Hits: 34
Lainatus Syifa Hasibuan
“Aku mana bisa tanpa kamu sih, Far,” dia memukul bahuku sembari tertawa.
Linor namanya, ia adalah sahabatku sejak 12 tahun lalu saat kali pertama kami bertemu di panti asuhan “Cinta Kasih” yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Saat itu, aku dan Linor berusia 6 tahun, dan menjadi sangat dekat karena aku yang berada di panti terlebih dahulu akhirnya mendapat teman yang seusia. Linor adalah sahabat terbaik ku, tidak ada yang lebih baik dari dirinya.
Ah… mari kita lanjutkan percakapan kami yang akan menjadi awal dari kisah singkat ini.
Aku hanya tertawa mendengar perkataan Linor. Kalimat itu mungkin sudah kudengar lebih dari seratus kali, atau mungkin tiga ratus kali? Aku tak menghitungnya dengan pasti. Yang pasti, kalimat itulah yang diucapkan Linor ketika aku berhasil membantunya membujuk penjaga panti untuk mengizinkan kami pergi ke kota untuk menikmati angin segar, lebih tepatnya polusi yang entah mengapa Linor menyukainya.
Jika kalian bertanya mengapa harus aku yang mengemis izin, jawabannya adalah karena aku spesial. Ibu penjaga panti pasti akan selalu luluh ketika aku mengucapkan kalimat pamungkas ku.
“Bu, aku sudah sangat menderita karena tidak bisa melihat apa-apa. Setidaknya, biarkan aku merasakan angin diluar sana, Bu. Meskipun aku tidak tau bagaimana wujudnya.” Dan alasan aku butuh Linor untuk ikut karena aku pastinya tidak bisa pergi seorang diri.
Ibu penjaga panti akan meraih selembar tisu dan mengusap mata yang berair seraya mengangguk menyilakan aku dan Linor untuk pergi. “Pergilah, Nak. Jangan terlambat pulang dan melewatkan makan malam.”
Awalnya, aku sangat tersinggung saat Linor mengusulkan kalimat itu untuk merayu penjaga panti, menurutku itu tidak sopan. Namun, seiring berjalannya waktu, aku merasa biasa. Toh, itu sebuah fakta.
“Bagaimana pemandangan gedung-gedung di depan sana, Li?” tanyaku. Kami sedang berada di atas sebuah gedung tua yang tidak lagi dipakai. Linor bilang, pemandangan di depan gedung ini sangat indah.
“Indah sekali, Far. Lampunya bercahaya dan bintang bertaburan di atas,” ia meraih tanganku untuk digenggam.
“Andai aku dapat melihatnya.” aku sedikit bergumam.
“Suatu saat, kamu pasti bisa melihatnya, Far. Aku yakin. Kita kan sudah berjanji akan mewujudkan impian kita. Kamu bisa melihat dunia dan aku bisa sembuh. Setelah itu, aku akan mengajakmu untuk melihat lebih banyak lagi hal-hal menakjubkan bersama-sama,” ujarnya.
Aku tidak pernah tahu, bahwa Linor menangis. Air mata Linor mengalir deras tanpa suara. Dadanya sesak, naik dan turun tidak beraturan. Yang ku sadari hanya genggaman tangannya yang semakin erat.
Malam itu, kami kembali ke panti tanpa melewatkan makan malam bersama. Ibu penjaga panti seperti biasa akan menyambut kami dan menyuruh kami bergegas masuk dan mengunci pintu depan.
***
Pukul 00.00
Aku tersentak bangun dari tidurku. Ruang pendengaranku penuh dengan suara-suara panik dan ketakutan, semuanya saling bersahutan.
Aku meraba sekitarku dan memutuskan turun dari ranjang untuk bertanya apa yang sedang terjadi. Tanganku meraih pintu kamar dan membukanya, suara-suara itu semakin terdengar jelas.
Salah satu penghuni panti mendekat, seakan faham atas kebingunganku.
“Farya, kamu terbangun ya?” Ah, aku tau suara ini. Suara Sania, salah satu teman sekamarku.
Aku mengangguk. Sania lanjut berbicara sembari menuntunku menuju arah yang aku tidak tahu.
“Linor pingsan, Far. Kami panik dan penjaga panti langsung menghubungi ambulans untuk membawa Linor ke rumah sakit.”
Langkahku terhenti, tubuhku seakan runtuh mendengar kalimat demi kalimat yang Sania lontarkan. Linor pingsan? Apa yang sebenarnya terjadi? Tanpa sadar, air mataku turun dan berubah sesak. Bibirku terus melafalkan ribuan doa berharap Tuhan mendengar dan Linor baik-baik saja. Langkahku dituntun menuju ruang depan, tempat seluruh penghuni berkumpul menanti kabar.
Pukul 00.45
Kringgggg…
Suara telfon berbunyi memecah sunyi. Salah satu dari kami segera mengangkat dengan harap dan cemas. Aku menggigit bibir, terus berdoa dalam hati semoga kabar baik yang akan kudengar setelahnya.
“Linor…” suara Kayin yang sebelumnya mengangkat telfon terhenti, kemudian menarik nafas panjang dan melanjutkan ucapannya yang terputus.
“Linor sudah tiada.”
Aku menjerit. Pecah. Tubuhku runtuh ke lantai. Aku menangis, mengguncang, memukul lantai, memanggil-manggil nama yang tidak akan menjawab lagi.
“Bohong! Linor tidak mungkin pergi!”
Aku tidak tahu bagaimana aku bisa tertidur malam itu.
***
Pagi itu mendung, awan seakan ikut bersedih atas kepergian Linor. Puluhan langkah berderap seirama dengan isak tangis yang ditahan, dan deru doa yang lirih keluar dari mulut setiap anak panti. Tak ada keramaian, hanya keheningan yang pekat dan suara angin yang sesekali mengaduk daun-daun di pelataran.
Aku berdiri paling depan, digandeng oleh penjaga panti. Di sebelahku, Sania menangis terisak, tapi tak berani bersuara. Tanganku gemetar, dadaku sesak, tapi aku tetap berdiri. Aku ingin mengiringinya sampai akhir.
Ketika peti diturunkan perlahan ke liang, aku mendengar suara tanah pertama jatuh ke atas kayu. Suara itu seperti palu terakhir dari dunia, mengakhiri segalanya.
Aku meraba dada, mencoba menahan napas yang berat. Tapi kemudian aku berbisik, lirih sekali.
“Terima kasih ya, Li, sudah menemaniku sejauh ini. Sudah membuat dunia terasa hangat meski aku tak pernah melihatnya.”
Aku menangis. Tapi untuk pertama kalinya, bukan karena kehilangan. Tapi karena rasa syukur pernah mengenal seseorang seindah Linor.
***
Waktu terus berjalan. Panti kembali tenang, aktivitas berjalan seperti biasa. Satu per satu penghuni panti mulai berusaha bangkit untuk tidak berlarut dalam kesedihan. Tapi tidak untukku.
Pagi ini, aku termenung. Terduduk lama di taman belakang, tempat Linor biasa membacakan kisah-kisah tentang dunia kepadaku. Rasanya masih sesak, fakta bahwa Linor tidak lagi ada disampingku, seperti ada lubang yang tidak bisa ditambal.
Tenggelam dalam lamunan, aku tidak menyadari keberadaan penjaga panti yang duduk di sampingku. Perlahan, Ia menggenggam tanganku lembut. Aku menoleh dan tersenyum, menyembunyikan kesedihan yang tentu saja tetap tampak.
“Nak Farya, Ibu boleh bicara?” tanyanya.
Aku mengangguk.
“Nak, ada sesuatu yang Linor sembunyikan darimu selama ini. Tapi Linor ingin kamu tahu setelah kepergiannya.” Ibu panti menghela nafas sebelum kembali melanjutkan.
