Hits: 47

Shefira Riani Manany

Pijar, Medan. Di balik namanya yang unik dan terdengar asing bagi sebagian orang, Karupuak Leak menyimpan kenikmatan yang tak kalah menggoda dari jajanan kaki lima lainnya. Jajanan asal Sumatera Barat ini menggabungkan rasa gurih, renyah, dan lembut dalam satu gigitan yang “berantakan”.

Secara harfiah, “Karupuak” berarti kerupuk dalam bahasa Minang, sementara “Leak” berasal dari kata “Baleak” yang berarti berserakan. Nama ini tidak diberikan tanpa alasan. Siapa pun yang pernah menyantap kudapan ini pasti paham betul, begitu kuah sate membasahi kerupuk singkong yang tebal dan renyah, teksturnya mulai melembek, membuat potongan kerupuk mudah patah dan berserakan ke mana-mana.

Meski berantakan, di situlah letak pesonanya. Karupuak Leak menyajikan pengalaman makan yang apa adanya—tidak rapi, tidak terstruktur, tetapi selalu menggoda untuk disantap lagi dan lagi. Kerupuknya sendiri mirip opak, hanya saja lebih besar dan tebal. Di atasnya disiram kuah sate kental berbumbu kacang yang gurih dan manis. Lalu, biasanya bihun atau mi kuning digunakan sebagai pelengkap.

Kombinasi tekstur ini menciptakan sensasi makan yang unik. Kerupuk yang semula renyah, berubah menjadi sedikit kenyal karena kuah, mi yang lembut menambah dimensi rasa, dan kuah sate yang kaya bumbu menyatukan semuanya. Meski terlihat sederhana, komposisi ini jelas tidak sembarangan.

Karena keunikannya, Karupuak Leak sering menjadi incaran para pelancong yang datang ke Sumatera Barat. Bahkan, di beberapa kota besar seperti Padang, Bukittinggi, dan Payakumbuh, jajanan ini bisa ditemukan di banyak sudut kota—dari gerobak keliling, hingga warung tenda di pinggir jalan. Biasanya, penjual menyediakan pilihan ukuran kerupuk, termasuk versi kecil yang lebih praktis dimakan dan tidak terlalu berantakan.

Fenomena makan “berantakan” ini juga menjadi bagian dari keunikan budaya makan masyarakat Minang. Di tengah gempuran makanan cepat saji dan tren plating cantik, Karupuak Leak hadir sebagai bentuk perlawanan, bahwa kenikmatan tidak selalu datang dalam bentuk rapi. Ini soal rasa dan kejujuran dalam penyajian.

Sebagian orang bahkan menganggap Karupuak Leak sebagai simbol nostalgia. Jajanan ini mengingatkan pada masa kecil, ketika makan bukan soal estetika, tetapi soal kelezatan dan kebersamaan. Tak sedikit yang sengaja mencari jajanan ini hanya untuk merasakan kembali kehangatan masa lalu yang dibungkus dalam rasa kacang dan kerupuk lembek.

Saat ini, meskipun Karupuak Leak tidak terlalu popular dibandingkan dengan rendang atau sate padang di luar daerah asalnya, daya tariknya tetap kuat. Beberapa komunitas kuliner dan konten kreator mulai mengangkat eksistensi jajanan ini di media sosial. Mereka menyoroti keunikan nama, cara makan yang ribet tapi nagih, dan tentunya, rasa yang otentik.

Jadi, kalau kamu sedang berkunjung ke Sumatera Barat atau menemukan penjual Karupuak Leak di kota tempat tinggalmu, jangan ragu untuk mencoba. Siapkan tisu, karena makanannya memang berantakan. Namun, percayalah—setiap remahan kerupuk dan tetesan kuah satenya akan membuatmu tersenyum puas.

(Redaktur Tulisan: Kelly Kidman Salim)

Leave a comment