Hits: 67

Reporter Pijar

Pijar, Medan. Setiap tahun, masyarakat Indonesia menyatakan tuntutan keadilan para tenaga buruh nasional. Dengan berbagai kebijakan pemerintah khususnya pada sektor ekonomi, hal ini memberikan dampak yang besar bagi mereka. Hari Buruh yang selalu diperingati pada tanggal 1 Mei menjadi pengingat bagi seluruh rakyat atas hak-hak buruh yang belum terpenuhi.

Dilansir dari kompas.com, nilai rupiah mencapai Rp16.300 per dolar Amerika Serikat. Karena hal tersebut, kondisi ekonomi Indonesia berada pada level rentan. Ditambah lagi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot hingga 1,63 persen pada Minggu (19/4/2025).

Salah satu cara yang diupayakan oleh Bank Indonesia adalah dengan mempertahankan suku bunga acuan di enam persen. Hal ini mampu menjaga stabilitas inflasi. Namun, keputusan ini masih belum menarik perhatian para investor asing. Akibatnya, terjadi kekosongan pada pasar saham dan perlemahan nilai rupiah.

Kembali melansir dari kompas.com, banyak tenaga buruh yang menyuarakan keluhan dengan cara apa pun. Rasanya tidak adil bagi mereka yang berjuang dengan sekuat tenaga, tetapi hak-hak dan perlindungan yang seharusnya mereka dapatkan tidak kunjung diperoleh.

Menyambut Hari Buruh 2025 dengan Kabar Genting Ekonomi Indonesia, Mahasiswa Suarakan Hak Buruh - www.mediapijar.com
Tampak massa dari tenaga buruh yang sedang menyelenggarakan aksi
(Sumber Foto: liputan6.com)

Menanggapi keadaan ini, Burju Bubco Jorsfe Hutasoit selaku Sekretaris Jenderal (Sekjend) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (GMNI FH USU), turut membagikan perspektifnya yang dikutip dari kegiatan diskusi dan konsolidasi tentang “Menyuarakan Revolusi Kesejahteraan dan Perlindungan Buruh dari Kekerasan Struktural” yang telah dilaksanakan oleh GMNI FH USU pada Selasa (22/4/2025).

Mereka melihat masih banyak tenaga buruh yang terus memperjuangkan hak-hak buruh hingga saat ini, baik itu pihak negara dan swasta. Terlebih lagi dengan banyaknya kasus-kasus kekerasan secara struktural, upah atau gaji yang belum layak, bahkan perlindungan ketenagakerjaan pada sektor struktural. Hal ini membuat mereka tergerak untuk melaksanakan aksi perlawanan demi memperjuangkan hak buruh.

“Partisipan yang hadir pada kegiatan diskusi dan konsolidasi kurang lebih berjumlah 50 orang. Ada beberapa aliansi masyarakat sipil, organisasi mahasiswa, beberapa NGO, dan dari kawan-kawan buruh, tapi saya kurang ingat berapa angka pastinya. Namun, pada hari itu diwakilkan pula oleh beberapa Serikat Buruh,” ujar Burju.

Berdasarkan hasil kegiatan tersebut, terdapat banyak tenaga buruh yang terus mengeluhkan perlindungan dan pengupahan mereka. Ada beberapa poin penting yang disoroti oleh mereka, seperti pembiaran oleh pemerintah yang masih dilakukan hingga saat ini.

Selain itu, Burju memberikan harapannya kepada seluruh mahasiswa agar mampu berperan sebagai agen perubahan dan agen sosial untuk memperjuangkan hak.

“Kita sebagai mahasiswa harus turut andil dalam membersamai kerja-kerja kerakyatan. Per hari ini, banyak sekali mahasiswa yang mengeksklusifkan diri dari rakyat karena menganggap dirinya terpelajar. Sedangkan, buruh dan rakyat kecil tidak. Mari kita membersamai kawan-kawan buruh demi perlindungan mereka,” tutupnya.

(Redaktur Tulisan: Kelly Kidman Salim)

Leave a comment