Hits: 9

Zoraya Balqis

Pijar, Medan. Di tengah hangatnya suasana hari raya Idulfitri, ketupat selalu menjadi hidangan yang dinantikan. Anyaman janur yang membungkus beras atau ketan telah lama menjadi simbol kebersamaan di berbagai daerah. Namun, tradisi tersebut menghadirkan wajah berbeda ketika menyeberang ke pantai timur Malaysia. Di sana, ketupat tidak lagi dibungkus daun kelapa, melainkan dimasukkan ke dalam tubuh sotong dan dimasak dalam kuah santan yang manis. Sajian unik ini dikenal sebagai Ketupat Sotong.

Nama “Ketupat Sotong” secara langsung mencerminkan bentuk hidangan tersebut. Tubuh sotong berfungsi sebagai pembungkus alami yang menggantikan janur. Keunikan ini menunjukkan kreativitas masyarakat pesisir dalam mengolah bahan yang tersedia di lingkungan sekitar. Ketupat Sotong hadir sebagai representasi budaya dan kearifan lokal dalam menciptakan hidangan yang sederhana namun istimewa. Kuliner ini berasal dari Kelantan dan Terengganu, dua negara bagian di pantai timur Malaysia yang dikenal dengan olahan santan yang khas.

Kelantan dan Terengganu memiliki ciri khas tersendiri dalam menyajikan Ketupat Sotong. Di Kelantan, hidangan ini dikenal dengan cita rasa manis yang kuat karena penggunaan gula melaka dalam jumlah yang banyak pada kuah santannya. Sementara itu, di Terengganu, kuah santan disajikan dengan tambahan garam, gula, dan bawang sehingga menghasilkan rasa yang lebih gurih. Perbedaan ini menunjukkan bagaimana satu hidangan dapat berkembang mengikuti selera dan kebiasaan masyarakat setempat.

Sejarah Ketupat Sotong berakar dari kehidupan masyarakat nelayan di Kelantan yang sederhana, tetapi inovatif. Pada masa lampau, mereka memanfaatkan sotong sebagai hasil tangkapan laut yang mudah diperoleh. Untuk menciptakan makanan yang mengenyangkan, sotong diisi dengan beras ketan, kemudian dimasak menggunakan santan dan gula aren. Dari ide kreatif tersebut, lahir sajian yang kemudian diwariskan secara turun-temurun dan tetap bertahan hingga saat ini.

Hidangan ini sempat ditampilkan dalam salah satu episode animasi 3D Malaysia, Upin dan Ipin musim ke-18. Dalam episode tersebut dijelaskan bahwa pembuatan Ketupat Sotong tergolong sederhana, mulai dari membersihkan sotong, mengisi bagian dalamnya dengan beras ketan, lalu mengunci bagian kepala dengan lidi agar isian tidak keluar saat dimasak. Selanjutnya, sotong direbus dalam kuah santan yang dicampur gula aren hingga matang dan kuah mengental, menghasilkan perpaduan rasa manis dan gurih yang khas.

Selain keunikannya, Ketupat Sotong juga memiliki nilai gizi yang cukup baik. Sotong merupakan sumber protein yang penting untuk pertumbuhan dan perbaikan jaringan tubuh. Kandungan vitamin B12 serta mineral, seperti zat besi berperan dalam menjaga kesehatan sistem saraf dan pembentukan sel darah. Beras ketan sebagai isian memberikan energi melalui karbohidrat, sementara santan menyumbang lemak yang memberikan rasa kenyang lebih lama.

Meski demikian, konsumsi santan tetap perlu diperhatikan agar tidak berlebihan. Dalam porsi yang seimbang, hidangan ini dapat menjadi bagian dari pola makan yang cukup lengkap. Ketupat Sotong juga kerap hadir dalam berbagai momen kebersamaan, seperti kenduri, hari raya Idulfitri, dan perayaan lainnya. Kehadirannya tidak hanya sebagai makanan, tetapi juga sebagai simbol kehangatan, kebersamaan, dan nilai tradisi yang terus dijaga.

Lebih dari sekadar hidangan, Ketupat Sotong merupakan cerminan identitas budaya masyarakat pesisir yang tetap bertahan di tengah arus modernisasi. Popularitasnya yang semakin meluas menunjukkan bahwa tradisi lokal masih memiliki tempat yang kuat di hati masyarakat. Di balik perpaduan rasa manis dan gurihnya, tersimpan cerita panjang tentang kreativitas, ketahanan, dan kearifan lokal yang patut untuk terus dilestarikan.

Dengan segala keunikan dan nilai yang dimilikinya, Ketupat Sotong layak disebut sebagai salah satu warisan kuliner yang istimewa. Jadi, apakah tertarik untuk menyantap hidangan khas pantai timur Malaysia yang satu ini?

(Redaktur Tulisan: Yudika Phareta Simorangkir)

Leave a comment