Hits: 2

Grace Kolin

Pijar, Medan. Sabtu (12/11) IPTR (Ikatan Pemuda Tanah Rencong) Komisariat USU menggelar PeKAN (Pentas Kebudayaan Aneuk Nanggroe) 2016 yang bertemakan “Kita Persembahkan Budaya Aceh dalam Perantaun Sampai Mati”. Acara yang bertempat di Gelanggang Mahasiswa USU ini merupakan program kerja kepengurusan IPTR yang pertama kali terselenggara.

Sebelum acara dimulai, pengunjung dapat mencicipi kuliner khas Aceh seperti manisan pala, nagasari, bhoi, meusekat, adhe/bangka, timpahan dan rujak Aceh yang berada di samping gerbang masuk Gelanggang Mahasiswa. Selain itu, pengunjung juga dapat menikmati segelas kopi khas Aceh dan berbelanja ole-ole kerajinan tangan yang dipajang di atas meja seperti tas, dompet, kotak pensil, sepatu, bros, gelang dan ulos Aceh.

Berbagai macam kuliner khas Aceh yang di hidangkan dalam acara Pentas Kesenian Aneuk Nanggroe (PeKAN), Medan. (12/11). Fotografer : Grace Kolin
Berbagai macam kuliner khas Aceh yang di hidangkan dalam acara Pentas Kesenian Aneuk Nanggroe (PeKAN), Medan. (12/11).
Fotografer : Grace Kolin

Tepat pukul 22.10, acara ini dimulai.Tari Ranup Lampuan menjadi tarian pembuka penyambutan tamu. Dilanjutkan dengan laporan Ketua Panitia dan kata sambutan Ketua IPTR Komisariat USU, Tokoh masyarakat Aceh dan perwakilan Rektor USU.

“Kebudayaan kita itu tidak boleh luput dan harus kita jaga untuk kelangsungannya, untuk selama-lamanya,” ujar Prof. Dr. Ir. Said Umar, M. S., salah satu tokoh masyarakat Aceh dalam kata sambutan. Beliau juga menambahkan bahwa kebudayaan itu tidak boleh dilupakan dan harus diwariskan pada generasi berikutnya.

Senada dengan Said Umar, Prof. Dr. Ir. Bustami Syam, M. S., M. I dalam menyampaikan kata sambutan perwakilan Rektor USU, menyatakan bahwa produk seni, tarian dan nyanyian adalah sarana untuk menyampaikan pesan dan informasi supaya audience bisa menerima dengan baik sesuai dengan budaya setempat. “Maka peganglah satu hal bahwa, nasionalisme itu ibarat bunga di taman. Orang Aceh boleh bangga dengan bungo Jeumpa, orang Jawa dengan bungo Melati, orang Melayu lagi dengan bungo apa saja boleh. Tetapi yang membuat taman itu indah, karena bunga itu tersusun dengan baik,” ujar beliau.

Kemudian, pengunjung pun disuguhkan penampilan kesenian Negeri Serambi Mekah, non-stop. Mulai dari Seudati, Saman, Guel, Ratep Maseukat, Resam Beurume, Tareek Pukat, Didong, Rapa’i Geleng, pementasan Teatrikal hingga ditutup dengan penampilan Ratapan pada waktu menjelang tengah malam.

“Menurutku, walaupun ini baru pertama kali, anak-anak dari IPTR menyelenggarakan pagelaran seperti ini, hanya satu kata yang kubilang, spektakuler!” kata Reza Prayogi (Ilmu Komunikasi USU 2015). Reza berpesan agar untuk kedepannya, anak IPTR bias terus melestarikan kebudayaan Aceh itu sendiri.

Leave a comment