Hits: 23

Raymond Putra Pratama Silalahi

Apa yang Kamu fikirkan, Kuri?” tanya ibu Delma melihat Kuri dengan heran.

Sudah 10 menit berlalu Kuri berjalan mengelilingi meja makan dan Lubo mengikutinya dari belakang. Wajah Kuri terlihat bersemangat, seakan-akan ada ide cemerlang yang segera keluar dari bibirnya.

“Ibu, aku punya ide cemerlang untuk musim semi nanti!” kata Kuri penuh semangat.

Sebentar lagi musim semi tiba dan bunga-bunga akan bermekaran. Kuri sangat ingin bermain sambil melihat bunga-bunga tersebut. Kuri pun menjelaskan pada ibu Delma tentang keinginannya itu.

Oke, boleh saja. Lalu, bagaimana dengan Lubo? tanya ibuDelma. Walau bertanya seperti ini, ibu Delma sudahmengetahui jawaban apa yang akan Kuri berikan.

“Ikut bersamaku,” jawab Kuri dengan bersemangat.

Semangatnya membuat ibu Delma tertawa karena tebakan ibu yang benar. Kuri menghampiri Lubo sembari memberikan makanan ringan kepadanya.

“Besok kita akan pergi berkelana!” kata Kuri kepada Lubo. Ekor Lubo bergoyang ke kanan dan ke kiri pertanda bahwa ia bahagia.

Hari yang ditunggu-tunggu Kuri tiba. Kuri sudah bersiap dengan sebuah tas kecil yang ia pakai serta kamera yang ia pegang di tangan kanannya.

“Ibu Delma, ayo kita pergi!seru Kuri dengan penuh semangat.

“Lihat Lubo, dia terlihat tidak sabar sepertimu,” kata Ibu Delma sembari tersenyum melihat Kuri dan Lubo menunggu di depan pintu rumah mereka.

“Baik, kita akan pergi. Ini akan menjadi perjalanan yang panjang. Ibu harap kamu tidak patah semangat untuk menunjukkan pada Lubo bagaimana bunga bermekaran,ucapIbu dengan serius.

Mereka akan pergi ke atas bukit yang berada di desa mereka. Bukit yang hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki. Tanpa ragu, Kuri mengangguk dengan percaya diri.

“Kuri siap, Ibu! Tanpa patah semangat,” jawab Kuri dengan lantang.

“Baik, mari kita pergi!balas ibu tersenyum lega.

Perjalanan mereka dimulai dengan menaiki sebuah mobil tua untuk sampai di patung berbentuk tiga bunga mawar dengan warna yang berbeda. Patung tersebut menjadi lambang pintu masuk untuk menuju taman bunga Bukit Mawar. Kuri mengambil kamera yang ia bawa dan segera mengambil beberapa foto dirinya, Lubo, dan Ibu Delma bersama patung bunga mawar serta pemandangan di sana. Setelah puas bermain di pintu masuk, mereka melanjutkan perjalanan.

Di perjalanan, Kuri terus bermain dengan kameranya sambil berbicara pada ibu Delma, sedangkan Lubo berjalan sambil mencium beberapa bunga yang ia temui di perjalanan. Tidak terasa, mereka sudah berjalan selama satu jam dan memutuskan untuk beristirahat. Ibu Delma mengeluarkan beberapa makanan ringan serta minuman untuk Kuri dan Lubo.

“Ibu, aku tidak tau bahwa perjalanan untuk melihat bunga saja memakan waktu yang lama,” kata Kuri sambil mengambil botol minum yang ibu Delma berikan.

“Apa Kamu sudah lelah? Apa Kamu mau berhenti sampai di sini saja? Pemandangan dan bunga di sini juga indah, kan?tanya ibu Delma. Kuri meletakkan botol minumnya dan terdiam sejenak sambil melihat pemandangan di depan mereka.

“Aku tidak ingin berhenti, tetapi aku sangat lelah Ibu,jawabKuri sambil menghela nafas panjang. Ibu Delma hanya menatap Kuri dan membiarkan keheningan menyelimuti mereka.

“Kuri, Kamu tau tidak, bahwa umur kucing tidak sepanjang umur manusia? Dengan kata lain, Lubo tidak akan lama berada di hidupmu,jelas ibu Delma memecah keheningan.

Kuri melihat ibu dengan tatapan terkejut. Ia langsung mengalihkan pandangannya kepada Lubo yang sedang memakan makan siangnya.

Ibu Delma yang melihat Kuri perlahan mengelus badan Lubo melanjutkan pembicaraan.

