Yasmin Nabilah F

Penulis                         : Fiersa Besari

Penyunting                  : Juliagar R.N

Penyunting akhir       : Agus Wahadyo

Foto                               : Fiersa Besari

Penata letak                 : Didit Sasono

Desain cover                : Budi Setiawan

Penerbit                        : Mediakita

Cetakan                        : Pertama, 2016

Jumlah hal                   : 212 halaman

ISBN                              : 978-979-794-525-1

“Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang yang mengubah hidupmu untuk selamanya.

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau terluka dan kehilangan pegangan.

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau ingin melompat mundur pada titik-titik kenangan tertentu.

Maka, ikhlaskan saja kalau begitu.

Karena sesungguhnya, yang lebih menyakitkan dari melepaskan sesuatu adalah berpegangan pada sesuatu yang menyakitimu secara perlahan.”

Garis waktu merupakan hasil karya yang ditulis oleh Fiersa Besari atau kerap disapa Bung. Buku ini menggambarkan bagaimana seseorang menjalani fase-fase kehidupan yang sebagian besar orang lain pernah mengalaminya. Namun, ketika membaca buku ini akan ada hikmah ataupun suatu pelajaran hidup yang penting disetiap kejadian di buku ini. Belajar mengikhlaskan apa yang harus dilepaskan dan belajar menerima semua kenyataan yang ada.

Hasil karya milik Bung tersebut bisa dikatakan dalam bentuk prosa liris, karena tulisan dalam buku ini merupakan ungkapan-ungkapan yang menggunakan unsur-unsur puisi. Penulis mampu menampilkan kekuatan diksi dalam karyanya. Mengapa? Karena dalam karyanya ini mempunyai makna kehidupan yang tersirat dan mampu mengajak para pembaca untuk membangun sendiri adegan demi adegan di tiap bab berdasarkan apa yang dituangkan Bung ke dalam buku ini.

“‘Perasaan’ laksana hujan: tak datang dengan maksud yang jahat. Keadaan dan waktulah yang membuat kita membenci kedatangannya.”

Hal yang membuat menarik adalah gambar hitam putih yang mengawali setiap bab didalamnya dan diakhiri dengan puisi yang sangat puitis. Gambar di dalamnya terkadang ada yang terlalu gelap dan ada juga yang terlihat kabur, bisa jadi Bung sendiri sengaja meletakkan gambar tersebut untuk memperkuat pesan yang tersirat mengenai emosi yang ingin disampaikan untuk para pembaca setianya.

“Hatimu bukan untuk kucuri, melainkan untuk kuminta baik-baik.”

Jika kalian membaca bab “Mengenai Garis Waktu”, disana Bung ada menyatakan bahwasanya buku ini merupakan kumpulan seluruh karya yang sempat berserakan, yang kemudian disusun menjadi rangkaian sebuah cerita yang bersatu. Bung memilih judul “Garis Waktu” ini karena mampu mempresentasikan titik-titik peristiwa penting sang “Aku” dengan “Kamu” yang bermula dari masa perkenalan, kasmaran, patah hati, hingga pengikhlasan, yang tersusun secara kronologis berdasarkan bulan dan tahun. Buku ini merangkum semua peristiwa, semua rasa atas tokoh “Aku”.

Buku ini bisa menjadi referensi bacaan untuk khalayak muda yang suka akan karya-karya sastra. Selamat membaca…

Leave a comment