Hits: 31

Cindy Nathasya Silalahi

Pijar, Medan. Dalam rangka melacak keberadaan alumni, Universitas Sumatera Utara (USU) melakukan sebuah upaya nyata melalui kegiatan Tracer Study USU, yang termasuk ke dalam bagian dari Direktorat Prestasi Mahasiswa dan Hubungan Kealumnian (DITMAWALUMNI) USU.

Kegiatan Tracer Study USU telah diterapkan sejak tahun 2007 secara manual, yang disebarkan melalui berkas fotokopi kuesioner. Kemudian, pelaksanaannya beralih ke sistem daring sejak tahun 2009, untuk mempermudah pendataan dan pelacakan alumni.

Tracer Study merupakan sebuah survei yang bertujuan untuk menelusuri perjalanan karier alumni USU setelah menyelesaikan studinya. Melalui kegiatan ini, universitas berupaya untuk mendapatkan informasi terkait aktivitas bekerja para lulusan, kesesuaian pekerjaan dengan bidang studi, dan tingkat kepuasan alumni.

Sejalan dengan hal tersebut, Henny Febriana Harumy, selaku Manager Tracer Study USU, Kealumnian dan Kesejahteraan Mahasiswa, menyampaikan bahwa alasan terbentuknya Tracer Study USU berawal dari arahan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

“Pembuatan tracer study ini sendiri berasal dari arahan kementerian, di mana setiap universitas diminta untuk membuat sebuah survei berdasarkan instrumen dan pertanyaan yang telah disusun oleh kementerian itu sendiri,” ucapnya.

Henny juga menjelaskan bahwa tujuan pelaksanaan Tracer Study tidak hanya untuk melihat dan mengidentifikasi output atau luaran alumni setelah lulus, tetapi juga dimanfaatkan untuk penyempurnaan kurikulum dan penilaian kinerja universitas.

“Setiap tahunnya, universitas selalu dinilai dari Indeks Kinerja Utama (IKU) universitas, atau yang disebut dengan IKU 1. IKU 1 yang berkaitan dengan tracer study, yang berisikan lulusan yang dipakai pada dunia kerja. Kegunaan tracer study bukan hanya untuk kepentingan pemeringkatan universitas, tetapi juga bermanfaat bagi program studi. Melalui umpan balik dari alumni, universitas dapat mengetahui kesesuaian mata kuliah atau kurikulum yang diajarkan, serta relevansinya dengan kebutuhan industri,” jelasnya.

Ronal, selaku penangungg jawab Tracer Study USU, menyampaikan bahwa partisipasi alumni dalam pengisian kuesioner yang disebut dengan Response Rate telah mencapai target yang diharapkan. Namun, mereka masih berupaya untuk mencapai Golden Rate, yaitu standar nasional yang mencakup indikator jumlah alumni yang telah bekerja dalam waktu kurang dari enam bulan setelah lulus, berwirausaha, atau melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi.

“Saat ini, response rate sudah berada di angka sekitar 90 persen, tetapi golden rate masih perlu ditingkatkan sekitar 20 persen lagi dalam memenuhi target pada tahun ini. Hal ini disebabkan karena terdapat alumni yang enggan untuk mengisi ulang tracer study,” ungkapnya.

Jika sebelumnya alumni hanya mendapatkan sertifikat, kini USU memberikan kartu digital alumni yang didapatkan setelah pengisian survei tersebut. Hal tersebut diupayakan agar menumbuhkan kesadaran alumni untuk mengisi survei dan bentuk apreasiasi kepada alumni.

 (Redaktur Tulisan: Kelly Kidman Salim)

Leave a comment