Hits: 54

Farrel Kresna Maruli Sibuea

Pijar, Medan. Visi dan misi hanya menjadi sebatas imajinasi jika dipendam dalam benak dan tidak tersampaikan. Saat menjalankan kehidupan, kita hanya selalu menyatakan tahu apa yang akan dikerjakan.

Namun, pernahkah sempat terlintas dalam benak, dan mengkilas kembali “mengapa” kita harus mengerjakan apa yang akan dikerjakan? Tidak semua orang bisa mengungkapkan sesuatu dengan “mengapa”. Hal tersebut terkesan hanya berjalan mengikuti arah perjalanan, tanpa mengetahui alasan yang membuat seseorang bersemangat melangkah kaki dalam perjalanan tersebut.

Lantas, bagaimana cara seseorang menemukan “mengapa”? Oleh karena itu, melalui buku Find Your Why, pembaca dapat menemukan kepingan terpendam yang dapat memandu setiap langkah secara terarah dan berlandaskan tujuan. Buku praktis dengan jumlah 302 halaman merupakan karya Simon Sinek bersama David Mead dan Peter Docker, pertama kali diterbitkan pada tahun 2017 oleh Sinek Partners, serta diterjemahkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2019.

Buku Find Your Why menggambarkan motivasi penulis untuk mengartikulasikan inspirasi satu kata sederhana yang dikembangkan menjadi sebuah pedoman. Pembaca akan dibawa terhadap berbagai narasi praktis dari kasus seseorang yang menghadapi persoalan kehidupan secara efektif.

Bukan hanya itu saja, penulis dalam buku ini juga membawakan pembaca dalam sudut pandang (point of view) membantu menemukan “mengapa” orang lain. Dalam membuat tidak terlepas dari kata “kontribusi” dan “dampak” , dua komponen ini menjadi batu loncatan agar kita dapat menemukan  identitas orang lain.

Salah satu contoh, yaitu ketika seseorang mengutarakan rasa suka terhadap pekerjaannya selama 23 tahun. Mungkin banyak orang akan berekspektasi untuk menanyakan dan mengungkapkan lebih lanjut mengenai apa pekerjaannya, tetapi ketika ditanyakan alasannya akan membuat individu diam tak bergeming.

Pembaca akan dibawa kepada solusi untuk mengutarakan sesuatu secara spesifik dengan menambahkan kedua komponen sebelumnya agar menghasilkan kata sederhana tersebut. Ingat, bahwa sasaran mengutarakan “mengapa” adalah untuk mendapatkan informasi yang terasa benar. Dengan demkian, seseorang yang awalnya merasakan ketidakpastian dari pekerjaannya akan semakin terdorong untuk terus melanjutkan roda kehidupannya.

Narasi kasus ini membuktikan bahwa “mengapa” bukan hanya sekadar mengungkapkan alasan seseorang mencintai kehidupannya, tetapi menjadi lintasan (track) terhadap segala sesuatu yang membuat kita terinspirasi.

Selain itu, buku ini juga memberikan garis besar relevansi proses untuk membentuk “mengapa”. Baik kepada individu, kelompok, organisasi, bahkan perusahaan, cara terbaik untuk menemukan kata sederhana ini adalah dengan mengumpulkan setiap benang merah kenangan dalam benak, kemudian menggali momen yang menonjol, lalu mengamati semua untuk menemukan titik acuan. Titik ini dapat memberikan gambaran terhadap alasan yang akan menghasilkan kepuasan.

Kenangan-kenangan bahagia dan kenangan-kenangan sedih, cerita-cerita tentang kesempatan dan masa sulit, bisa menawarkan peluang untuk mempelajari jati diri seseorang dan bagaimana merekamenjadi pribadi seperti sekarang. Semua  jalan mengantar ke MENGAPA.halaman 70.

Di samping menemukan dan menguatkan, perlu juga untuk menyeimbangkan perkataan dengan tindakan-tindakan yang selaras. Aksi yang tidak menggambarkan kata “mengapa” hanya akan menghilangkan proses kepercayaan orang lain terhadap kita, begitu juga sebaliknya.

Sebagai panduan, buku ini mengajak pembaca untuk mengikuti langkah-langkah yang tercantum dengan kesabaran dan kerja keras, penuh tujuan. Selalu memulai langkah kaki dalam perjalanan kehidupan dengan kata “mengapa”.

“Semua perjuangan kita adalah langkah-langkah jangka pendek yang harus kita ambil dalam perjalanan menuju kesuksesan jangka Panjang.” —Halaman 81.

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment