Hits: 45
Shefira Riani Manany
Pijar, Medan. Masjid Baiturrahmah yang terletak di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sumatera Utara (USU) mulai kehilangan kesakralannya. Tempat ibadah yang seharusnya digunakan untuk salat dan kegiatan keagamaan, kini sering dijadikan tempat bersantai oleh mahasiswa. Beberapa dari mereka terlihat makan, berdandan, hingga mengobrol di dalam area masjid.
Fenomena ini dianggap mengganggu kekhusyukan ibadah dan memunculkan pertanyaan terkait kesadaran etika penggunaan ruang ibadah. Febrian Ramadhan, Bendahara Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) Baiturrahmah, menyatakan pelanggaran seperti ini terjadi hampir setiap hari.
“Hampir tiap hari pasti ada aja yang nongkrong buat makan, ngobrol rame-rame, bahkan dandan. Kadang mereka nganggap masjid itu tempat santai, padahal kan fungsinya buat ibadah,” ujarnya saat diwawancarai.
Meskipun pengurus masjid sudah memasang imbauan di dinding dan menyampaikan larangan secara langsung. Namun, menurut Febrian, banyak mahasiswa yang tetap tidak peduli. Aktivitas tersebut juga berdampak pada kebersihan masjid karena meninggalkan sampah makanan dan suasana yang tidak kondusif.
Pengurus masjid mengaku sudah beberapa kali menegur mahasiswa secara langsung, tetapi tindakan itu belum memberi efek jera. Febrian menyebut pentingnya kerja sama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), dan pihak kampus untuk menyosialisasikan etika di masjid secara lebih luas, misalnya melalui seminar atau konten media sosial.
Rani Nurfadilah, mahasiswa tingkat akhir FEB, juga menyayangkan perilaku mahasiswa yang memanfaatkan masjid untuk kepentingan non-ibadah.
“Masjid itu ruang ibadah. Harusnya kita tahu diri. Kalau mau nongkrong ya di kantin, bukan di tempat suci,” katanya usai salat Zuhur.
Beberapa mahasiswa juga menilai kurangnya ruang tunggu atau area istirahat di sekitar fakultas menjadi salah satu alasan masjid kerap dijadikan tempat bersantai. Namun, hal itu tidak bisa dijadikan pembenaran.
“Kalau butuh tempat duduk atau ngaso, mestinya bisa cari tempat lain. Masjid itu tempat ibadah, bukan tempat makan siang,” ucap Aulia, mahasiswa program studi Akuntansi FEB USU.
Pengurus masjid berharap ada tindakan nyata dari pihak kampus untuk mendukung upaya penegakan etika ini. Edukasi, pengawasan, dan kolaborasi lintas organisasi menjadi langkah penting agar kesucian masjid tetap terjaga. Pengurus masjid mengaku telah melakukan teguran langsung, meski belum memberi efek jera. Untuk itu, Febrian menekankan pentingnya kolaborasi.
“Harus ada kerja sama antara pengurus masjid, BEM, UKM, dan pihak kampus. Edukasi ke mahasiswa penting banget,” ujarnya.
Hingga kini, belum ada inisiatif konkret dari organisasi kemahasiswaan untuk mengatasi isu ini. Pengurus berharap ke depannya ada sinergi agar etika beribadah di masjid FEB dapat ditegakkan kembali secara kolektif.
(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

