Hits: 103
Nabila
Pijar, Medan. Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi (Imamikom) Universitas Sumatera Utara bekerja sama dengan komunitas Gemuruh Outdoor Activity (GOA) menggelar kegiatan edukatif yang bertajuk “Basah Seru Imamikom dalam Arung Jeram Bersama Gemuruh Outdoor activity (GOA) pada Komunikasi Pariwisata” di Pemandian Alam Pulo Sari, Tuntungan, Kamis (1/5/2025).
Ketua Imamikom, Christian Yosua Halawa, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar rekreasi, tetapi bagian dari implementasi teori komunikasi pariwisata yang dipelajari di kelas, di mana promosi wisata tidak hanya dilakukan lewat media massa, tetapi juga melalui keterlibatan langsung di lapangan dan komunikasi dua arah dengan masyarakat. Kegiatan ini menjadi praktik langsung penerapan komunikasi pariwisata di destinasi lokal yang belum banyak terjamah publik.

(Fotografer: Nabila)
“Mahasiswa diajak untuk mengenal langsung potensi wisata lokal yang bisa diangkat lewat pengalaman langsung dan media digital,” ujarnya.
Pemandian Alam Pulo Sari di kawasan Tuntungan dipilih sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa alasan. Menurut Ketua Panitia Pelaksana, Ahmad Defry Rivaldy, kawasan ini memiliki dua sisi penting, yaitu potensi wisata alam dan tantangan sosial yang nyata.
“Awalnya ada beberapa opsi tempat, termasuk Sungai Deli. Tapi kami akhirnya memilih di sini karena berdasarkan informasi dari tim GOA, kawasan ini cukup rawan, banyak praktik prostitusi, barak narkoba, bahkan pungli,” jelasnya.
Eko Syahputra, selaku pemimpin perjalanan perwakilan dari GOA, menyatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya mengelola potensi wisata tanpa praktik ilegal atau instan seperti prostitusi dan pungutan liar (pungli).
“Kita ingin mengubah cara pandang masyarakat bahwa wisata bisa jadi sumber ekonomi yang bersih dan berkelanjutan,” ungkapnya.
GOA sendiri tengah membangun citra mereka melalui akun resmi agar menjangkau khalayak yang lebih luas lewat media sosial. Aplikasi Instagram dan TikTok menjadi pilihan efektif untuk mempromosikan tempat wisata baru arung jeram sebagai tempat wisata yang aman. Narasi yang fun dan family-friendly menjadi strategi utama untuk menarik minat wisatawan.
“Arung jeram kami bukan ekstrem, tapi rekreasi edukatif yang ramah keluarga. Jadi kami sedang mengembangkan akun media sosial, termasuk verifikasi akun resmi dan konten promosi nantinya,” tambah Eko.
Kegiatan ini mendapat dukungan masyarakat sekitar. Salah satu warga bahkan secara sukarela menyediakan lahannya sebagai pos induk kegiatan. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi yang dilakukan dengan pendekatan personal dan edukatif mampu membangun kepercayaan dan kolaborasi.
Imamikom dan GOA berharap kegiatan semacam ini bisa berkelanjutan untuk mendorong kesadaran wisata yang beretika, komunikatif, dan berbasis lingkungan. Kolaborasi antara akademisi, komunitas, dan masyarakat dalam kegiatan ini memperlihatkan bagaimana komunikasi pariwisata modern dapat menjadi alat promosi, sekaligus penggerak perubahan sosial dan lingkungan, terlebih jika dikolaborasikan dengan kekuatan media digital.
(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

