Grace Kolin

Penulis             : Ayu Utami

Tebal               : 238 halaman

Tahun terbit     : Februari 2013

Penerbit           : Kepustakaan Populer Gramedia

 

Ada perasaan yang sedikit menyesakkan bagi kaum wanita ketika ditanya, “Kapan nikah?”. Pertanyaan sederhana itu, cepat atau lambat akan dilontarkan pihak orang tua pada anak gadisnya yang konon belum juga melepas masa lajangnya. Wanita, punya tanggal kadaluarsa. Sayangnya, begitu. Tak selamanya ia akan tetap cantik dan menggiurkan bak bunga plastik.

Wanita yang sedang kuliah, bahkan sudah harus ‘memasang kuda-kuda’ di penghujung semester. Mencari sandaran hidup, membina rumah tangga, dan memberikan momongan pada orang tua tentunya sudah jadi barang tentu dalam poin-poin yang digariskan oleh konstruksi sosial. Dikejar-kejar skripsi terkadang masih lebih mending ketimbang harus menjawab pertanyaan dengan kebohongan yang bertubi-tubi.

Lalu, bagaimana dengan suara hati wanita yang lain? Beberapa dari mereka pastinya masih ingin hidup bebas dan mencari pekerjaan. Menikah, memang bukan harga mati di atas kebahagiaan tetapi, siapa juga wanita yang tidak merasa sakit hati ketika ia dicibir “Perawan tua” oleh rekan sebayanya? Atau “Barang tak laku” misalnya. Di situ, keperawanan juga tidak akan banyak membantu.

Akankah momok itu harus jadi kiamat bagi kaum hawa? Dalam Parasit Lajang, Ayu Utami menepis sterotip itu dengan luwes. Alumni Fakultas Sastra Universitas Indonesia ini terkesan sangat idealis dalam novelnya. Dengan segala sistem yang dibentuk, Ayu bersikeras bahwa ia tidak akan menikah. Alasan itu dituangkannya dalam 10+1 alasan mengapa tidak menikah di halaman pertama.

Novel Si Parasit Lajang pertama kali terbit pada tahun 2003 dengan sub judul Seks, Sketsa, Cerita. Dalam novel ini dikisahkan, pada akhir usia dua puluhan Ayu memutuskan untuk tidak menikah dan menyebut diri Si Parasit Lajang, satu istilah yang awalnya dilontarkan feminis Jepang. Untuk wanita seusianya pada masa itu, Ayu cukup berani memilih jalan hidup yang kontraversial.

“Jika perkawinan ibarat pasar, orang-orang yang memutuskan tidak menikah sesungguhnya mengurangi pasokan istri seperti OPEC mengatur suplai minyak. Saya percaya berkeluarga itu bagus untuk orang lain.”?Ayu Utami dalam Parasit Lajang

Novel ini menggugah cara pandang pembaca khususnya para wanita, dengan bahasa yang ringan namun cerdas. Ayu tidak seperti penulis wanita kebanyakan, ia punya gaya menulis tersendiri. Tak perlu sederet kata ilmiah yang membuat para pembaca mengernyitkan kening atau racikan kalimat multitafsir yang mengocok isi kepala, Parasit Lajang cukup sederhana untuk dinikmati. Anak bungsu dari lima bersaudara ini mengangkat sepenggal kisah nyatanya di masa Orde Baru dan setelahnya, tentang segala curhatan hati dan pandangannya pada sistem patriarkial, feminisme perkawinan dan seks.

Pembaca yang alim, mungkin akan tercengang dengan gaya beropini Ayu yang vulgar. Ayu memang sengaja memugar kembali konteks tabu dalam masyarakat timur, tidak saja dengan cara pandangannya yang tak biasa tapi dengan argumen yang layak diapresiasi.  Berbeda dengan Saman, Larung, dan Bilangan Fu, novel ini lebih santai dan mengalir. Pembaca tak harus dipaksa untuk duduk dan berpikir.

Parasit Lajang, tidaklah mentok sampai disitu saja. Masih ada Cerita Cinta Enrico dan Pengakuan Eks Parasit Lajang khusus bagi para pembaca yang ingin tahu kelanjutan kisah tokoh A, alias Ayu utami. Kira-kira, apakah nanti Ayu berubah pikiran dan menikah?

Bagi pembaca yang bosan dengan aliran novel tanah air yang itu-itu saja, bisa melirik novel ini sebagai kawan curhat  disamping meratapi nasib jomblo yang tak kunjung usai.

Leave a comment