Septrian Tarigan / Indah Ramadhanti

Pijar, Medan. Kematian adalah hal yang pasti terjadi dan akan dilalui oleh setiap makhluk hidup di dunia. Jika telah digariskan waktunya, siapapun, dimanapun, dan kapanpun kematian tetap akan datang menjemput kita. 

Markus Zusak mengemas sebuah novel luar biasa yang menceritakan tentang kematian yang dilalui oleh seorang anak kecil. Kisah yang diawali dengan latar Perang Dunia II di Jerman ini, memberikan kesan yang sangat menarik sekaligus cerita yang mencekam.

Liesel Meminger, seorang gadis cilik yang akan diberikan kepada orang tua asuh oleh ibunya, harus mengalami pengalaman pahit karena adik laki-lakinya meninggal dalam perjalanan menuju Molching, sebuah kota di Jerman. Saat menguburkan adiknya, dia menemukan buku yang jatuh dari seorang penggali kubur, dan mengambilnya. Sejak saat itu, ia dijuluki sebagai seorang Pencuri Buku (Book Thief).

Liesel tinggal di rumah orang tua angkatnya, Hans dan Rosa Hubermann, dikarenakan orang tuanya memiliki paham komunis dan ditangkap oleh Nazi. Kedatangan Liesel menarik perhatian Rudy Steiner, seorang anak laki – laki yang tinggal di dekat rumahnya. Mereka sering menghabiskan waktu bersama sepulang sekolah dengan bermain bola.

Di sekolah, Liesel termasuk anak yang telat membaca dan menulis. Karena hal itu, ia sering diejek oleh teman-temannya. Namun, ia tidak patah semangat. Ia menumbuhkan tekad yang kuat dalam dirinya untuk belajar membaca dan menulis.  

Di tengah situasi Jerman pada saat itu, dimana kekuasaan Hitler mulai merambah ke seluruh Jerman, Liesel menjadikan buku sebagai senjata pribadinya. Dalam situasi apapun, Liesel selalu larut dengan bukunya seolah-olah ia menciptakan benteng tak kasat mata dan tidak boleh ada yang melewatinya. Karena kegemarannya membaca buku, Liesel menarik perhatian Ilsa Hermann, seorang wanita kaya pengguna jasa mencuci ibunya, dan mengizinkan Liesel untuk menjadikan perpustakaan yang ada di rumahnya sebagai tempatnya bermain.

Novel karya Markus Zusak diceritakan melalui sudut pandang Malaikat Maut (Death), dimana ia menceritakan kisah Liesel yang sudah berkali-kali berselisih jalan dengannya. Sejak saat itu, sang Malaikat Maut turut menyimak kehidupan Liesel Meminger, si Pencuri Buku.

Buku ini mengajarkan banyak pelajaran yang berharga bagi pembacanya. Mulai dari tekad Liesel untuk belajar, hingga tekadnya yang kuat untuk bertahan hidup meski dengan suasana dunia yang berantakan. Kisah yang diceritakan sangat menyentuh jiwa, inspiratif, dan menggugah emosi para pembacanya. Markus Zusak mengajak pembaca untuk selalu menumbuhkan semangat dan perjuangan dalam hidup. Dari Liesel, pembaca belajar untuk menghadapi setiap masalah yang menerjang, terus menjalani hidup, hingga menggapai impian yang diinginkan. 

The Book Thief sendiri diterbitkan pada tahun 2005 dan menjadi International Best Seller yang diterjemahkan ke 63 bahasa. Buku ini juga diadaptasi menjadi film dengan judul yang sama pada tahun 2013. Dengan disuguhkan ilustrasi yang apik di setiap babnya, buku ini berhasil terjual sebanyak 16 juta salinan di seluruh dunia.

(Editor: Lolita Wardah)

Leave a comment