Kehilangan itu adalah hal yang pasti terjadi, tapi ketika Kamu masih memiliki Lubo, Kamu harus menciptakan banyak kenangan manis bersama Lubo. Kamu tau kenapa?” Tanya ibu Delma.

Kuri hanya menggelengkan kepalanya dengan wajah bersedih. “Agar, ketika Kamu harus kehilangan Lubo, Kamu tidak merasa menyesal karena tidak memiliki banyak hal manis bersama Lubo. Kamu akan tau, bahwa Lubo juga merasakan kehidupan yang indah dengan seribu petualangan bersama Kamu sebagai sahabatnya,jelas Ibu Delma sambiltersenyum.

Lubo yang sudah selesai makan langsung digendong oleh Kuri. Air mata Kuri mulai jatuh di badan Lubo. Ia terus mengusap badan Lubo dan semakin ia merasa sedih, usapan itu semakin lembut ia lakukan. Walau terlihat jahat, tetapi Ibu Delma ingin Kuri sadar bahwa menciptakan hal manis bersama sahabat adalah hal yang mengagumkan.

“Apa Kamu siap untuk melanjutkan perjalanan?  Atau ingin mengakhiri perjalanan sampai di sini saja, Kuri?” tanya ibu Delma menggoda Kuri.

“Aku tidak ingin pulang Ibu, Aku harus menunjukkan pada Lubo, bagaimana  keindahan bunga yang mekar pada musim semi,seru Kuri dengan lantang.

Ibu Delma tersenyum semangat dan langsung membereskan perlengkapan mereka untuk melanjutkan perjalanan.

Satu jam perjalanan berlalu, mereka akhirnya menyelesaikan perjalanan panjang mereka dan sampai di puncak bukit tersebut.

“Ibu, lihat itu, banyak bunga mawar berwarna warni. Ibu ini sangat indah,” kata Kuri sembari tersenyum.

Senyum Kuri menunjukkan bahwa lelah yang ada pada tubuhnya seakan terbayar dengan keindahan yang ia lihat. Kuri langsung mengangkat Lubo dan membawanya pada bunga-bunga mawar tersebut.

Kuri mengambil banyak foto bersama Lubo dan Ibu Delma,sebagai bayaran atas kemenangan mereka yang berhasil sampai di puncak bukit tersebut. Kuri bermain dengan Lubo sampai matahari terbenam, sehingga Kuri dapat menunjukkan pada Lubo bintang-bintang  yang terlihat begitu jelas dari atas bukit tersebut.

Hari itu, mereka menginap di atas bukit, di dalam tenda yang sudah Ibu Delma dirikan. Setelah makan malam, Kuri pun memilih untuk beristirahat dan membuang semua lelah yang ia rasakan. Lubo tampak nyaman tertidur dipelukan Kuri. Dimalam yang hening ditemani suara serangga yang berbunyi pelan, Kuri mengelus dengan lembut badan Lubo.

“Ibu, apakah aku sudah menciptakan hal yang manis untuk Lubo hari ini? Apakah dia bahagia, ibu? Apakah aku sudah menjadi sahabat yang baik, Ibu? tanya Lubo memecah keheningan malam itu.

Ibu Delma tersenyum mendengar pertanyaan dari Kuri yang sudah sangat mengantuk. “Kamu telah menunjukkan bagaimana perjalanan panjang menuju bukit, menunjukkan warna-warni bunga mawar, dan juga kelap-kelip bintang dari atas bukit ini. Ibu merasa bahwa Lubo menjadi kucing paling bahagia hari ini bersama sahabat terbaiknya,jawab ibu Delma sembari mengusap kepala Kuri.

Ibu Delma melihat Kuri menangis dalam diamnya. Kuri takut bahwa ia tidak cukup menciptakan hal-hal indah untuk Lubo.

“Aku harap ini menjadi petualangan indah untuk Lubo,” ucap Kuri dengan suara yang sendu.

“Ini adalah petualangan hebat untuk kamu dan Lubo, Kuri,balas ibu Delma menenangkan Kuri.

“Aku akan melakukan banyak hal manis bersama Lubo, Ibu. Itu pasti akan aku lakukan, supaya saat Lubo pergi, ia pergi dengan bahagia, ucap Kuri menenangkan tangisnya.

Ibu Delma mengusap air mata Kuri dan membiarkan Kuri tertidur. Malam itu menjadi penutup hari yang indah. Rasa sadar, senang, sedih bercampur menjadi satu. Warna bunga mawar memberikan warna yang indah untuk hari itu, bulan dan cahaya bintang menjadi penenang jalan petualangan Lubo dan sahabatnya.

Leave a comment