Hits: 20

Michael Sitorus

Pijar, Medan. Beberapa hari setelah banjir melanda Universitas Sumatera Utara (USU), kegiatan akademik yang awalnya dialihkan ke perkuliahan daring telah berangsur kembali normal. Walaupun begitu, terdapat beberapa penyesuaian yang masih dilakukan di tingkat fakultas, dengan mempertimbangkan kondisi cuaca dan sivitas akademik yang terdampak banjir.

Ayulita Ramadhani, selaku dosen program studi (prodi) Manajemen USU, menjelaskan bahwa kondisi perkuliahan pasca banjir telah berjalan kondusif, walaupun tetap masih dalam kondisi siaga.

“Beberapa pertemuan saya konversikan menjadi pembelajaran daring untuk memastikan keberlangsungan materi saat kondisi siaga. Jika diperlukan, penambahan sesi tatap muka akan dilakukan dengan menyesuaikan waktu kosong mahasiswa dan jadwal ruang yang tersedia,” jelasnya.

Dalam hal tersebut, koordinasi setiap prodi maupun fakultas, sudah relatif baik dalam menginformasikan kondisi ruang kelas dan memberikan fleksibilitas metode pembelajaran kepada dosen dan mahasiswa dalam memasuki waktu pelaksanaan ujian. Hal tersebut dilakukan juga sebagai cara untuk mengejar ketertinggalan perkuliahan, dengan menyesuaikan waktu kosong mahasiswa, beserta ruangan kelas yang tersedia.

Ayulita juga menambahkan, bahwa kondisi fasilitas penunjang perkuliahan di dalam kelas tidak ada yang mengalami kerusakan. Namun, terdapat beberapa kendala yang menyebabkan ketidakhadiran mahasiswa dalam kegiatan perkuliahan. Hal tersebut terjadi karena akses jalan menuju kampus yang masih belum stabil, transportasi umum yang masih terganggu, hingga pemulihan rumah mahasiswa yang terdampak banjir.

Kendala akses jalan tersebut, diperparah dengan kondisi lalu lintas yang ada di Kota Medan pasca banjir. Raynatio Hutauruk, mahasiswa prodi Teknik Industri USU, menjelaskan bahwa kepadatan lalu lintas belakangan ini terasa lebih padat.

“Kondisi perkuliahan saya rasa sedikit terhambat. Terlebih lagi pada saat perjalanan ke kampus, belakangan ini kebanyakan lalu lintas selalu padat di setiap waktu,” jelasnya.

Menurut Ayulita, pihak kampus sudah melakukan penanganan pasca banjir dengan baik, tetapi terdapat beberapa evaluasi yang saat ini telah menjadi kebutuhan mendesak sebagai mitigasi jangka panjang yang komprehensif.  Peningkatan yang dimaksud, seperti perbaikan sistem drainase untuk memastikan kemampuan USU menghadapi curah hujan yang lebih ekstrem.

Selain itu, ia juga menambahkan perlunya sistem peringatan dini atau alur komunikasi darurat saat curah hujan mencapai batas tertinggi, serta penyediaan fasilitas cadangan vital seperti Wi-Fi untuk menopang pembelajaran daring pasca banjir di kampus.

Sebagai penutup, Ayulita berpesan bahwa perlunya menciptakan mitigasi kebencanaan yang jelas bagi internal maupun eksternal kampus. Dalam hal tersebut, koordinasi antar fakultas, prodi, dan dosen juga diperlukan untuk mencegah kebingungan informasi, sebagai kunci penting dalam menghadapi kebencanaan di masa mendatang.

(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

Leave a comment