Hits: 55
Tevy Ulani S Depari
Pijar, Medan. Suasana hening mulai menyelimuti ruang musala di sudut Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU), tempat yang dulunya ramai kini tampak lengang. Menurunnya minat untuk salat di sana tak lepas dari keluhan mengenai kebersihan dan kenyamanan musala. Padahal, fasilitas di lantai dua telah tersedia untuk menunjang berbagai kegiatan keagamaan yang bisa menghidupkan kembali musala ini.
Beberapa mahasiswa mengeluhkan terkait kondisi kebersihan musala yang dinilai masih kurang terawat. Kebersihan sajadah yang kurang, mukena yang sering lembap, lantai berdebu, akses ke tempat wudu yang cukup sulit, hingga ketersediaan air yang sering bermasalah.
“Belakangan ini, beberapa kali saya ke kampus dan salat, memang selalu sepi. Padahal, dahulu saat saya masa aktif ke kampus lumayan ramai. Menurut saya, untuk fasilitasnya masih kurang. Terkadang, airnya tidak hidup saat mau wudu. Saya juga pernah saat mau wudu, pintunya dikunci. Kebersihan mukena juga kurang,” ungkap Dwi Pratiwi, mahasiswi semester tujuh program studi Sosiologi FISIP USU.
Bangunan musala ini berdiri kokoh dengan fondasi tiga lantai. Lantai pertama digunakan untuk salat, lantai kedua dirancang sebagai ruang kegiatan keagamaan yang terbuka untuk umum, sementara lantai ketiga masih belum dimanfaatkan, tetapi berpotensi dikembangkan.
Lebih dari itu, lantai dua juga dapat digunakan untuk kegiatan rapat himpunan mahasiswa atau ruang ujian jika dibutuhkan. Artinya, musala ini terbuka untuk berbagai kegiatan umum yang positif. Namun pada kenyataannya, belum banyak yang memanfaatkan musala ini untuk kegiatan di luar beribadah.

(Fotografer: Tevy Ulani S Depari)
Zulkifli Rani, pendiri musala FISIP USU pada tahun 2014 dan sekarang sebagai ketua pengurus dari musala ini, mengutarakan tujuan awalnya mendirikan musala sebagai pusat kegiatan mahasiswa.
“Fokus kita dari awal supaya musala ini menjadi pusat kegiatan. Tidak hanya sekadar salat. Saya sudah menyampaikan kepada ketua prodi masing-masing. Silahkan digunakan kapan saja. Semua fasilitas sudah disediakan. Berulang kali saya katakan, gunakan ruangan lantai dua ini untuk diskusi atau pemutaran film. Tinggal beritahu saja, tidak perlu memakai surat. Bila perlu, tempelkan di mading jika ada kegiatan di musala. Saya pasti senang sekali,” ujarnya.
Kebersihan musala sebenarnya sudah menjadi perhatian rutin dan terdapat rencana perbaikan ke depannya. Hal ini kembali lagi kepada sejauh mana kesadaran mahasiswa untuk turut menjaga fasilitas yang disediakan. Kebersihan adalah tanggung jawab bersama dan menghidupkan musala butuh partisipasi lebih dari sekadar datang untuk salat.
Sudah saatnya ruang ibadah ini dihidupkan kembali. Mahasiswa sebagai pengguna utama diharapkan lebih aktif tentang kebersihan dan ketertiban musala. Jika fasilitas juga kembali dimanfaatkan secara optimal, musala FISIP akan kembali ramai dan menjadi tempat yang dirindukan banyak orang.
(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

