Hits: 74
Nur Agustilahmi Nasution
Pijar, Medan. Di dunia yang tak pernah diam, dan di antara hiruk-pikuk sunyi. Ada satu bahasa yang dapat menyentuh hati manusia, yaitu musik. Musik dapat bercerita tentang berbagai hal seperti dinamika kehidupan, hingga kematian yang tidak dapat diungkapkan dengan kata. Salah satu musik yang menggambarkan dua fase ini adalah lagu yang berjudul “o, Tuan” dari grup band rock asal Indonesia, Feast.
Lagu ini merupakan bagian dari album karya Feast dengan judul “Membangun dan Menghancurkan”, yang dirilis pada tanggal 30 Agustus 2024 lalu. Melalui liriknya, pendengar diajak untuk merenungkan tentang kematian, rasa pasrah, hingga ketakutan saat kehilangan orang yang dicintai.
Oh jelas aku tahu
Bunga akan layu
Rumput kan mengering
Daun kan menguning
Penggalan lirik di atas menyadarkan kita bahwa dunia ini hanya bersifat sementara. Bunga yang layu, rumput yang mengering melambangkan bahwa segala sesuatu dalam hidup pada akhirnya akan berubah, bahkan berakhir. Lirik ini juga mengajak para pendengar agar selalu menghargai setiap momen yang ada dalam hidup.
Bagian menarik lainnya adalah penggunaan kata “o, Tuan” untuk menggambarkan sesuatu yang diagungkan, dan memiliki kedudukan lebih tinggi agar menyadarkan manusia bahwa ada suatu hal yang patut disembah, yakni Tuhan Yang Maha Esa.
Untukku, o Tuan
Wahai Kematian
Ku tak bisa melawan
Jamah perhentian
Lirik di atas merupakan salah satu bagian yang menjadi inti dalam lagu “o, Tuan” yang menggambarkan ketakutan dan rasa pasrah terhadap kematian. Sebuah perasaan yang dimiliki oleh manusia ketika tidak berdaya pada saat menghadapi akhir hidup. Lirik ini juga memiliki arti bahwa kematian adalah suatu hal yang akan terjadi, dan tidak dapat dihindari dengan cara apapun.
Irama musik dibawakan dengan nada yang mendayu-dayu, sehingga menciptakan sesuatu yang mendalam bagi pendengarnya. Perpaduan antara lirik yang penuh makna, serta melodi yang indah membuat “o, Tuan” sebagai sebuah lagu yang tidak hanya menghadirkan harmoni indah, tetapi juga dapat menyentuh ruang emosional.
Rasa ketakutan terhadap kematian dan ditinggalkan oleh orang-orang terkasih tidak hanya tercermin melalui lirik, tetapi juga digambarkan lewat video klip yang dirilis pada bulan Maret lalu. Secara garis besar, video klip “o, Tuan” berkisah tentang kesedihan seorang anak yang ditinggalkan oleh Ibunya. Sosok malaikat pencabut nyawa yang hendak mengambil nyawa sang Ibu juga digambarkan dalam video. Begitu juga sang anak yang berusaha keras untuk menyingkirkan sosok tersebut.
“O, Tuan” berhasil mencuri perhatian para pendengarnya, dibuktikan dari jumlah streaming pada platform musik Spotify sebanyak 43 juta kali. Sedangkan, video klip dari lagu ini juga telah ditonton sebanyak 1,2 juta melalui kanal YouTube pribadi Feast.
Lagu “o, Tuan” dari Feast bukan sekadar karya musik biasa, tetapi sebuah pengingat kepada kita semua bahwa kematian akan datang kapan saja. Oleh karena itu, hargailah setiap momen berharga dalam hidup, terutama saat bersama orang-orang terkasih. Lagu ini juga mengajak kita untuk mengingat bahwa kehidupan bukan hanya tentang ambisi dan pencapaian yang bersifat sementara, tetapi yang lebih penting dari itu adalah bagaimana kita memaknai hidup dengan sebaik-baiknya agar tidak terjadi penyesalan ketika perhentian itu telah tiba.
(Redaktur Tulisan: Kelly Kidman Salim)

