Hits: 20
Ruth Syahputri Situmorang
Pijar, Medan. Koalisi Cek Fakta bersama Information and Communication Technology (ICT) Watch resmi meluncurkan Galifakta, sebuah aplikasi berbasis kecerdasan buatan yang dirancang untuk membantu publik memverifikasi informasi dengan cepat dan mudah. Peluncuran dilakukan melalui laman Instagram resmi @aji.indonesia serta dapat diakses publik melalui tautan s.id/galifakta.
Dikembangkan menggunakan teknologi Canvas Google Gemini, kehadiran Galifakta menjadi respons atas pesatnya perkembangan kecerdasan buatan yang tidak hanya mempercepat analisis data dan proses verifikasi. Namun, berpotensi juga dalam memperluas penyebaran misinformasi apabila tidak digunakan secara etis.
Kolaborasi ini melibatkan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), ICT Watch, serta 102 media daring.
Koordinator Koalisi Cek Fakta, Adi Marsiela, menegaskan bahwa aplikasi ini dikembangkan untuk memperkuat ekosistem pemeriksaan fakta di Indonesia.
“Sebenarnya kita ingin lebih menghargai kinerja teman-teman pemeriksa fakta, baik dari media maupun independen. Dengan layanan Galifakta yang dapat diakses di s.id/galifakta, ini akan menambah koleksi verifikasi dan membantu memperlambat perpindahan informasi bohong dari satu platform ke platform lain,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa hasil pemeriksaan dari aplikasi Galifakta dapat langsung dibagikan ke grup percakapan, yang selama ini menjadi salah satu ruang paling rawan penyebaran hoaks.
Perwakilan ICT Watch, Direktur Eksekutif ICT Watch, Indriyatno Banyumurti dalam diskusi, bertajuk “Tantangan dan Peluang Pemanfaatan dalam Pemeriksaan Fakta”, menyampaikan bahwa aplikasi ini lahir dari kebutuhan masyarakat yang masih kesulitan memastikan validitas informasi.
“Selama ini kami merujuk pada berbagai platform cek fakta yang sudah ada. Dengan perkembangan AI, kami melihat peluang untuk memperkaya dan melengkapi upaya tersebut melalui tools yang mudah digunakan masyarakat,” jelasnya.
Setiap pencarian di Galifakta akan menampilkan tautan langsung menuju konten pemeriksaan fakta asli. Hasilnya juga dapat dibagikan melalui WhatsApp sehingga mempermudah publik dalam mengedukasi lingkungan sekitarnya. Di tengah derasnya arus informasi, peluncuran Galifakta menjadi pengingat bahwa masyarakat perlu selalu melakukan pengecekan fakta. Dengan hadirnya aplikasi ini, proses verifikasi kini semakin cepat, mudah, dan dapat diakses siapa saja.
Indriyatno berharap Galifakta mampu memperluas distribusi klarifikasi fakta yang selama ini masih lebih rendah dibandingkan penyebaran hoaks.
“Ini bukan akhir, tetapi milestone untuk memperkuat kolaborasi dan literasi digital masyarakat,” tutupnya.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

