Hits: 33
Lainatus Syifa Hasibuan
Cerita ini barangkali sederhana, tentang seorang gadis kecil yang hendak berbagi kisah tentang pahlawan hidupnya.
Ya, sosok itu adalah Ayah. Ayahku.
Ayah senantiasa menjadi sosok yang berdiri di barisan terdepan jika itu tentang aku. Setiap kali aku mendapat penghargaan kecil di sekolah, ia akan selalu tersenyum dan menepuk pundakku. “Ini baru anak Ayah!” kalimat pamungkasnya akan selalu lantang ia ucapkan sembari menatapku bangga.
Hingga aku beranjak dewasa, Ayah tetap menjadi sosok yang sama. Tatapan bangganya tidak hanya ia pancarkan ketika aku menang, pun ketika aku kalah.
“Ini baru anak Ayah! Kamu keren loh nak, usahamu tak pernah usai demi menjadi juara, bahkan senyummu tetap hadir meskipun kamu menjemput kalah,” ucapnya sambil memelukku.
Saat aku jatuh, ia bilang aku kuat karena masih bisa berdiri lagi. Ia tidak pernah menuntut aku sempurna. Ia hanya ingin aku tetap berjalan.
Aku ingat malam ketika aku pulang dengan nilai yang buruk. Langkahku sungguh berat untuk masuk ke dalam rumah. Aku takut Ayah kecewa, tetapi ia hanya menarik kursi dan duduk di sampingku.
“Nak, nilai bisa diperbaiki. Usahamu yang penting. Tuhan tidak menilai hasil, tapi bagaimana proses yang kamu jalani.”. kata Ayah dengan senyum kecil, senyum hangat andalannya.
Namun, hari itu datang lebih cepat dari yang kuduga. Ayah pergi setelah sempat sakit tiga hari sebelum kepergiannya. Aku tahu Tuhan menyayanginya lebih dari diriku yang hanya seorang Hamba. Maka aku menerima.
Rumah berubah jadi tempat yang sunyi. Tidak ada suara langkahnya di pagi hari. Tidak ada lagi yang berkata “Ini baru anak Ayah!” setiap kali aku mencoba melakukan hal kecil sekalipun.
Meski dadaku terus meneriakkan rasa menerima, namun rasanya tetap menyakitkan. Aku menjalani hari-hari tanpa sorakannya. Tanpa pelukannya. Tanpa suara yang selalu memberikan ruang bagi kegagalanku.
Tuhan, jika aku bisa bertemu Ayah sekali lagi, aku ingin sekali mendekapnya dan mendengar kembali suaranya. Aku takut sekali, karena semakin lama wajahnya terus kabur dalam ingatanku. Suaranya perlahan hilang, sampai aku lupa bagaimana ia bicara, tertawa, dan berbincang bersamaku.
Tuhan, jika ada jalan untuk menyampaikan pesan, sampaikan pada Ayah bahwa aku hanya seorang anak yang selalu merindukannya. Ayah, aku sekarang sudah menjadi mahasiswa, hal yang selalu kamu nantikan semasa hidupmu. Ayah, banyak sekali pencapaian yang ingin kutunjukkan dan mengharap kalimat yang selalu Ayah ucapkan kepadaku.
Ayah, aku akan terus berusaha membuatmu bangga. Aku akan mencoba melakukan hal-hal yang dulu kau lakukan dengan tabah. Jika engkau kini berada di sisi Tuhan, semoga kamu bahagia. Dan semoga, dengan senyum bangga kamu berkata,
“Tuhan, itulah anakku.”

