Hits: 20

Lolita Wardah

Pijar, Medan. Akhir-akhir ini publik dikejutkan dengan adanya penemuan restoran nasi padang dengan kandungan daging babi. Rumah makan yang dinamakan dengan Babiambo ini terletak di Jakarta dan sudah beroperasi selama 3 bulan.

Restoran nasi padang babi itu terkuak setelah adanya aduan yang dilontarkan kepada Ikatan Keluarga Minang (IKM).

“Sebagai Ketua Harian DPP Ikatan Keluarga Minang, saya sudah mendengar soal restoran di Jakarta yang bikin keresahan masyarakat Minang,” kata Ketua Harian DPP IKM, Andre Rosiade, Jumat (10/6/22) seperti yang dilansir dari Detik.

Usaha nasi padang babi tersebut pun mengundang beragam kritikan dari berbagai kalangan. Hidayat Sikumbang yang merupakan masyarakat suku Minang asli dan berasal dari tanah Minangkabau memberikan pendapatnya. Ia mengatakan bahwa adanya rendang babi tersebut hal yang kurang etis dan kurang tepat,

“Kalau ditanya setuju atau tidak dengan rendang babi ini, ya, jelas aku tidak setuju. Bukan aku kacamata kuda atau intoleransi. Karena ada batas-batas toleransi yang harus dipahami sebenarnya,” tegas Hidayat ketika dilakukan wawancara pada Selasa, (14/06/22).

Ia berpendapat bahwa penggunaan bahasa Minang tersebut sudah di luar batas toleransi yang ada. Hal ini juga sudah dikaitkan dengan falsafah adat yang diajarkan pada suku Minang.

“Pertama, restoran tersebut menggunakan nama Babiambo, dengan bahasa Minang ‘ambo’. Jadi gini, kalau misalnya kenapa orang Minang enggak boleh sedangkan etnis Jawa, etnis Sunda, etnis Batak, lebih ditolerin gitu, karena dalam Minang, adanya falsafah adat, yaitu adat bersandarkan syariat Islam, syariat Islam bersandarkan kita-kitabnya Allah,” ungkapnya lagi.

Lebih lanjut, Hidayat menjelaskan bahwa adanya perbedaan pada Padang dan Minang yang tidak bisa disamakan.

“Yang kedua, usaha ini menggunakan bahan baku babi. Ada yang bilang juga ‘rumah makan padang itu kan enggak semua orang Padang’. Oke, tapi disini kita bukan bahas Padangnya, tapi bahas khas Minang. Ada dua hal yang berbeda antara Padang dan Minang. Karena Sumbar dan Minang itu berbeda. Namun, di sini kita kan bicara bahasa Minang, etnis Minang. Rendang itu bagian dari etnis,” jelas Hidayat.

Selain Hidayat, ada juga Alyarham, mahasiswa yang sedang berkuliah di Padang, Sumatra Barat. Mahasiswa Universitas Andalas ini mengatakan bahwa isu ini merupakan hal yang sangat kontroversial dan patut untuk dipermasalahkan.

“Kontroversial di masyarakat, soalnya, karena kan rumah makan padang itu diidentikkan sama makanan yang halal, dan terlebih lagi rendang itu biasanya menggunakan daging yang halal,” jelas Alyarham saat diwawancara melalui WhatsApp.

Ia juga mengatakan bahwa ini isu yang unik, sebab sebelumya belum ada berita viral tentang rendang yang berasal dari daging babi. Selain itu, ia juga berpendapat bahwa pedagang tersebut hanya berorientasi dengan pendapatan.

“Kalau pribadi aku nggak terlalu tertarik sama isu tentang ‘rendang babi’ nya, terlebih lagi pedagangnya udah bilang bahwa dia jual rendang babi itu orientasi nya cuan,” ucap Alyarham.

Sergio, pemilik usaha nasi padang babi akhirnya pun meminta maaf kepada publik. Ia juga mengatakan bahwa penjualan nasi padang babi tersebut murni hanya untuk berjualan tanpa adanya tujuan  untuk melecehkan atau menodai suku tertentu.

(Redaktur Tulisan: Laura Nadapdap)

Leave a comment