Hits: 84

Cindy Nathasya Silalahi

“Tak ada kutukan yang lebih mengerikan daripada mengeluarkan bayi-bayi perempuan cantik di dunia laki-laki yang mesum seperti anjing di musim kawin.” —halaman 5. 

Pijar, Medan. Seorang ibu tentunya mengharapkan bahwa anaknya lahir dengan wajah cantik, tampan, atau menyerupai dirinya atau pasanganya. Namun, berbeda dengan tokoh utama dalam novel Cantik Itu Luka, bernama Dewi Ayu. Ia justru berharap agar anak yang dikandungnya, lahir dengan wajah buruk rupa. Bukan harapan tanpa alasan, Dewi Ayu menyadari bahwa kecantikan yang seharusnya menjadi anugerah, malah membawa penderitaan di kehidupannya. Pengalaman dan perlakukan pahit yang dialami Dewi Ayu, membuatnya memahami bagaimana perempuan cantik diperlakukan dengan buruk dan kejam pada masa itu.

Cantik itu Luka merupakan novel karya Eka Kurniawan yang pertama kali diterbitkan pada Desember 2022 dan menjadi karya yang cukup populer. Novel ini juga menjadi pemenang World Readers Award 2016 dan telah diterjemahkan lebih dari 30 bahasa.

Novel Cantik itu Luka menceritakan kisah sebuah keluarga di Indonesia, dari masa kolonial hingga pasca kemerdekaan. Rangkaian cerita yang menggambarkan peristiwa kehidupan yang menyedihkan dan penuh luka dari setiap tokohnya. Tidak hanya itu, novel ini juga menyoroti ketika perempuan kerap menjadi objek kekerasan dan eksploitasi, serta masalah dan kesengsaraan yang harus dirasakan perempuan di masa itu.

“Kecantikannya bagai kutukan, dan kutukan itu bekerja semakin gila.” —halaman 121.

Beberapa orang beranggapan, bahwa “cantik” adalah sebuah keistimewaan (privilege) dan berharap bisa berada di posisi tersebut. Memang, menjadi cantik akan membuat semua kesempatan dan peluang terlihat mudah untuk didapatkan dalam satu waktu.

Namun, apakah keuntungan selalu berpihak ketika menjadi “cantik”?

Pertanyaan yang sulit untuk ditemukan jawabannya. Namun, semakin dalam menelusuri dan membaca novel ini, semakin kita mengetahui dan memahami bahwa definisi cantik tidak selalu menguntungkan. Bisa jadi luka, bahkan sebuah kutukan yang menyakitkan.

Di dalam novel ini menyampaikan secara jelas bagaimana kondisi perempuan di masa itu. Para perempuan mendapatkan ketidakadilan yang harus dirasakan dan tidak bisa menolak sesuatu yang memang tidak bisa ditolak, yaitu dipaksa menjadi seorang pelacur. Pilihan buruk yang lebih menyakitkan dari apa pun.

Dengan penggunaan diksi yang menarik, gaya penceritaan yang unik, jalan cerita yang rumit dan kompleks, serta dilengkapi sejumlah konsep sejarah yang luas dan fantasi, menjadi daya tarik sendiri dalam novel ini. Perasaan senang dan sedih menjadi satu, ketika mulai memasuki dan mencermati setiap bagian cerita di dalamnya.

“Pengakuan keempat: Sebab cantik itu luka.” —halaman 505.

Kalimat yang muncul di halaman terakhir dalam Cantik itu Luka, bukan hanya sebagai penutup, tetapi menjadi bentuk penegasan ulang dari seluruh narasi dalam novel ini. Penegasan yang menyampaikan bahwa cantik dan luka adalah dua hal yang terasa pahit dan sakit, ketika didapatkan secara bersamaan. Novel ini menyampaikan, bahwa kecantikan perempuan bukan selalu menjadi jaminan kebahagiaan, bisa jadi sumber kesengsaraan.

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment