Hits: 48

Fadhilah Safa Salsabila Desky

 

Mataku memandang nanar,

mulutku berbicara tapi tak terdengar.

Teriakanku hanyalah sebuah kebisuan

yang menjadi tontonan kekosongan.

 

Hati dan pikiran yang terikat

pada benang-benang kenangan,

diiringi dengan rasa penyesalan

yang terus-menerus mengingatkan

pada apa yang telah pulang.

 

Ingin sekali berada di dekatnya,

tapi itu hanya mimpi belaka,

mengingat beliau begitu jauh di sana.

 

Menyakitkan,

itu kata yang pas untuk sebuah rasa bernama kehilangan.

 

Rasa itu sangat memilukan,

beriringan dengan kegelapan.

Tampak pekat dalam lingkaran,

menggerubungi segala kesunyian.

 

Tapi aku tersadar,

bahwa hidup harus terus berjalan,

meski dengan langkah yang tak lagi ringan

dan hidup akan terus berlanjut,

meski dengan luka yang tak pernah sembuh.

 

Dan dari luka ini, kupelajari satu hal,

kehilangan bisa menjadi pelajaran paling berharga untuk lebih menghargai,

sebelum sesuatu benar-benar pergi.

Leave a comment