Hits: 11

Anggun Natasya Sinambela

 

Ada hari ketika aku ingin mengecil,

menjadi sesuatu yang tak terlihat siapa pun.

Bersembunyi di balik detak malam,

agar rasa yang kusimpan tidak terus menegurku,

setiap kali langkahmu lewat terlalu dekat.

 

Setiap senyummu membuka sesuatu dalam diriku.

Sesuatu yang seharusnya tidak bangun.

Sebab aku hanya penonton,

yang menyaksikan cahaya jatuh kepadamu,

tanpa pernah menyentuhku.

 

Kadang aku ingin menjelaskan,

kenapa napasku bergetar tiap kau bicara,

kenapa dunia seolah berhenti,

pada detik kau melirik tanpa sadar.

Namun, kata-kata itu selalu gugur,

bahkan sebelum sempat kurangkai.

 

Aku berjalan sambil menahan riuh,

yang tak seorang pun dengar.

Menyimpan nama yang tak boleh kupanggil,

menjaga jarak yang rasanya semakin sakit,

setiap kali kau tampak baik-baik saja tanpaku.

 

Di dalam diam itu,

aku menumpuk harapan yang kutaut rapuh,

menjahit imajinasi kecil.

Tentang sebuah cerita yang tak pernah ditulis,

seperti menunggu senja di hari yang tak punya matahari.

 

Meski begitu, aku tetap memungut perasaan itu.

Menyimpannya rapi,

seolah suatu hari ada tempat,

di mana ia bisa bernafas tanpa rasa takut.

Meski aku tau

tempat itu mungkin tak akan pernah ada.

 

Dan pada akhirnya, di sinilah aku mengaku dalam sunyi.

Pada malam yang tak menghakimi,

betapa perasaan yang tak terucap,

kadang jauh lebih tajam,

daripada luka apa pun yang pernah hadir.

 

Leave a comment