“Linor sudah lama sakit, Nak. Penyakitnya ganas. Tapi ia tidak pernah mau kamu tahu. Dia bilang, kamu sudah cukup kuat menanggung gelap. Ia tidak ingin Farya dibebani lagi oleh ketakutan.” Suara penjaga panti mulai bergetar.
“Tubuhnya makin kurus. Rambutnya rontok. Tiap malam dia sembunyikan rasa sakitnya. Dia tertawa di depanmu, tapi menangis di pelukanku saat kau tidur,” lanjutnya.
Tangisku kembali pecah. Aku merasa seperti orang bodoh. Aku tak melihat, tak menyadari.
“Linor juga meninggalkan sepucuk surat untukmu. Ia ingin aku membacakan ini untukmu. Surat terakhirnya.”
Tangan penjaga panti gemetar saat membukanya. Surat itu ditulis dengan tinta cinta, dan air mata. Perlahan, surat itu dibacakan.
Untuk Farya
Hai, kalau kamu mendengar ini, berarti aku sudah tidak bisa lagi menggandeng tanganmu untuk pergi ke kota dan berpura-pura menatap bintang bersamamu.
Tapi aku masih di sini. Di setiap hela napasmu.
Aku sakit, Far. Sudah lama. Tapi aku tidak pernah ingin kamu tahu. Bukan karena aku tidak percaya padamu. Tapi karena aku tahu, kamu sudah menanggung banyak hal. Gelap. Sunyi. Kesepian. Aku tak mau menambahkan luka baru.
Aku lebih ingin kamu mendengar tawaku daripada batukku. Merasakan genggamanku, daripada tubuhku yang menggigil. Tapi aku tahu waktuku terbatas. Dan aku memilih untuk tetap memegang janji kita.
Dulu kita berjanji, kamu bisa melihat dunia, dan aku bisa sembuh. Aku mungkin tidak bisa menepati janjiku untuk sembuh. Tapi kamu masih bisa melihat dunia, Far. Dengan mataku.
Aku sudah bicara pada Dokter dan penjaga panti. Aku ingin kedua mataku menjadi milikmu. Aku ingin kamu melihat semuanya yang pernah aku gambarkan. Gedung-gedung tinggi, langit yang penuh bintang, warna daun di pagi hari, bahkan wajahmu sendiri. Aku ingin kamu melanjutkan hidup, melihat dunia bukan hanya untukmu, tapi juga untukku.
Jika suatu hari kamu bertanya dalam hati, “Apa Linor ada di sana?” Maka jawabannya adalah: Aku ada di sana. Di balik kelopak matamu yang baru. Melihat dunia bersamamu.
Jangan menolak mataku ya, Far. Karena ini adalah sebuah janji. Dan aku tahu, kamu akan melanjutkan langkah kita. Sampai ke ujung cahaya.
Jangan pernah berpikir kamu sendiri, ya? Aku tidak akan pernah meninggalkan dirimu. Aku akan selalu ada bersamamu, dalam setiap langkah kakimu, dalam setiap desir daun yang kamu dengar, dalam setiap senyum yang akan kamu buat setelah ini. Aku tahu kamu kuat. Lebih kuat dari yang kamu kira.
Dan suatu saat ketika kamu melihat dunia, aku harap kamu akan menceritakannya padaku meski aku tidak di sampingmu. Ceritakan seperti dulu kamu tanya, “Bagaimana pemandangan di depan sana, Li?”
Dan kamu tahu, aku akan menjawab seperti biasa: “Indah sekali, Far.”
Selamanya,
Linor.
***
Beberapa bulan berlalu. Hari itu akhirnya datang.
Dokter membuka perban perlahan dari wajahku. Aku menggenggam tangan penjaga panti. Cahaya pertama menyentuh pupilku. Dunia yang selama ini hanya kudengar, kini kulihat.
Warnanya nyata. Bentuknya jelas. Dan yang pertama kulihat di cermin adalah sepasang mata. Mata yang dulu selalu memandangiku penuh kasih. Aku menyentuh pantulan wajahku. Suara dari dadaku bergetar.
“Indah sekali, Li. Dunia ini indah sekali.”

