Hits: 29

Dhea Chintya

Pijar, Medan. Menyoroti tema tentang perbedaan agama dan budaya dalam lingkup keluarga, film Wei hadir dalam bentuk film pendek. Berdurasi 21 menit, dengan pemeran utamanya diisi oleh Hengky Solaiman dan Dayu Wijanto, film ini mengisahkan tentang satu keluarga yang di dalamnya terdapat ayah dan anak perempuan yang kian tidak pernah lagi berinteraksi.

Dimulai dari adegan yang mengarahkan suara langkah kaki yang perlahan terdengar di sebuah rumah makan babi Tionghoa sederhana, bernama Bak Kut Teh. Terlihat seorang pria paruh baya, Li, dengan kehidupannya yang hanya sibuk memasak untuk restorannya. Selain itu, terdapat seorang perempuan berkerudung, kerap datang ke restoran Bak Kut Teh tersebut sambil membawa tumpukan bekal.

Ternyata perempuan itu adalah anak dari Li, pemilik rumah makan Bak Kut Teh. Mei, seorang perempuan muda Tionghoa yang telah mualaf. Setelah adanya perbedaan tersebut, Mei tidak bisa mengonsumsi daging babi, sehingga jarak di antara keduanya semakin nyata.

Alur dari cerita ini tidak menjurus ke pertengkaran atau menggundahkan. Justru, skenario ini disutradarai dengan minimnya dialog. Setiap adegan digambarkan dengan adegan yang penuh makna dan emosional, seperti berfokus pada gestur, tatapan, dan gerakan yang mampu berbicara lebih keras daripada kata-kata.

Walaupun Mei sudah tidak dekat dengan ayahnya, tetapi ia tetap ingin mempertahankan hubungan kekeluargaan dengan ayahnya. Ia berusaha untuk mencoba berinteraksi dan memperbaiki konflik dengan ayahnya, melalui usahanya dalam mengantarkan bekal setiap hari untuk sang ayah. Namun, jangankan dimakan, bekal yang dibawakan Mei disentuh juga tidak pernah.

Walaupun begitu, sang ayah memperlihatkan bentuk pengikhlasannya kepada anaknya. Hal tersebut terlihat ketika sang ayah mengirimkan opor ayam saat menjelang Idul Fitri. Sebuah metafora manis atas pengampunan dan penerimaan perbedaan bersemayam.

Mengambil tema keluarga dengan konflik lintas agama, film Wei justru menyoroti konflik tersebut dilakukan tanpa adanya penghakiman dan paksaan. Menceritakan tentang dua manusia yang sedang belajar untuk saling memahami atas perbedaan budaya dan iman. Pesan dari film ini tentu sangat tersampaikan dan relevan, yaitu toleransi.

Konsep sinematografi yang intim dan kontemplatif juga menjadi keunggulan utama dalam film Wei. Pengambilan kamera yang menyorot ke detail-detail kecil, seperti kesendirian Li saat makan malam yang penuh kekosongan, air mata yang tertahan, dan tangan yang bergetar. Semua menggambarkan suasana batin Li tanpa perlu penjelasan verbal.

Selain itu, pemilihan palet warna dari film juga dominan hangat, dengan dominasi nuansa cokelat dan oranye. Pengambilan gambar di setiap sudut, pencahayaan, dan pergerakan kamera ditempatkan secara statis. Cahaya hangat menyoroti Mei seolah menegaskan keteguhan dan kesedihan yang dipendamnya. Film Wei berhasil menggunakan bahasa visual sebagai alat utama untuk menyampaikan makna tanpa harus bergantung pada kata-kata.

Sebagai karya mahasiswa Institut Kesenian Jakarta, film Wei perlu diapresiasi atas keberaniannya mengangkat tema yang sensitif dengan pendekatan yang reflektif. Perbedaan keyakinan tidak selalu berarti kehilangan cinta, sebab kasih yang tulus mampu menembus batas apa pun.

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment