Hits: 26

Angel Charoline Panjaitan

Pijar, Medan. Hari Hutan Sedunia ditetapkan pada tahun 2012 oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang diperingati setiap tanggal 21 Maret. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, terhadap pentingnya semua jenis hutan bagi keberlangsungan makhluk hidup dan keseimbangan iklim di bumi.

Pada peringatan tahun ini, badan khusus Food and Agriculture Organization (FAO) PBB, menetapkan tema yang diangkat adalah “Hutan dan Perekonomian”.

Peran hutan sangat penting sebagai penopang kehidupan melalui fungsi ekologis, yaitu menjaga siklus air, menyerap karbon, biodiversitas, serta mencegah erosi dan banjir. Selain itu, terdapat juga fungsi ekonomi yang termasuk sumber kayu, hasil hutan non-kayu, ekowisata, jasa lingkungan, dan penyerapan lapangan kerja.

Nilai ekonomi hutan inilah yang ingin dilihat dan dinikmati secara langsung. Oleh karena itu, melalui pendekatan ekonomi hutan, semangat dan komitmen semua pihak akan lebih terpacu untuk memanfaatkan hutan dengan tetap menjaga fungsi ekologis kelestarian hutan.

Tito Sucipto, selaku Ketua Program Studi (Prodi) S-1 Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU), menjelaskan bahwa Hari Hutan Sedunia menjadi momen semua pihak untuk semakin menjaga dan melestarikan hutan. Pemerintah memiliki kepentingan dalam pemanfaatan hutan secara ekonomi dan secara ekologis, antara lain melalui mitigasi perubahan iklim, penyediaan air, serta habitat keanekaragaman hayati. Pemanfaatan hutan secara ekonomi harus seimbang dengan pemanfaatan secara ekologis agar hutan tetap lestari.

Tito menambahkan, bahwa cara pandang pemanfaatan hutan melalui kayu yang selama ini diterapkan, perlu diperluas menjadi pemanfaatan Hasil Hutan Non-kayu (HHNK), ekowisata, dan jasa lingkungan, seperti perdagangan karbon (carbon trade).

Oleh karena itu, Tito mengusulkan bahwa kegiatan sosialisasi tentang kehutanan diperlukan untuk meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan partisipasi masyarakat dalam melindungi, mengelola, serta memulihkan ekosistem hutan secara berkelanjutan.

“Kegiatan yang paling sederhana, yaitu kami merilis sosialisasi dan kampanye Hari Hutan Sedunia melalui media sosial Prodi Kehutanan, Fakultas Kehutanan USU. Pada tahun-tahun sebelumnya, Unit Kegiatan Mahasiswa dan Organisasi Mahasiswa di Fakultas Kehutanan kadang melakukan kegiatan penanaman dan sosialisasi ke masyarakat akan peran pentingnya hutan bagi dunia,” ujarnya.

Sebagai seseorang yang peduli dengan hutan, Tito berharap bahwa dengan adanya peringatan Hari Hutan Sedunia, dapat menjadi ajakan aksi nyata dan meningkatkan kesadaran masyarakat global dalam melindungi, merawat, dan merestorasi ekosistem hutan demi masa depan lestari yang berkelanjutan.

“Harapannya, hutan semakin lestari melalui komitmen semua pihak, baik pemerintah, swasta, Lembaga Swadaya Masyarakat , dan masyarakat. Hutan juga semakin memberikan dampak positif bagi seluruh masyarakat, terutama masyarakat sekitar hutan,” tutupnya.

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment