Alfi Rahmat Faisal

Sebuah padang rumput menghampar luas di hadapanku. Aku kembali ke tempat ini untuk mengenang beberapa hal. Tentang ibu, bersama luka yang ia bawa sampai mati, juga Nawi teman masa kecilku yang memilih jalan berbeda. Ia lebih percaya senjata dan peluru dapat menghapus luka dan kenangan pahit masa kecil. Mereka kini terbaring kaku di bawah gundukan tanah bernisan.

Laci ingatan di kepalaku memaksa membuka kembali kenangan-kenangan itu. Saat itu umurku dan Nawi masih 8 tahun.

Fajar baru saja merekah, kami masih berjalan menyusuri pinggiran sungai di belakang rumah-rumah warga sambil melempar kerikil ke semak-semak. Agam memanggul ambong sebesar badannya sedangkan aku ambong yang sedikit lebih kecil. Baju lusuh yang di pakainya melorot hingga lengan karena kebesaran. Matanya tampak sayu, sesekali ia menguap.

“Cukup Nawi, jangan lempar lagi. Mereka bersembunyi di semak-semak. Mereka sedang memperhatikan kita. Mungkin sebentar lagi mereka menampakkan diri. kau mau di terkam?”. Agam menarik parang dari ambongnya lalu mengayunkannya ke semak-semak. Setiap ia mengayunkan parang, ingus kental mengalir dari hidungnya yang pesek. Badannya terhuyung, ukuran parang dan badannya tidak seimbang. Seekor biawak yang berlari dari semak-semak mengagetkan mereka.

Ada banyak daun-daun basah di tepi sungai yang menggumpal menjadi beberapa tumpukan.Embun masih menggelayut diantara rimbunnya pepohonan. Sesaat lagi kami mulai memasuki hutan, rumah-rumah warga mulai jarang terlihat. Tampak di depan dua batu besar bersisian, kami harus memanjat untuk melewatinya.

Sungai masih terlihat meluap namun tidak sederas kemarin. Batu besar tempat orang biasanya duduk untuk buang hajat sudah tidak terlihat. Riak aliran sungai terdengar keras, aku harus sedikit berteriak jika berbicara dengan Agam. Dua batang pohon hanyut dan tersangkut pada bengkolan sungai. Buah ara tampak hanyut satu persatu.

Aku ingin langsung membenamkan diri dalam sungai. Agam melarangku, katanya nanti jika mandi dulu aku tidak kuat lagi berjalan. Dulu aku pernah membawa pulang buah ara satu kantong besar tapi Makbit memarahi ku, kata Makbit buah ara tidak bisa dijual para tauke hanya mau membeli bijih pala.

Hari sudah mulai terang. Cahaya menyelinap anggun melalui ranting-ranting pohon yang rimbun membentuk formasi tak teratur, menghantam tanah dengan warna mentari pagi. Satu jam sudah perjalanan kami, aku memohon istirahat sebentar pada Agam. Tapi kata Agam sudah hampir dekat. Agam bilang pohon pala pak Abu buahnya besar-besar dan banyak. Kalau kami telat, pak Abu bisa sampai duluan, bisa mati kalau ketauan. Lalu kami harus berjalan dua jam lagi untuk sampai di kebun pala berikutnya, nanti waktu kembali matahari sudah terbenam dan kami tidak boleh keluar lagi. Kapten telah mengumumkan jam malam.

Suatu hari ibu mendapatiku pulang selepas senja dari mencari pala di hutan. Ibu lalu bercerita padaku, di hutan itu ada harimau jahat jadi-jadian, dia dapat berubah bentuk menjadi manusia namun ketika kau lengah secepat kilat dia berubah menjadi sosok harimau dan menyerang dengan buas. Rimueng Daya namanya. Hampir tiap tahun dia meminum darah manusia. Konon ceritanya harimau-harimau itu diperintah oleh seorang raja untuk menyerang kerajaan lain yang menjadi musuh bebuyutannya. Namun, harimau-harimau ini selalu kalah, lalu mereka mendiami hutan-hutan di daerahku. Sepuluh tahun yang lalu, ada tiga anak laki-laki hilang di hutan. Lima hari kemudian mayat salah satunya mengapung di sungai dengan wajah yang pucat tanpa lengan kiri dan kembung seperti batang pisang.Namun sisanya tak pernah kembali. Pernah sesekali Rimueng Daya memasuki perkampungan, namun ketika hendak ditangkap warga dia menghilang.

“Kau tahu Rimueng Daya Gam?”

Agam menggeleng dan terus berjalan. Sesekali bebatuan kecil membuatnya tersandung.

“kata ibuku, dibalik bukit sana banyak Rimueng Daya” aku memicing mata dan menunjuk bukit di depan yang tersaput halimun. “ia dapat melewati satu atau dua gunung dalam sekali lompatan Gam. Cengkramannya sangat kuat. Dia hanya butuh sekali serangan untuk melumpuhkan manusia. Ia akan menghisap darah dan memotong lengan kiri kita. Lalu mayat kita akan dilempar ke sungai”

Agam menatapku “ aku sering kesana, tidak ada apa-apa, tidak ada Rimueng Daya”.

Agam dengan lincah memanjat pohon, menjatuhkan buah-buah pala tua. Aku yang bertugas memunguti lalu mengisi dalam ambong. Satu pohon… dua pohon..tiga…tujuh, ambong kami terisi penuh. Sebelum matahari tenggelam, kami bergegas pulang. Sekelebat bayangan terus mengikuti kami, ketika sudah memasuki perkampungan bayangan itu menghilang.

**

Semalam hujan turun deras sekali. Berbantalkan kain sarung, aku berbaring di kamar sambil memperhatikan tetes air hujan jatuh melalui atap yang bocor. Aku telah menaruh ember-ember kecil dan mendengar bunyi air jatuh seperti detak jarum jam, tempias-tempiasnya bercengkrama dengan lantai.

Ketika dingin malam mulai menusuk tulang, aku menarik selimut lalu menekuk kedua kaki. Dan aku mulai bermimpi lagi tentang Kapten. Dalam mimpiku ia tidak memakai baju loreng. Rambutnya kelihatan hitam legam, wajahnya memerah. Ia berdiri di depan pintu kamar ibu. Kapten merayu dan mencoba menarik ibu ke dalam pelukannya. “ayolah…” tangannya yang berurat mencoba membuka kancing baju ibu. Aku berdiri dengan kedua lutut bergetar. Lalu menutup mata dan menghambur diri ke kamar. Sambil terisak aku mendengar suara ibu menjerit.

Jeritan itu bersamaan dengan gelegar halilintar yang membuatku terjaga. Aku tidak dapat melihat apa-apa. Seisi ruangan gelap seperti tinta. Aku mendengar hujan yang sudah mula reda.

Sayup-sayup terdengar jeritan, suara tembakan, lalu suara orang yang berteriak panjang. Suara aneh itu terus terdengar setiap aku terjaga dari tidur. Lambat laun teriakan itu berubah menjadi halus, menghilang, lalu datang lagi.

Ibu menenangkanku, “tidak ada suara apa-apa. Kau cuma bermimpi buruk. Itu jin Rimueng Daya yang mengganggu anak-anak nakal”.

Ibu tidak mendengar suara itu, hanya aku. Aku bergeming, menutup telinga rapat-rapat. Suara-suara itu membuat kepalaku pusing, dadaku sesak. Dan dibalik bantal aku mulai terisak.

Beberapa malam sebelumnya, aku juga mendengar suara itu. Aku ingat ayah pernah mengajarkan doa kepadaku. Setiap suara itu datang aku selalu membacanya berulang-ulang. Malam ini entah kenapa aku tak sanggup membacanya. Aku ingin ayah yang membacanya untukku.

“Kemarin kita dapat banyak, hari ini harus lebih banyak Wi. Cutkak bilang harga pala naik”, Agam membetulkan posisi Ambongnya. Langkahnya semakin cepat, sesekali dia menendang kerikil.

“Kali ini kita tidak di kebun pak Abu lagi, lebih jauh, bukit itu” Agam menunjuk ke bukit yang tersaput halimun. Agam menyeka keringat dengan lengan kirinya. Ia seperti tak mendengar apa yang kukatakan tentang Rimueng Daya. Aku mengikuti Agam menyusuri pinggiran sungai. Sudah menjadi kebiasaan bagi anak-anak di kampung sini mencari pala, memasuki hutan dan melewati beberapa bukit. Di sepanjang jalan kami menemui beberapa pria dan wanita yang juga mencari pala di hutan. Seperti biasa, kami berangkat saat fajar masih dini.

2 jam perjalanan, kami berisitirahat sejenak, merebahkan badan pada bebatuan besar di pinggir sungai. Di dekat kami ada pipa besar dan tersambung panjang. Pipa-pipa ini mengangkut air dari hulu sungai ke rumah-rumah warga. Beberapa sisinya nampak berlumut terkena air sungai.

Kami duduk berdampingan. Angin pagi berhembus lembut menerpa wajah kami. Air disini tampak beriak beradu dengan batu-batu sungai. Agam menghela napas. Di seberang, tampak beberapa katak yang melompat ke dalam sungai.

“Di jalan yang kita lewati tadi, si Kapten pernah ditemukan hampir mati”

“Diterkam Rimueng Daya?”

“Bukan, terpeleset lalu jatuh” Agam terkekeh.

“sayang sekali dia tak jadi mati.”

Sejak Kapten datang, ayahku, ayah agam dan hampir semua laki-laki tidak mencari pala lagi ke hutan, ke sawah, ladang atau mencari ikan di laut. Mereka lari dan bersembunyi di gunung-gunung. Hanya pulang setahun sekali bahkan ada yang tidak pernah pulang lagi. Tahun ini ayahku dan ayah Agam tidak pulang. Biasanya saat idul fithri kami berkumpul. Lalu besoknya pergi lagi. Pernah sekali seseorang mengetuk pintu rumahku tengah malam. Ibu membuka pintu, ia tampak terkejut ternyata seorang pria dengan janggut lebat dan rambut yang sudah sebahu. Ternyata itu ayahku, setelah 1 tahun tidak pulang. Aku hampir tidak mengenali.

