Hits: 90

Alya Amanda

Pijar, Medan. Tok. Tok. Pintu dibuka, yang muncul bukan kurir membawa paket belanjaan, melainkan seorang kerabat dengan senyum hangat dan kantong plastik putih yang menggantung di ujung jemari. Di dalamnya, bisa jadi ada nasi dengan sepotong ayam, mi, dan lauk lainnya, juga sebakul harapan: semoga yang menerima bersedia datang.

Di balik bungkusan sederhana itu, terselip kebiasaan turun-temurun yang masih bertahan di beberapa rumah. Punjungan, begitu tradisi ini dikenal, bukan sekadar menyuguhkan makanan, tetapi juga perhatian dan niat baik. Jauh dari desain estetik atau notifikasi digital, “gaya mengundang” seperti ini mungkin terdengar asing di era serba-praktis seperti sekarang.

Namun, bagi mereka yang tumbuh dan besar dalam naungan budaya Jawa, punjungan masih bernapas pelan-pelan, hadir dalam setiap hantaran yang dikirim penuh makna. Hal ini bukan sekadar ritual lawas yang bertahan oleh waktu, melainkan simbol silaturahmi yang hangat, bentuk penghormatan kepada yang lebih dituakan, dan ekspresi halus dari keinginan tulus agar seseorang hadir.

“Punjungan itu biasanya dilakukan untuk menghargai orang yang lebih tua,” ujar Netti, wanita keturunan Jawa yang sudah menetap di Sumatera Utara selama 46 tahun. Tradisi ini hadir di berbagai momen, seperti pesta pernikahan, khitanan, maupun syukuran, dengan isi hantaran yang beragam. Dulu, lauk seperti ayam, tauco, dan mi menjadi andalan. Kini, terkadang cukup dengan ayam penyet, karena inti punjungan bukanlah kemewahan, melainkan perhatian dan niat baik yang dibungkus dalam makanan.

Proses memunjung juga tak selalu mudah. Harus tahu alamat rumah, mencari waktu yang tepat, bahkan terkadang meminta tolong kerabat untuk mengantarkan punjungan dari satu rumah ke rumah lain. Namun, semua kerepotan itu terasa layak ketika melihat acara berjalan lancar dan hubungan terjalin hangat. “Yo pasti repot mempersiapkan punjungan, tapi yo senang karena hajatannya terkabul,” ungkap Netti sambil tersenyum.

Punjungan yang prosesnya tak selalu sederhana ini, bukan sesuatu yang wajib untuk dilakukan. “Punjungan itu penting karena lebih menghargai seduluran (persaudaraan). Tapi ora kudu dipaksa, karena ora kabeh wong iso nggawe ngono kuwi,” tuturnya. Ia menyampaikan bahwa punjungan bukanlah sebuah keharusan karena belum tentu semua orang mampu melakukannya.

Meski tak semua generasi muda mengenalnya, bukan berarti punjungan tak bisa mereka hargai. Jasmine Qoria, remaja asal Tangerang Selatan, mengakui baru pertama kali mendengar istilah ini. Namun, ketika dijelaskan maknanya, ia justru merasa itu adalah cara yang menarik.

“Kita kan berharap orang-orang datang ke acara yang kita bikin. Jadi seenggaknya, kita perlu kasih sedikit bingkisan, biar orang yang menerima ini [punjungan] tuh ngerasa kalau dia dibutuhkan,” katanya.

Meskipun tidak tumbuh dengan kebiasaan punjungan, Jasmine dapat memahami makna di baliknya. Ia juga merasa bahwa cara menyampaikan undangan secara personal memiliki nilai tersendiri. “Kalau kirimnya lewat grup, rasanya kayak nggak dihargai,” ucapnya.

Menariknya, punjungan tak hanya hadir dalam konteks undangan acara besar. Menjelang puasa, beberapa keluarga masih menjalankan tradisi ini sebagai cara meminta maaf dan menjaga silaturahmi. Di hari Lebaran, punjungan bisa berbentuk hantaran makanan ke rumah-rumah tetangga dan sanak saudara.

Di tengah arus modernisasi yang mempermudah banyak hal, tradisi seperti punjungan mengingatkan bahwa hubungan manusia tak cukup dijaga lewat pesan instan saja. Sentuhan personal, seperti mengantar makanan ke rumah seseorang, justru memiliki kekuatan emosional yang tidak tergantikan.

Punjungan mungkin tidak lagi relevan secara praktik bagi sebagian orang, tetapi nilai-nilai yang terkandung, seperti kehangatan, perhatian, dan penghargaan, masih bisa dihidupkan dalam bentuk lain. Dapat berupa menyampaikan undangan yang lebih personal, atau sekadar mengingatkan diri bahwa dalam setiap ajakan, sebaiknya ada sentuhan hati.

Pada akhirnya, yang membuat seseorang datang ke acara bukan hanya lokasinya yang dekat atau makanannya yang lezat, tetapi rasa dihargai yang hadir sejak pertama kali ia diundang.

(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

Leave a comment