Hits: 29
Alya Amanda
Pijar, Medan. Minat mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara (USU) terhadap konsentrasi jurnalistik mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, pada tahun 2025, jumlah mahasiswa yang memilih konsentrasi jurnalistik tercatat paling rendah sepanjang lima tahun terakhir.
Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi USU, Mazdalifah, menyebut bahwa konsentrasi jurnalistik memang selalu berada di posisi ketiga setelah public relations dan advertising. Namun, penurunan tahun ini dinilai cukup mengkhawatirkan.
“Kalau tahun ini jumlahnya terlalu sedikit, cuma empat orang yang memilih. Tahun kemarin sembilan orang. Padahal, sebelumnya paling sedikit itu sekitar 15 atau 20 orang,” ujarnya.
Ia menilai penurunan minat tersebut dipengaruhi oleh citra jurnalistik yang berkembang di kalangan mahasiswa sebagai bidang yang berat. Mata kuliah seperti Jurnalisme Investigasi kerap dipersepsikan menuntut kerja lapangan yang serius, sehingga membuat sebagian mahasiswa enggan memilih konsentrasi ini.
“Mahasiswa merasa sudah kewalahan dengan tugas sebelum masuk konsentrasi, lalu muncul anggapan jurnalistik itu tidak menyenangkan,” tambahnya.
Di sisi lain, konsentrasi public relations justru menjadi pilihan mayoritas mahasiswa. Virgi Afwan Fathoni, mahasiswa konsentrasi public relations angkatan 2022, menilai bahwa citra konsentrasi jurnalistik di kalangan mahasiswa cenderung menurun seiring perkembangan era digital.
Ia mengatakan ketertarikannya memilih konsentrasi public relations didorong oleh banyaknya proyek yang dikerjakan, serta pengalaman langsung ketika menjadi seorang yang bergerak di bidang Hubungan Masyarakat (humas).
“Saya tertarik ke humas karena suka strategi membangun citra perusahaan dan berkomunikasi dengan banyak pihak. Di humas, saya belajar membuat proyek dan menghadapi tantangan nyata ketika berada di suatu perusahaan,” ucapnya.
Meski begitu, Virgi yakin bahwa keterampilan jurnalistik seperti menulis, menganalisis, dan berkomunikasi tetap dibutuhkan di berbagai bidang pekerjaan saat ini.
Keyakinan tersebut juga tercermin dari mahasiswa yang memilih konsentrasi jurnalistik. Mila Audia Putri, mahasiswa jurnalistik angkatan 2022, mengatakan bahwa di angkatannya hanya terdapat sembilan mahasiswa jurnalistik. Meski jumlahnya sedikit, ia tetap yakin dengan pilihannya.
“Jurnalistik sudah jadi minat dan cita-cita saya sejak awal. Dunia peliputan dan penyampaian informasi ke publik membuat saya yakin memilih konsentrasi ini,” ungkapnya.
Meski begitu, Mila mengakui masih terdapat tantangan dalam proses pembelajaran, terutama keterbatasan praktik lapangan yang dinilai penting untuk membentuk keterampilan jurnalis.
Sementara itu, Aura Gultom, mahasiswa jurnalistik angkatan 2023, menyebut jumlah mahasiswa di angkatannya jauh lebih sedikit, yakni hanya empat orang. Menurutnya, kondisi tersebut turut memengaruhi dinamika diskusi di kelas.
“Karena cuma empat orang, diskusi jadi kurang luas. Kurikulum praktik juga masih bisa ditingkatkan,” katanya.
Menanggapi kondisi tersebut, pihak program studi berupaya melakukan berbagai langkah untuk menghidupkan kembali minat mahasiswa terhadap konsentrasi jurnalistik. Mazdalifah mengatakan bahwa program studi akan melakukan rebranding citra jurnalistik, serta menghadirkan lebih banyak praktisi sebagai dosen dan menghadirkan mata kuliah yang mengarah ke jurnalisme digital.
Meski terjadi ketimpangan jumlah mahasiswa antarkonsentrasi, Mazdalifah menegaskan bahwa program studi tidak akan membatasi kuota.
“Kami ingin mahasiswa memilih [konsentrasi] sesuai passion mereka. Namun, kami juga berharap agar konsentrasi jurnalistik tetap diminati dan tidak sampai kosong, minimal 10–15 orang agar proses pembelajaran berjalan lebih ideal,” harapnya.
(Redaktur Tulisan: Kelly Kidman Salim)

