Hits: 51
Alya Rizky / Alya Amanda
Pijar, Medan. “Berhak kok perempuan itu berdaya, bukan hanya di rumah, tetapi juga di luar. Bahkan bisa memberdayakan orang lain,” ucap Nicky Clara.
Tidak setiap orang mengartikan suatu keterbatasan sebagai tanda untuk berhenti melangkah. Ada yang justru menjadikan keterbatasan tersebut menjadi alasan untuk membuka jalan bagi orang lain agar bisa berjalan bersama. Dari keyakinan itu, lahirlah sebuah ekosistem pemberdayaan yang menolak meninggalkan siapa pun di belakang, bernama Setara Berdaya Group.
Sosok di balik lahirnya ekosistem pemberdayaan ini adalah Nicky Clara, seorang perempuan yang sejak kecil hidup dengan keterbatasan fisik dengan menggunakan kaki prostetik. Alih-alih membatasi langkahnya, keterbatasan tersebut justru menjadi sumber kekuatan yang mendorongnya untuk bergerak di dunia sosial.
Nicky juga melihat bagaimana teman-teman penyandang disabilitas masih menghadapi dinding tidak kasat mata, seperti dalam akses pendidikan, peluang kerja, maupun dukungan sosial.
“Pemicunya adalah karena saya merasa teman-teman penyandang disabilitas, perempuan, dan pemuda belum mendapatkan kesempatan yang sama seperti apa yang sudah saya dapatkan,” ujarnya.
Titik balik itu dimulai pada tahun 2017, ketika Nicky bertemu Pratiwi Hamdhana, pendiri awal Tenoon. Dari pertemuan itu, lahir diskusi panjang tentang bagaimana menciptakan ruang bagi perempuan disabilitas dan anak muda untuk berdaya melalui karya.
Sejak saat itu, Tenoon tidak lagi sekadar bisnis tenun, melainkan medium pemberdayaan. Berbagai inisiatif lain kemudian lahir, seperti Berdaya Bareng (2018), Seraya (2020), dan Alunjiva (2022) yang akhirnya dikumpulkan di bawah payung resmi Setara Berdaya Group pada 2023.
Setara Berdaya Group berdiri dengan visi besar, yaitu mengubah stigma menjadi peluang. Nicky percaya, pemberdayaan ekonomi adalah pintu masuk yang paling nyata untuk mematahkan pandangan keliru terhadap kelompok rentan.
“Stigma itu pasti ada. Namun, lewat pemberdayaan ekonomi, masyarakat akan melihat bahwa teman-teman disabilitas bisa berdaya. Berhak kok perempuan itu berdaya, bukan hanya di rumah, tetapi juga di luar. Bahkan bisa memberdayakan orang lain,” tuturnya.
Meski sering menjadi wajah dari Setara Berdaya, Nicky menolak disebut sebagai pusat dari segala perubahan. Ia melihat perannya lebih sebagai penjaga arah, bukan sebagai pusat sorotan.
“Apa yang kami lakukan bukan berpusat pada saya. Ini kerja tim. Saya hanya menjaga agar Setara Berdaya tetap di jalur visinya. Paling banyak berperan justru tim saya, mereka yang turun ke lapangan, berdiskusi dengan teman-teman disabilitas, perempuan, dan pemuda. It’s not about me, it’s about us,” ucapnya.
Baginya, kepemimpinan bukan tentang menjadi yang paling terlihat, tetapi memastikan visi kolektif terus menyala.
Nicky menyadari bahwa tantangan terbesar dalam pemberdayaan adalah mengubah stigma masyarakat terhadap teman disabilitas dan perempuan. Tidak ada satu program yang ketika dilaksanakan, mampu menyelesaikan seluruh permasalahan sosial secara tuntas. Ada kalanya ketika membuat suatu program, justru menemukan permasalahan lain yang harus diselesaikan. Namun, baginya, permasalahan itu bukan hambatan, melainkan tanda bahwa gerak mereka masih relevan.
Dari pengalaman menghadapi tantangan-tantangan tersebut, Nicky menekankan pentingnya mengubah stigma dan menerapkan prinsip “no one left behind”. Baginya, inklusivitas bisa tercapai dengan kolaborasi lima elemen utama (pentahelix), yaitu pemerintah, swasta, akademisi, media, dan komunitas. Selain itu, butuh peran seluruh masyarakat Indonesia untuk memiliki satu pemahaman, bahwa tidak boleh ada yang tertinggal.
Nicky juga berperan kepada para pengusaha sosial dan generasi muda, agar tidak berhenti pada niat baik saja. Melainkan juga pada konsistensi dan semangat sebagai kuncinya.
“Fokuslah pada tujuan hidup dan impian yang ingin dicapai. Dari situ, kita akan menemukan energi untuk terus menciptakan perubahan sosial yang bermakna,” katanya.
Perjalanan Nicky bersama Setara Berdaya adalah bukti bahwa keberdayaan bukan sekadar hasil dari kemandirian, tetapi juga dari solidaritas. Bagi Nicky, keterbatasan yang dimaksud bukan tentang tubuh sesorang yang terbatas, melainkan cara pandang masyarakat yang perlu diubah.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

