Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta

sumber: carousell.com

Nadila Tasya Tanjung / Diva Vania

“Mencintai, menghargai mulai dari dirimu, untuk dirimu sendiri. Jika kamu saja tidak bisa mencintai diri sendiri, bagaimana orang lain bisa jatuh cinta kepada dirimu? Hidup terlalu singkat untuk meratapi kekurangan. Fokuslah pada kelebihanmu dan rangkul dirimu secara utuh.” (Halaman 34)

Pijar, Medan. Pernahkah kamu merasa patah hati? Merasa insecure dengan cinta orang lain? Atau cintamu yang bertepuk sebelah tangan? Cinta beda agama? Terjebak dalam friendzone? Dan segala hal dari yang menyenangkan sampai menyedihkan tentang cinta? Mungkin, semua orang pernah mengalami hal tersebut, kegagalan dalam cinta atau suka duka dalam cinta yang hanya sesaat.

Cinta memang sangat membahagiakan pada awalnya. Merasakan manis dan pahit bersama orang yang dicintai, tenggelam dalam kasih sayangnya yang penuh sampai membuat kita terbuai hingga membuat hati serasa melayang tinggi. Sampai pada suatu hari, kita dipaksa jatuh ke dalam dasar jurang yang paling dalam hingga terjebak dan tak lagi bisa kembali. Cinta memang rumit, karena siapa saja yang jatuh cinta, harus siap pula untuk patah hati.

Alvi Syahrin melalui bukunya yang berjudul ‘Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta’, mengemas semua pertanyaan tentang cinta menjadi sebuah jawaban yang begitu apik dan mengenai hati siapapun yang membacanya. Pengemasannya yang sederhana, namun juga sarat akan makna akan membuat seseorang sadar akan keadaan diri sehingga melihat ke dalam dirinya lebih dalam. Buku ini akan membuka mata pembaca bahwa cinta bukanlah yang utama, bukan yang paling penting, dan bukan segalanya. Masih ada aspek lain yang akan dibahas secara detail di sini, tentu dengan logika yang masuk akal. Pembaca pun perlahan-lahan akan diberikan saran terbaik untuk segala permasalahan yang ada di setiap bab.

Buku yang terdiri dari 45 bab ini berisikan kata-kata yang mudah dipahami, sehingga mudah dimengerti oleh siapapun tanpa perlu berpikir untuk menerjemahkan makna di balik kalimat-kalimatnya. Penulisnya menyampaikannya dengan bahasa yang sangat menyenangkan. Tidak menggurui, tidak mengkritik, dan tidak menghakimi. Alvi Syahrin melihatnya dengan persepsi yang sangat berbeda, sehingga membuat pembaca secara tidak sadar diajak berpikir realistis dan diberikan pandangan-pandangan positif.

Buku ini juga mengajarkan untuk memberikan ruang bagi hati untuk bernapas dan menatap hal yang jauh di depan mata dengan mantap serta mengikhlaskan dan memaafkan diri sendiri. “You’ve just saved your heart, and it’s the most beautiful thing you’ve ever done to yourself. One day you’ll teach your kids this lesson” (hal. 30)

Jadi, bagi Sobat Pijar yang mengalami segala sesuatu tentang kegagalan dalam cinta dan membutuhkan titik terang, buku ini sangat direkomendasikan agar pembaca bisa kembali menata hati yang akan menjawab logika berpikir kalian. Selamat membaca!

 

( Editor: Lolita Wardah )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *