Hits: 34

Jennifer Francesca

Pijar, Medan. Pernah mencicipi semangkuk sup yang rasanya sederhana, tetapi bikin hangat sampai ke hati? Di Vietnam, ada satu hidangan yang jadi andalan banyak orang untuk memulai hari, namanya Pho.

Pho (dibaca foh), adalah hidangan tradisional Vietnam yang memadukan kuah kaldu, mi beras, dan irisan daging dalam satu mangkuk. Rasanya yang ringan, penuh rempah-rempah, segar, sekaligus hangat, membuat hidangan satu ini dengan mudah menjadi kesukaan banyak orang. Di negeri asalnya, makanan Pho kerap disantap sebagai sarapan.

Bukan hanya tentang kelezatan, Pho juga menyimpan cerita sejarah yang menarik. Mengutip dari Vietnam Travel, kehadiran Pho diperkirakan bermula pada akhir abad ke-19, ketika Vietnam masih berada di bawah kolonialisme Prancis.

Kala itu, Prancis membawa serta budaya konsumsi daging sapi yang sebelumnya tidak begitu umum di kalangan masyarakat Vietnam. Seiring meningkatnya konsumsi daging, sisa-sisa seperti tulang sapi pun melimpah dan dimanfaatkan sebagai bahan dasar kaldu.

Di sisi lain, para migran Tionghoa yang menetap di Vietnam turut memberi pengaruh dalam proses penciptaan Pho. Mereka mengenali rasa kaldu ini sebagai sesuatu yang akrab—mirip dengan rasa dari kampung halaman mereka. Dari sinilah, racikan antara bahan lokal, pengaruh kuliner Prancis, dan tradisi Tionghoa perlahan berkembang menjadi Pho seperti yang kita kenal sekarang.

Pasca Perang Vietnam, Pho ikut “berkelana” ke berbagai penjuru dunia seiring dengan diaspora warga Vietnam. Kini, kita bisa menemukan Pho hampir di mana saja. Mulai dari gerobak atau warung kaki lima di Hanoi, hingga restoran modern di berbagai negara dunia, bahkan Indonesia.

Bagi para penggemarnya, kekuatan utama Pho terletak pada kaldunya. Rasa autentik dibuat dari rebusan tulang sapi yang dimasak dalam waktu lama, biasanya hingga delapan jam. Dalam praktik tradisional, proses perebusan bisa berlangsung hingga 65 jam untuk menghasilkan kaldu yang benar-benar kaya akan rasa, menggunakan rempah seperti jahe, kayu manis, cengkih, bunga lawang, dan kapulaga.

Saat siap disajikan, kaldu disiram panas-panas ke dalam mangkuk berisi mi beras khusus yang bertekstur kenyal dan lembut, irisan daging tipis (biasanya sapi, ayam, atau bebek), dan berbagai tambahan segar seperti tauge, daun ketumbar, daun basil, serta perasan jeruk nipis. Perpaduan bahan-bahannya menghadirkan pengalaman makan yang hangat, segar, dan menenangkan dalam satu mangkuk.

Di Indonesia, Pho semakin dikenal dan digemari. Terutama di kalangan pencinta hidangan berkuah. Di Kota Medan, beberapa restoran menyajikan Pho sebagai menu utama. Ada yang membuatnya dengan resep autentik Vietnam, ada pun yang menambahkan sentuhan lokal, seperti sambal rawit agar pedas, atau menyajikannya bersama emping untuk agar sesuai dengan lidah Indonesia.

Cara menikmati Pho juga sangat bervariasi, tergantung selera. Ada yang suka menambahkan saus hoisin atau sambal, ada yang menabur banyak daun mint, ada juga yang cukup menikmati kehangatan kaldu polosnya. Bagaimanapun caranya, semangkuk Pho selalu berhasil menyuguhkan kenyamanan, baik bagi lidah, perut, maupun hati.

(Redaktur Tulisan: Kelly Kidman Salim)

Leave a comment