medan Selayang, Kota Medan, Sumatera Utara.

Selain dijual langsung, kini Mi Sagu juga sudah masuk ke pasar digital. Produk Mi Sagu kering dan Mi Sagu instan dapat ditemukan di marketplace seperti Shopee, Tokopedia, dan Lazada. Konsumen dari berbagai daerah bisa membeli dan memasaknya sendiri di rumah. Langkah ini membuat Mi Sagu semakin mudah dikenal generasi muda yang akrab dengan belanja online dan makanan praktis.

Di tengah arus makanan modern yang cepat datang dan cepat hilang, Mi Sagu justru bertahan karena kejujurannya—sederhana, khas, dan punya akar budaya yang kuat. Dari batang sagu di pesisir Riau hingga meja makan di berbagai kota, Mi Sagu membuktikan bahwa warisan lama tidak pernah benar-benar usang. Kadang, yang dibutuhkan hanya satu suapan untuk jatuh hati pada rasa yang sudah hidup sejak lama.

(Redaktur Tulisan: Yudika Phareta Simorangkir)

Leave a comment