Aku tidak mengerti kenapa Kapten harus memburu ayah kami seperti ayah kami memburu biawak di hutan. Tapi ibu bilang, anak buah Kapten telah mencatat hampir semua nama laki-laki di sini. Katanya laki-laki di kampung ini tidak patuh. Ibu bilang, kalau aku tidak patuh, mereka juga akan mencatat namaku.

Dulu, ketika mendarat pertama kali. Kapten dan serdadunya sering berkeliling kampung dengan berjalan kaki. Mencari anjing-anjing liar yang tak terurus lalu dibawa pulang ke markas. Mereka lalu mengalungkan nama-nama ayah kami di leher anjing–anjing itu. Pernah aku dan Agam bermain di dekat markas Kapten. Kami melihat anjing-anjing mereka diberi makan daging mentah. Bentuknya seperti telinga Agam tapi yang ini lebih besar.

Matahari mulai tegak di atas, bayangan mulai meninggi di tanah. Kami melanjutkan perjalanan, sudah dua jam sepertinya. Kami sudah sampai di sebuah kebun pala, buahnya cukup banyak. Agam mulai sumringah. Namun suasana di kebun ini membuat bulu kuduk ku berdiri. Aku mulai memperhatikan sekitar. Aku memejamkan mata, bayangan Rimueng Daya masih belum pergi dari kepalaku. Aku membayangkan tubuhnya yang besar dan loreng, gigi-giginya yang runcing dan tajam, berekor panjang, dan matanya yang merah menjorok keluar.

Kulihat Agam sudah berada di atas pohon pala. Aku menaiki pohon yang agak tinggi lalu duduk di salah satu dahan nya. Dari sini aku melihat aliran sungai hingga ke perkampungan. Di sana, tak jauh dari tempat kami, mereka membuat markas. Mereka menyuruh orang kampung meyusun goni berisi pasir. Kata mereka, pasir kebal serangan dan tidak tembus peluru. Dan di atasnya mereka menaruh senjata laras panjang dengan penopang mirip huruf V terbalik. Moncongnya mengarah ke jalan dan ke gunung. Tak jauh dari situ, aku melihat sebuah gubuk kecil, sepertinya tidak berpenghuni. Setelah memenuhi ambong, kami mendekati gubuk tersebut.

Agam berjingkak memasuki gubuk, sementara aku berjaga-jaga di luar. Setelah situasi cukup aman aku menyusul Agam ke dalam, kulihat Agam sudah berada di halaman belakang gubuk.

Aku melihat Agam mematung di halaman belakang, menatap sebuah goni bertuliskan nama seseorang yang aku tidak tahu. Ketika membukanya, lutut Agam tergetar. Bibirnya pucat seketika. Aku melihat sewujud manusia telanjang dengan tangan dan kaki terikat. Aku melihat jasad itu sudah mengembung dengan dahi berlubang. Tak jauh dari goni-goni itu, tangan-tangan manusia tergantung pada tiang-tiang yang tertancap di tanah.

“Ada banyak goni lagi di sana” Agam menunjuk pada tumpukan goni, suaranya terdengar parau.

Agam menengadah ke langit. Wajahnya memerah. Suaranya tersedak. Ia berusaha menahan air mata. Tapi kemudian ia tersedu-sedu sambil memukul-mukul pasir. Dan suara tangisannya itu berubah menjadi seperti rintihan panjang yang kerap kudengar tiap tengah malam itu.

Aku membawa Agam berlari pulang, kaki Agam lemas. Lutut ku gemetar, sama seperti Agam aku menahan sesak. Kerongkonganku seperti tercekik. Dadaku sesak sekali. Air mata tak sanggup kutahan. Aku teringat ibu. Rimueng Daya ternyata benar-benar ada, mereka punya senjata. Senjata-senjata mereka yang membunuh ayah-ayah kami lalu memasukkannya ke dalam goni.

Aku teringat ibu. Setibanya di rumah, aku ingin menghambur ke dalam pelukan ibu. Isak tangisku tak sanggup ku tahan, aku ingin mendekap ibu.

Di depan kamar ibu, langkahku terhenti, lutut gemetar, aku benar-benar lemas, kerongkonganku tercekat, dadaku seperti tertikam berkali-kali. Aku tidak percaya dengan apa yang ku lihat, aku memperhatikan itu dengan hati yang hancur. Tangan itu berurat, menindih dan menggerayangi tubuh ibu di atas ranjang. Semakin lama semakin liar. Dan ketika lelaki itu berbalik, aku melihat seraut wajah yang membuatku nyaris pingsan.

“Kapten!” (*)

Catatan:

  • Cutkak, panggilan untuk kakak perempuan di Aceh
  • Makbit, bibi (adik ibu)
  • Rimueng, Harimau
  • Ambong, Keranjang yang terbuat dari anyaman rotan

Leave a comment