Hits: 91
Danny Wira Kurnia
Pijar, Medan. Istilah “tone deaf” yang artinya tuli nada, menjadi sesuatu hal yang marak diperbincangkan oleh banyak khalayak pada saat ini. Pada awalnya, istilah tersebut melekat pada ketidakmampuan seseorang dalam mendengar nada musik. Namun, pada saat ini istilah tersebut lebih digunakan kepada seseorang yang memiliki sikap ketidakpedulian atau acuh tidak acuh terhadap keadaan yang terjadi di sekitar.
Sikap tone deaf saat ini cukup tren di kalangan mahasiswa. Kini sikap tersebut sudah menyebar luas dalam berbagai aspek, salah satunya aspek politik yang menggambarkan seseorang tidak peduli dan tidak mau tahu terhadap dinamika politik yang sedang terjadi.
Nafis Athala, mahasiswa Ilmu Komunikasi, mengungkapkan bahwa di tengah hiruk-pikuk keadaan politik Indonesia saat ini, mahasiswa menjadi salah satu unsur masyarakat yang diharapkan dapat turut andil terhadap kejadian tersebut.
“Saya melihat mahasiswa yang tone deaf merasa miris karena mereka itu mahasiswa. Mempunyai wadah dan privilege lebih, dibandingkan kelompok masyarakat yang lainnya, tetapi tidak mau peduli dengan isu-isu, seperti sosial, politik, bahkan lingkungan,” ungkapnya.
Ira Rizka Aisyah Lubis, dosen Ilmu Politik, menuturkan bahwa fenomena tone deaf ini sudah selayaknya mendapatkan urgensi dari pihak akademisi maupun beragam unsur masyarakat Indonesia. Tindakan tersebut sebagai bentuk kepedulian, sehingga diperlukan kerja sama untuk mencari solusi terbaik terhadap fenomena tersebut.
“Melek politik adalah hal yang baik, tidak ada hal yang salah untuk melek politik. Jadi, yang tetap kita suarakan adalah ajakan menuju kebaikan bersama, bukan untuk kritis tanpa arah dan justru menjadikan kita semua nggak memiliki sudut pandang politik yang terarah,” tuturnya.
Ira juga mengungkap bahwa kondisi politik yang kurang stabil saat ini, disebabkan oleh faktor internal maupun eksternal. Hal tersebut, seperti adanya kepentingan politik dari berbagai individu, pola sosial masyarakat yang perlu dibenahi, hingga krisis kepemimpinan yang dapat merugikan masyarakat. Ketidakstabilan politik tersebut akan berdampak terhadap kondisi Indonesia ke depannya.
Selain itu, ia juga menambahkan bahwa mahasiswa yang masih kurang peduli terhadap kondisi sekitarnya memerlukan sebuah pengenalan mengenai kondisi-kondisi urgensi, seperti isu politik yang sedang tidak stabil saat ini. Jika kebiasaan tone deaf tetap tidak diperhatikan dalam kehidupan bernegara, maka akan memperburuk kondisi politik Indonesia.
Oleh karena itu, pengembangan sumber daya manusia Indonesia menjadi prioritas utama dalam upaya sebagai dasar dari perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat. Pengembangan ini dinilai cukup penting untuk mempersiapkan generasi muda dalam menghadapi tantangan kehidupan bernegara di masa depan.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

