Hits: 61

Naomi Adisty

Pijar, Medan. Ratusan tahun hidup dan berkarya di Kota Medan ternyata tak membuat warga etnik Tamil telah bebas sepenuhnya dari diskriminasi.   

Misalnya yang terjadi pada seorang siswi etnik Tamil di suatu sekolah swasta. Gurunya menghukum bahkan memukul siswi tersebut karena ia tidak membawa kitab injil. Ia mengikuti tata peribadatan Kristiani, padahal ia beragama Hindu.

Umumnya murid-murid yang berbeda keyakinan hanya diam saja saat pelajaran agama dan tidak dipaksa untuk melakukan apapun. Itu saja sebetulnya sudah merupakan pengabaian atas hak-hak siswa. Namun, pemaksaan guru kepada murid berbeda keyakinan, apalagi sampai memberi sanksi, jauh lebih buruk.

Saat ini di sekolah-sekolah umum, warga etnik Tamil beragama Hindu masih jarang difasilitasi untuk mendapatkan guru agama. Hanya segelintir saja yang menyediakan fasilitas pengajar agama Hindu. Cerita miris itu didapati dari Khanna Thassen (33), Ketua Pemuda Hindu Sumatera Utara yang berdarah etnik Tamil. Organisasi yang dipimpin Khanna secara resmi telah mengajukan permohonan kepada instansi pemerintah terkait, tetapi tak kunjung mendapatkan tanggapan. Selain minim fasilitasi pendidikan agama, siswa etnis Tamil pun masih jarang mendapatkan beasiswa untuk melanjukan pendidikan ke perguruan tinggi negeri.

Khanna menyebutkan di Sei Semayang yang berada di pinggiran kota, ada sekitar  200 kepala keluarga etnik Tamil yang tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah, seperti dana Bantuan Langsung Tunai (BLT). Untuk urusan administratif pun, menurut Khanna, ada persoalan lambatnya pembuatan kartu keluarga dan KTP bagi warga etnis Tamil. Petugas kelurahan juga pernah meminta biaya administrasi, padahal seharusnya gratis.

“Warga etnis Tamil di perkotaan masih lebih diperhatikan dibandingkan yang tinggal di pinggir.” ujar Khanna.

Tergesernya Etnik Tamil dari Kampung Madras

Awal mulanya orang India memasuki Indonesia sekitar abad kedua dan ketiga dengan berlayar untuk mencari kehidupan baru hingga akhirnya terdampar di Aceh, wilayah tetangga Medan. Pertambahan warga etnis Tamil di Medan semakin pesat pada 1863, ketika pemerintah kolonial Belanda hendak memenuhi kebutuhan tenaga kerja dan perdagangan di perkebunan tembakau di Deli. Para pekerja etnik Tamil ini kemudian memutuskan menetap karena yang diperoleh dari berdagang rempah dan berkebun lebih menguntungkan secara ekonomi.

Lama-kelamaan, terbentuk Kampung Keling yang sekarang disebut Kampung Madras dan Kuil Shri Mariamman yang menandakan lahirnya kedatangan dan eksistensi etnik Tamil di Medan. Jika menyusuri lorong-lorong Kampung Madras, di kanan dan kirinya cukup padat dipenuhi rumah dan pertokoan, khas suasana kampung kota. Ingar bingar kesibukan perdagangan, pembeli keluar masuk toko, hingga tukang parkir yang mengatur kendaraan. Lalu lalang orang-orang berhidung mancung dan garis muka tegas khas tipikal wajah etnik Tamil menjadi pemandangan yang biasa.

Husein yang berusia 60 tahun sebagai tukang parkir di salah satu toko menceritakan pengalaman hidupnya lahir dan tumbuh besar lama di Kampung Madras, bahkan sampai dirinya menikah dan memeluk agama Islam.

“Saya tinggal di sini aman saja, tidak ada kerusuhan ataupun diskriminasi baik dari masyarakat maupun pemerintah. Sebab selama saya tinggal di sini, masyarakat yang tidak etnik Tamil masih tetap terbuka sama saya. Kalo dari pemerintah juga tidak ada dipersulit dan saya juga dapat bantuan,” sebut Husein dengan wajah tenang.

Hal senada juga disampaikan oleh seorang pemilik toko bunga India yang ditemui. “Selama saya berjualan dan tinggal di sini, tidak ada perbuatan dan hal diskriminasi yang saya rasakan. Secara kebudayaan sebagai etnik Tamil dan memeluk agama Hindu, saya masih menjalankannya dan datang juga ke Kuil Shri Mariamman,” ucap pria tersebut sembari menata bunga yang ada di hadapannya.

Namun, tak semua mengalami hal nyaman. Semakin banyak warga etnis Tamil justru mulai tergeser dari Kampung Madras.

“Tekanan ekonomi yang berasal dari perkembangan kota membuat warga etnis Tamil menjual tempat tinggal di Kampung Madras yang berada di tengah kota, lalu pindah ke wilayah lain yang memungkinkan mereka beternak dan berkebun.” jelas Kunasegren, staf yang bekerja di Kuil Shri Mariamman.

Kampung Kubur Ganti Nama

Selain Kampung Madras, ada juga area lain yang ditinggali warga etnis Tamil, yaitu Kampung Kubur yang kemudian berganti nama menjadi Kampung Sejahtera.

Selamat Datang di Kampung Sejahtera. Tulisan tersebut akan terlihat menyambut siapapun yang datang. Bila dilihat, jalan memasuki permukiman Kampung Sejahtera tergolong sempit seperti lorong. Sepanjang menuju ke permukiman terdapat mural yang menghiasi dinding. Lalu, saat mendongakkan kepala ada berupa gantungan yang terbuat dari pot bekas bercat bendera merah putih digantung melintang panjang.

Kampung Sejahtera yang berganti nama dari Kampung Kubur.
(Fotografer : Naomi Adisty)

Meskipun terletak di tengah Kota Medan, Kampung Sejahtera ini ukurannya lebih kecil daripada Kampung Madras. Bahkan jarak antar-rumah terbilang berdempetan, jalan berpapasan saja harus hati-hati agar tidak tersenggol.

Aminah, salah satu warga keturunan etnik Tamil di Kampung Sejahtera, bercerita tentang sejarah perubahan nama kampungnya. Dulu disebut Kampung Kubur karena di sana angka kriminalitas seperti perdagangan, penyalahgunaan narkoba, dan perjudian sangat tinggi, hingga terjadi penggerebekan besar-besaran dari kepolisian.

“Lalu ada perayaan gitulah sama walikota untuk ubah nama kampung ini. Dulu semasa di sini, saya takut juga karena sering ada orang pakai narkoba dan tengah malam itu berisik sampai sering penggerebekan tiba-tiba.” jelas Aminah dengan hati-hati. “Tetapi itu kebanyakan dari pendatang di luar etnik Tamil,” tambahnya.

Aminah menilai penggantian nama kampung tersebut adalah bentuk perhatian dari pemerintah. Selain itu pemerintah juga memperhatikan kebutuhan warga kampung, sehingga tingkat kriminalitas menurun. Aminah menyatakan nyaman tinggal di kampungnya dan tak merasakan diskiminasi.

Perbedaan pengalaman bisa terjadi di antara warga etnis Tamil yang tinggal di tengah kota dan di pinggiran. Warga yang tinggal di tengah kota cenderung menganggap tidak ada masalah, sedangkan yang di pinggir kota masih mengalami diskriminasi. Artinya, lokasi geografis pun dapat berpengaruh dalam terjadinya diskriminasi terhadap suatu kelompok. Adalah tanggung jawab kita bersama, pemerintah, kampus, LSM, dan elemen masyarakat lainnya untuk semakin membuka mata dan mengatasi persoalan diskriminasi yang dialami kelompok marginal di Medan.

***

Tulisan ini bagian dari program Workshop dan Story Grant Pers Mahasiswa yang digelar Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) atas dukungan Friedrich-Naumann-Stiftung für die Freiheit (FNF) dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

(Redaktur Tulisan: Laura Nadapdap)

Leave a comment