Hits: 6

Najla Khairani

Pijar, Medan. Women from Rote Island sudah tersohor sejak tahun 2023 lalu, tetapi penanyangannya di bioskop tanah air baru dimulai pada 22 Februari 2024. Mengangkat genre drama thriller yang berasal dari kejadian nyata, film ini berkisah tentang maraknya kasus kekerasan seksual pada perempuan yang masih terjadi hingga saat ini di bumi pertiwi, terutama di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menariknya, seluruh pemeran dalam film ini berasal dari NTT, termasuk Merlinda Dessy Adoe (Orpha), Irma Novita Rihi (Martha), Bani Sallum Ratu Ke (Bertha), Van Jhoov (Damar), serta Willyam Wolfgang (Ezra). Tidak heran, Jeremias Nyangoen selaku penggarap sekaligus sutradara ingin agar dialek khas Rote tertangkap dalam film ini.

Pemenang dalam nominasi Film Cerita Panjang Terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) ini mengajak penontonnya untuk mengikuti perjalanan kisah keluarga Mama Orpha. Ia baru saja kehilangan suaminya yang berjuang untuk mendapatkan keadilan bagi anaknya yang mengalami kekerasan seksual. Putri sulungnya, Martha, mengalami kekerasan seksual saat bekerja di Malaysia hingga membuatnya depresi dan seringkali histeris.

Perjuangan Perempuan Menghadapi Kekerasan Seksual Berlatar Pulau Rote - www.mediapijar.com
Salah satu scene dimana Orpha menangis pilu atas penderitaan anaknya, Martha
(Sumber Foto: tempo.co)

Di masa lalu, Orpha juga memiliki seorang anak bernama Bertha yang mengalami kekerasan seksual pada saat di bangku SMA. Nahas, ia kemudian diculik dan dimutilasi oleh laki-laki misterius. Kondisi tersebut membuat Orpha menyesal karena tidak bisa menjaga anak-anaknya sebaik mungkin.

“Kita semua lahir dari kelamin yang berdarah,” adalah salah satu kutipan dialog Orpha. Perkataan yang beberapa kali muncul pada film ini menjurus kepada perjuangan perempuan sebagai sosok yang melahirkan muda-mudi ke dunia ini. Mengandung selama sembilan bulan, melewati proses melahirkan yang menyakitkan, hingga merawat sang anak semasa hidupnya. Sayangnya, perempuan seringkali dipandang rendah. Mereka begitu rentan menjadi korban kekerasan seksual disalahkan atas kejahatan yang menimpanya.

Inilah salah satu isu yang disorot pada Women from Rote Island, ketika seorang korban kekerasan seksual dihukum dan disalahkan atas kejahatan yang menimpanya. Kaki Martha terpaksa dipasung dengan rantai seusai mencoba melawan seorang pemuda kampung yang hendak memerkosanya. Bahkan, Martha beberapa kali mengalami kekerasan seksual saat dipasung.

Hal serupa juga terjadi pada Orpha yang mengalami pelecehan saat berbelanja di pasar. Ia justru disalahkan oleh keluarganya yang menganggap kejadian ini adalah karma bagi Orpha, karena telah melawan adat istiadat usai pergi ke luar rumah sebelum suaminya dimakamkan.

Jeremias juga menyajikan realita keadaan sistem hukum, kondisi sosial, dan budaya Indonesia yang masih menjadi penghambat bagi para korban kekerasan seksual untuk meraih keadilan dalam takhta masyarakat dan negara. Berbicara soal masyarakat, tim produksi tidak lupa menyorot keindahan alam Pulau Rote, mulai dari bukit hingga pantai dengan langit biru yang memesona.

Belum lagi adat dan kebudayaan masyarakat Pulau Rote yang masih lekat dengan agama Kristen sebagai agama mayoritas di sana. Tari Kebalai sebagai tarian khas Pulau Rote yang memukau, ditampilkan para penduduk saat menghibur Orpha selepas suaminya meninggal. Aktivitas di dalam rumah panggung yang kebanyakan masih terbuat dari kayu dan bambu, serta keberadaan kain tenun beragam corak dalam film ini melambangkan kesederhanaan masyarakatnya.

Sayangnya, film yang berdurasi sekitar 1 jam 48 menit ini hanya bisa disaksikan oleh penonton berusia 17 tahun ke atas. Pasalnya, terdapat beberapa adegan yang mungkin bisa membuat penonton sedikit merasa tidak nyaman.

Anda tentu dapat membayangkan pilu seorang korban kekerasan seksual apabila kasus ini terus berlanjut di Nusantara. Maka dari itu, pesan penghentian kekerasan seksual yang diusung seharusnya bisa sampai kepada penonton yang menyaksikannya. Dengan harapan masalah patriarki yang mengakar dan pelecehan seksual, terkhusus kepada tenaga kerja Indonesia (TKI), dapat berhenti.

(Redaktur Tulisan: Marcheline Darmawan)

Leave a comment