Hits: 144

Anggun Natasya Sinambela

Pijar, Medan. Komunitas Seabolga melalui program The Bloom Project, mengadakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD). Membawakan tema “Harmony Untuk Bumi”, kegiatan ini membahas tentang kesiapsiagaan bencana yang dilaksanakan di Aula Jabar Nur Kecil Asrama Haji Medan, pada Sabtu (7/3/2026).

Kegiatan ini menyoroti pentingnya kolaborasi antar komunitas, rumah ibadah, dan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana di Kota Medan. Dalam program ini, Seabolga menghadirkan beberapa pembicara, yaitu Laila Sari; selaku Pelatih Pendidikan Keluarga, Muhammad Qorib; selaku Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan, serta Muhammad Yamin Daulay; selaku Ketua Tim Kerja Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Medan.

Kegiatan diawali dengan sambutan hangat oleh Yuli Efriani, selaku pendiri (founder) Seabolga dan Koordinator Program untuk The Bloom Project. Dalam sambutannya tersebut, ia menjelaskan bahwa komunitas Seabolga selama ini aktif dalam kegiatan menjaga kebersihan pantai dan edukasi lingkungan.

Memasuki sesi diskusi, pemaparan materi pertama disampaikan oleh Muhammad Yamin Daulay. Ia menjelaskan bahwa keterlibatan komunitas dan masyarakat sangat penting dalam upaya mitigasi bencana. Menurutnya, edukasi dan sosialisasi mengenai kesiapsiagaan perlu terus dilakukan agar masyarakat memahami langkah yang harus dilakukan pada sebelum, saat, maupun setelah bencana terjadi.

“Banyak yang ingin membantu, namun tidak melakukan koordinasi terlebih dahulu ke posko. Bukannya mempermudah, hal ini malah menambah kesulitan di lokasi bencana karena kurangnya pengetahuan tentang pembagian posko di tempat pengungsian,” jelasnya.

Seabolga Gelar FGD “Harmony untuk Bumi”, Dorong Kolaborasi Komunitas dalam Kesiapsiagaan Bencana - www.mediapijar.com
Sesi penyampaian materi oleh Bapak Muhammad Yamin Daulay
Fotografer: Anggun Natasya Sinambel

 

Pentingnya pemberdayaan perempuan dalam kesiapsiagaan bencana juga menjadi sorotan dalam FGD ini. Laila Sari, menyampaikan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam membangun ketahanan komunitas ketika menghadapi situasi darurat. Melalui edukasi kesiapsiagaan bencana, perempuan dapat berperan dalam pengorganisasian komunitas, pendampingan psikososial bagi korban, hingga memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat saat menghadapi situasi bencana.

Pembahasan kemudian berlanjut pada pentingnya pemanfaatan ruang-ruang sosial yang ada di tengah masyarakat. Muhammad Qorib, menyampaikan bahwa rumah ibadah tidak hanya berfungsi sebagai tempat perlindungan spiritual, tetapi juga dapat menjadi tempat perlindungan fisik bagi masyarakat umum ketika terjadi bencana.

Tanggapan positif juga datang dari salah satu peserta FGD, Siska Elvi Yunita, selaku perwakilan dari Komunitas Tano Puan. Ia mengaku sependapat dengan berbagai pandangan yang disampaikan para pembicara, terutama terkait pentingnya mitigasi bencana. Mengingat masih banyak daerah yang belum teredukasi dan masih gagap dalam menghadapi situasi bencana.

“Saya juga berharap kegiatan diskusi seperti ini dapat terus dilakukan ke depannya. Saya merasa kolaborasi antar komunitas, termasuk lintas agama dan komunitas perempuan perlu terus diperkuat. Agar dapat berkontribusi dalam meningkatkan kesiapsiagaan bencana di masyarakat,” tutupnya.

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment