Hits: 32

Siti Farrah Aini

Pijar, Medan. Seluruh masyarakat dunia tentu menggunakan media sosial secara aktif. Bukan sekadar penyedia hiburan, kini media sosial menjelma menjadi media multifungsi yang dapat digunakan sebagai alat komunikasi lintas kepentingan. Salah satunya ialah menjadi wadah bagi industri media untuk melancarkan ragam informasi. Tingginya arus informasi yang diiringi penggunaan media sosial secara masif ini menghasilkan sebuah fenomena bernama Incidental News Exposure (INE) yang juga disebut dengan paparan berita secara tidak sengaja (insidental).

Melansir dari goodstats.id, laporan oleh We Are Social menunjukkan bahwa pengguna internet global mencapai rata-rata 426 menit per minggu, untuk bermain media sosial pada kuartal I tahun 2025. Jumlah pengguna media sosial turut mengalami peningkatan dengan 241 juta pengguna baru dibandingkan tahun sebelumnya. Alhasil, penggunanya telah mencapai 5,41 miliar di seluruh dunia per Juni 2025. Data tersebut menunjukkan bahwa paparan berita insidental menjadi fenomena yang “masuk akal” untuk terjadi.

Paparan berita insidental bukanlah sebuah istilah baru, melainkan telah diamati dalam penelitian oleh Boczkowski, Mitchelstein & Matassi (2017). Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa paparan berita insidental lahir sebagai implikasi dari tingginya ketenaran media sosial di kalangan masyarakat.

Penelitian yang dilakukan oleh Realita & Setiadi (2022), memaparkan bahwa berita insidental muncul sebagai hasil dari kinerja sistem algoritma yang ada pada media sosial. Algoritma bekerja berdasarkan preferensi pengguna, dengan cara terus menerus mencari dan menampillkan konten yang relevan. Preferensi ini dinilai dari segala faktor, salah satunya ialah keterlibatan pengguna melalui tombol suka, komentar, berbagi, dan bagikan ulang.

Algoritma ikut memengaruhi bagaimana berita yang ditampilkan di tampilan media sosial pengguna. Berita yang sensasional dan emosional akan lebih banyak ditampilkan karena tingginya interaksi pada konten sejenis. Bahkan, berita yang dihadirkan dapat langsung terhubung dengan tautan pada situs internet. Maka, paparan berita insidental adalah fenomena di mana pengguna terpapar berita melalui platform atau media sosial tanpa secara sengaja mencari berita. Misalnya, ketika sedang menggulir laman Instagram, muncul video kebijakan politik terbaru di Indonesia.

Fenomena ini melahirkan sebuah pemikiran baru, berupa News Find Me Perception di mana audiens tidak perlu mencari berita secara aktif karena berita-berita tersebut akan otomatis muncul. Dalam artian sederhana, berita akan “menemukan” audiens begitu saja tanpa perlu mencarinya.  Hal ini diperkuat dengan penelitian oleh Park & Kaye (2020), bahwa semakin sering seseorang terpapar berita insidental, semakin besar anggapan bahwa berita-berita penting dapat menemukan “jalan sendiri” kepada audiens di media sosial.

Para peneliti memiliki penafsiran yang berbeda terhadap efek dari fenomena ini. Beberapa peneliti menyatakan bahwa pengguna yang mengalami paparan berita insidental akan memiliki keterlibatan terhadap pemberitaan yang setara, dengan pengguna yang mencari berita secara aktif. Muncul tanpa pencarian langsung dan terhubung dengan tautan pada situs internet membuat pengaksesan berita oleh masyarakat menjadi lebih efisien.

Meski begitu, paparan berita insidental dapat mendistraksi kenyamanan dari pengguna. Jika kamu berselancar di media sosial untuk mencari konten hiburan, tetapi berita-berita terus bermunculan di sela-sela konten tersebut, apa yang akan kamu rasakan? Bagi banyak kalangan, paparan berita insidental berpotensi menimbulkan kejenuhan dan kelelahan mental akibat banjirnya informasi yang terus menerus didapatkan.

Hal ini memunculkan istilah News Avoidance, yakni perilaku seseorang yang memilih untuk menghindari berita secara sengaja. Paparan berita insidental dapat mengakibatkan News Avoidance sehingga pengguna akan melewatkan, bahkan menghindari konten-konten pemberitaan. Dalam tahap ini, pengguna beralih kepada konten non pemberitaan. Namun, hal ini tidak selamanya positif bagi pengguna. Penghindaran secara sengaja dapat membuat minimnya pengetahuan audiens terhadap isu politik, sosial, dan aspek lainnya yang biasa dihadirkan lewat pemberitaan.

Lantas, apakah paparan berita insidental merupakan sebuah fenomena yang positif atau negatif? Jawabannya terletak pada keputusan pengguna.

Paparan berita insidental tidak dapat terelakkan selama kemasifan penggunaan media sosial terjadi. Hal yang tepat untuk menghadapi fenomena ini ialah melakukan pembatasan waktu untuk menggunakan media sosial. Hindari menghabiskan waktu untuk menggulir layar dalam waktu yang lama dan berlebihan, sehingga potensi paparan berita insidental juga dapat menurun. Namun, pembatasan yang dilakukan juga harus disesuaikan sehingga tetap mendapatkan sisi edukasi dan mempersepsi berita sebagai sumber informasi, bukan sesuatu yang harus dihindari.

(Redaktur Tulisan: Kelly Kidman Salim)

Leave a comment