Hits: 24

Zoraya Balqis

Kriing! Alarmku berdering lebih nyaring pagi ini. Setidaknya, alat ini menjadi alat tempur untuk melawan si Nomor Satu yang baru saja menyalip posisiku di semester ini, Ronald Winster. Murid pindahan dari Australia yang sangat kutu buku dan menyukai basket. Sudah seminggu aku berperan menjadi sosok “pemandu”-nya untuk mengenali lingkungan sekolahku.

***

Namaku Arunika Lestari. Singkatnya, panggil saja Anika. Aku merupakan siswi SMA yang dikenal sebagai primadona kelas, bahkan tingkat sekolah. Bagaimana lagi, orang-orang sekitarku sangat mengapresiasi diriku yang tidak hanya memanfaatkan paras, tetapi juga kemampuan akademik, khususnya mata pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris.

Semua itu sirna sejak kedatangan seorang siswa pindahan dari Australia, bernama Ronald Wood. Siswa darah campuran Indonesia dan Australia yang gesit menjawab rumus-rumus Matematika yang baru saja diajarkan oleh guru kami. Melihat kemampuannya dalam menjawab soal-soal tersebut, api semangatku untuk menyainginya menjadi semakin kuat.

“Hei, Ron. Kamu ngejawab rumus-rumus dari Pak Andi pasti ada bawa contekan,” ujarku sembari membalik-balikkan halaman buku tulisnya.

“Cih. Anika, dengarin aku, ya. Siswa pindahan gini aku juga pinter dan cakep. Makanya, hapalan rumus kamu dikuatin,” jawab Ronald sambil menimpuk pelan kepala Anika dengan bukunya.

“Hah?! Aku udah sampai begadang juga udah ngehapal rumusnya! Tapi kamu sih yang aneh. Bisa-bisanya rumus itu belum ada dijelasin, tapi kamu cepet banget jawabnya,” sanggahku dengan cepat.

Sejak percakapan singkat itu, aku mulai memahami bagaimana sosok Ronald. Terlihat seperti kutu buku lemah, tetapi ternyata ia juga mempunyai bakat, yaitu basket.

***

Aku sangat tidak menyukai kegiatan fisik. Lebih baik aku membenamkan diriku di kasur yang empuk sambil mengerjakan soal-soal latihan dibanding harus berlari mengejar bola di lapangan yang panas. Namun entah kenapa, sore itu kakiku melangkah ke lapangan basket sekolah. Alasannya sederhana, melihat Ronald bermain. Aku berdiri di pinggir lapangan dengan tangan terlipat, berpura-pura tidak tertarik, padahal mataku tak lepas darinya.

Ronald adalah sosok yang berbeda ketika memegang bola basket. Wajahnya yang biasanya datar dengan kaca mata kotaknya berubah menjadi fokus dan penuh percaya diri. Gerakannya lincah, tembakannya presisi, dan sorakan teman-teman membuatku sadar bahwa ia bukan hanya ancaman di kelas, tetapi juga idola di lapangan. Untuk pertama kalinya, rasa kesal bercampur dengan kekaguman yang tak ingin kuakui.

Sejak hari itu, persaingan kami semakin sengit. Nilai ulangan harian selalu berselisih tipis, terkadang aku unggul, terkadang Ronald. Kami saling menyindir, saling menantang, tetapi diam-diam saling memperhatikan. Aneh rasanya karena setiap kali namanya dipanggil guru, jantungku ikut berdegup lebih cepat.

Suatu malam sebelum olimpiade Matematika tingkat kota, aku kelelahan mengerjakan soal-soal latihan. Pesan dari Ronald masuk tanpa kuduga. Ia menanyakan kabarku dan mengingatkanku untuk istirahat.

“Halo, Anika. Meskipun kita adalah utusan dari sekolah, tetapi jangan lupa. Aku tetap aja saingan kamu. Oh iya, jangan lupa istirahat, ya,” ketiknya.

Dengan rasa kesal, aku membalas ketus, “Ya. Terserah kamu. Pasti tetap aja aku yang bakal jadi juara yang banggain sekolah”.

Setelah mengetik pesan tersebut, entah mengapa senyum kecil lolos begitu saja dari wajahku. Apakah… ini rasa suka?

“Huft. Aneh. Kenapa pipiku panas, ya? Apa demam?” ucapku sembari menepuk pipiku yang merah padam.

Hari perlombaan tiba. Aku dan Ronald duduk berdampingan sebagai dua perwakilan sekolah. Soal-soalnya sulit, sempat membuatku ragu pada diri sendiri, tetapi aku teringat kata-kata Ronald semalam. Dengan napas panjang, aku mengerjakan setiap nomor dengan tenang dan selesai tepat waktu.

Pengumuman pemenang membuat aula hening. Juara pertama akhirnya dapat kuraih, dan Ronald berada di posisi kedua. Ada rasa lega, tetapi tetap saja, jantungku tetap berdegup kencang ketika ia menoleh padaku, tersenyum, lalu mengulurkan tangan dengan tulus.

“Tanpa kamu, aku nggak bakal bisa ikut olimpiade ini dan kenal kamu lebih dalam,” bisiknya dengan pelan. Aku menggenggam tangannya dan tersenyum balik. Saat itu aku sadar, rasa menggebu di dadaku bukan lagi tentang ingin mengalahkan, melainkan tentang tumbuh bersama. Antara saing dan rasa, aku memilih keduanya. Karena ternyata, keduanya bisa berjalan seiring.

Leave a comment