Hits: 36
Patrycia Gloryanne Pasaribu
Pijar, Medan. Di tengah menjamurnya gerai minuman kekinian yang serba instan di berbagai sudut kota, ada satu harta karun kuliner tradisional yang tetap memiliki daya tarik tersendiri meski keberadaannya kian langka. Namanya cantik, seindah tampilannya, yaitu Es Selendang Mayang. Kuliner ini bukan sekadar pelepas dahaga, melainkan sebuah artefak budaya yang menyimpan cerita panjang masyarakat Betawi dan kini mulai diperkenalkan kembali ke berbagai daerah sebagai salah satu kekayaan Nusantara.
Nama “Selendang Mayang” sendiri tidak muncul begitu saja melalui proses yang singkat. Isian utamanya berupa kue lapis dari tepung sagu aren dan tepung hunkue yang memiliki warna berlapis-lapis, seperti merah, putih, dan hijau. Warna-warni mencolok ini dianggap menyerupai “selendang” para penari yang menjuntai indah, sementara kata “mayang” merujuk pada keindahan dan kelembutan rasa yang ditawarkan bagi siapa saja yang mencicipinya.
Dilansir dari kemdikbud.go.id, sejarah kuliner ini sudah eksis sejak era kolonial Belanda dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat lokal. Bagi masyarakat Betawi lama, Selendang Mayang adalah lambang kegembiraan dan sering kali hadir dalam perayaan-perayaan penting.
Kehadiran warna merah, putih, dan hijau pada kuenya juga bukan tanpa filosofi yang mendalam. Merah melambangkan semangat dan keberanian, putih melambangkan kesucian hati, dan hijau melambangkan harmoni serta kesuburan tanah asalnya kala itu.
Bagi banyak orang, daya tarik terkuat dari Es Selendang Mayang sering kali terletak pada sisi melankolisnya karena menyimpan narasi emosional yang unik. Dikutip dari budaya-indonesia.org, terdapat sebuah kisah romantis yang kerap dikaitkan dengan kuliner ini, yakni personifikasi dari sosok Mayang Sari.
Dalam cerita rakyat si Jampang, Mayang Sari digambarkan sebagai sosok perempuan dengan kecantikan luar biasa yang mampu memikat hati siapapun yang memandangnya. Konon, warna-warni pada kue ini adalah cara masyarakat terdahulu menggambarkan pesona Mayang Sari yang begitu memikat. Keindahan warna dan kelembutan tekstur kue ini dianggap sebagai simbolisasi dari kecantikan sang pujaan hati yang tak lekang oleh waktu.
Tak heran, di masa lalu, kuliner ini sering hadir dalam momen-momen pertemuan keluarga besar sebagai simbol kelembutan kasih sayang dan penghormatan. Hubungan antara rasa dan romansa ini menjadikannya lebih dari sekadar makanan, melainkan medium komunikasi perasaan.
Secara tekstur dan rasa, Es Selendang Mayang menawarkan pengalaman sensorik yang unik dan berbeda dari es pada umumnya. Kue sagu arennya yang padat, tetapi tetap kenyal dipotong kotak-kotak tipis, lalu disiram dengan santan gurih dan saus gula merah yang kental.
Saat es batu mulai mencair, perpaduan antara gurihnya santan dan manisnya gula aren menciptakan harmoni rasa yang menenangkan, memberikan kesegaran bagi lidah siapapun, termasuk para penikmat kuliner yang berada jauh di luar daerah asalnya.
Tekstur kenyal dari kue hunkue tersebut memberikan sensasi “menggigit” yang memuaskan, membedakannya secara tegas dengan es campur atau es dawet. Hal ini sejalan dengan informasi dari indonesia.go.id yang menyebutkan bahwa kekuatan Es Selendang Mayang terletak pada keseimbangan rasa manis gurih yang pas serta penggunaan bahan-bahan alami tanpa tambahan pengawet buatan, sehingga cita rasa aslinya tetap terjaga.
Sayangnya, saat ini pedagang Es Selendang Mayang memang mulai sulit ditemukan jika tidak berkunjung langsung ke pusat pelestariannya di daerah seperti Setu Babakan. Berdasarkan data kebudayaan di jakarta.go.id, upaya pelestarian terus dilakukan secara masif agar kuliner ini tidak hilang ditelan zaman dan terus dikenal oleh generasi muda.
Meski terpisah jarak yang cukup jauh dari domisili asalnya, mengenal kembali Es Selendang Mayang menjadi bukti bahwa warisan budaya Nusantara selalu punya ruang khusus di hati para pecintanya.
Menyantap semangkuk Es Selendang Mayang bukan hanya soal memanjakan lidah di tengah cuaca yang terik, melainkan juga tentang merawat ingatan atas sejarah dan romansa yang pernah tumbuh subur. Melalui setiap suapannya, kita seolah diajak kembali ke masa lalu, merayakan sebuah keindahan yang terus diwariskan lintas generasi agar tak habis dimakan waktu.
(Redaktur Tulisan: Yudika Phareta Simorangkir)

