Hits: 12

Najla Khairani

“Sreng! Sreng!” Suara nyaring yang setiap pagi keluar dari dapur rumahku seketika membangunkanku dari tidur lelapku. Badanku tergerak untuk bangun dari tempat tidur seraya mengambil ikat rambut di sebelah bantalku.

“Kenapa cepat sekali sudah masak, Mak? Masih jam 4, loh…” Dahiku mengerut tanda heran dengan penampakan yang ada di depanku sekarang. Mamakku duduk di dingklik sembari mengupas bawang.

“Oh, Mamak pengen bikin ‘Upah-Upah’ untuk Ibumu. Tuh, kan, lupa,” kata Mamak menyadari raut mukaku yang semakin heran karena ucapannya, “kan pagi ini Bundemu pulang naik haji, Nay!” tambahnya sambil melihat ke arahku. Ingatan sebulan lalu terbayang di kepalaku. Kesal.

Loh, Mamak tahu dari mana? Memangnya Bunde ada menelepon?” tanyaku masih sabar menungggu jawaban Mamak.

“Belum ada, Mamak lihat di berita televisi, Nay,” jawab Mamak membuatku geram.

“Ck! Ngapain lagi, sih, Mak peduli sama orang seperti itu! Biarin ajalah,” tanpa sadar, suaraku sedikit meninggi membuat Mamak melihat ke aku dengan ekspresi yang hampir sama sepertiku. Geram.

“Mamak udah bosan, ya, Nay dengar ucapan kau itu. Bundemu itu adik kandung Mamak. Seperti air dicincang, sampai kapanpun nggak akan pernah putus. Itulah saudara kandung. Nanti kau bakal rasain seperti itu juga,” balas Mamak dengan tatapan intens membuatku langsung ciut. Buru-buru aku mengalihkan perhatian ke bawang di depan mataku. Tanpa berlama-lama, aku ikut membantu Mamak mengupas bawang.

Jujur saja, aku masih setengah rela membantu Mamak. Bayangkan, saat akan pergi ke Asrama Haji, bundeku sama sekali tidak mau diantar oleh kami. Padahal, calon jemaah lain akan berbondong-bondong keluarganya mengantarkan dan mengucap salam perpisahan hingga mengadakan acara walimatus safar, yaitu berkumpul untuk meminta doa kepada keluarga agar dapat menunaikan ibadah haji dengan baik dan kembali ke tanah air dengan selamat.

Kemudian saat akan pergi ke Asrama Haji, berbeda 360 derajat dengan Bundeku yang memang ternotabene sebagai ‘anti sosial’ di kampung kami. Teringat lagi aku kepada ingatan pendek sebulan lalu yang membuatku semakin kesal sekarang.

“Dek, nanti kami antar kau ke asrama, naik mobil si Naya aja kita, ya,” kata Mamak semangat mengajak Bunde bahkan di satu minggu sebelum beliau berangkat haji. Mamak sangat berharap persetujuan bundeku, walaupun semua orang tahu bahwa dia tidak akan mau.

“Nggak maulah, nggak usah terlalu heboh. Aku bisa pergi sendiri, ngapain ramai-ramai?” sahut Bunde tegas. Mendengar hal itu, mamakku hanya memasang senyum simpul di wajahnya seperti biasa.

“Ah, mungkin aku bisa membujuknya lagi besok,” batin Mamak yang sudah kuketahui tanpa diberitahukannya. Padahal hasilnya akan sama saja. Nihil. Bahkan, sampai di hari keberangkatan, Mamak masih sempat membujuk Bunde beberapa kali. Bunde tidak pernah berubah semenjak dulu. Kenapa bisa Mamakku masih berniat seperti ini lagi? Apa nggak takut ditolak mentah-mentah lagi? Kalau aku jadi Mamak, bakalan malas berusaha untuk orang menyebalkan seperti Bunde, sampai-sampai membuat ‘Upah-Upah’ untuknya.

Setelah hidangan ‘Upah-Upah’ sudah selesai, kami segera mendatangi rumah Bunde yang kebetulan bersebelahan dengan rumah kami dan mempersiapkan hidangan bersama anaknya yang juga sudah siap menyambut kedatangan Bundeku.

“Itu Mamak udah pulaaang!” seru abang sepupuku dari teras rumahnya seraya menyalam tangan Bundeku. Aku dan Mamak juga ikut bersalaman dengan Bunde yang juga menyapa. Saat akan duduk bersama, beliau kaget saat melihat penampakan di depannya. Mamakku memegang talam ‘Upah-Upah’ yang diserahkannya kepada Bundeku.

“Ngapain, sih, buat begini? Aku kan nggak pernah minta ini, nggak usah terlalu heboh kalilah,”  suara Bundeku meninggi seketika. Aku mendapati Mamak tengah kaget begitu diserang oleh ucapan Bundeku. Tidak terkecuali aku dan sepupuku yang kaget mendengarnya.

“Ya Allah, asal kau tau, ya! Zaman sekarang, masih ada satu orang yang peduli sama kita aja udah syukur. Konon, kau yang nggak punya teman sama sekali di kampung ini? Kami cuma keluarga kau aja, itu juga nggak bisa kau hargai sedikitpun?” emosi Mamak meluap masih memegang talam ‘Upah-Upah’.  Suaranya bergetar di akhir, pertanda hatinya tegores.

Kini, mataku tertuju penuh kepada Bunde yang sudah berlinang air mata di sana. Pemandangan tak biasa dari Bunde yang biasanya selalu memasang muka ketat.

“B-Bukan gitu maksudku, aku paham Kakak capek dan kerepotan karenaku…” ucap Bunde sambil sesenggukan menatap penuh harap kepada Kakaknya.

“Bahkan, sekalipun nggak ada kau hubungi aku selama di sana. Mirisnya, nomorku juga nggak kau angkat sama sekali. Bayangkan, satu-satunya adikku yang biasa kuurus pergi jauh,” sahut Mamak mengungkit kesalahan Bunde.

“Aku minta maaf kalau udah buat Kakak sakit hati. Kalau aku beritahu kabarku, pasti kakak akan heboh bikin acara meriah untukku. Aku nggak mau, Kak!” jawab Bunde lantang membuat Mamak terdiam sesaat.

“Ini untukmu karena udah kuat sampai ke mari, bukan karena kau yang harus minta dulu.” Kulihat Bunde berkaca-kaca di sana.

“Kak, semenjak Mamak nggak ada, Kakak udah capek urus semua hal, selayaknya orang tuaku. A-Aku nggak mau lagi membebani Kakak sama masalah-masalahku yang banyak ini. Aku bisa urus semuanya sendiri aja. Maafkan aku, Kak. Memang keterlaluan aku sudah kesal tadi. Aku hanya berpikir Kakak pasti akan memaklumiku seperti biasanya. Aku selalu senang diperlakukan seperti ini. Melihat Kakak, aku teringat akan sosok Mamak dulu,” ucap Bunde sambil terbata-bata dibalik isakan tangisnya.

“Senang rasanya lihat kau udah sampai rumah dengan selamat. Aku udah diamanahkan Mamak untuk jaga kau, Dek. Jadi, sudah sepatutnya aku seperti itu. Kuharap kau doakan Mamak kita di sana, kan?”

“Selalu dan di manapun, Kak…”

Bersamaan dengan itu, Mamak segera meletakkan talam ke atas meja makan, buru-buru memeluk erat Bundeku yang masih pas dengan baju serba putihnya.

Tangis mereka pecah hingga membuat pasang mata yang menyaksikannya panas dan akan berlinang air mata. Bukan hanya air mataku yang sukarela mengalir dalam suasana haru tersebut, kedua tanganku dengan lihai memeluk dua sosok emosional itu. Dari sudut mata, kulihat sepupuku mulai menyembunyikan wajahnya dengan sebelah tangan. Tanda bahwa semua ikut merayakan hari penuh takjub ini. Hari ini juga, kulihat sisi berbeda dari keduanya. Lara pecah dalam sua.

Leave a comment