Hits: 46

Azka Luthfiah Khalda

Pijar, Medan. Blue Organizer menyelenggarakan kegiatan edukatif dan kreatif (edukreatif) bertajuk Satu Meja Dua Bahasa yang mempertemukan peserta dari kalangan teman dengar dan teman Tuli. Acara ini berkolaborasi dengan Khadijah Sharaswaty Indonesia (KSI) dan dilaksanakan di Rumah Difabel Sharaswaty pada hari Sabtu (24/5/2025).

Acara Satu Meja Dua Bahasa menghadirkan konsep kegiatan di mana setiap kelompok terdiri dari teman Tuli dan teman dengar yang duduk bersama di satu meja, dengan menggunakan dua bahasa, yaitu Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) dan bahasa verbal. Kegiatan ini mengusung semangat kebersamaan dalam keberagaman komunikasi dengan menghadirkan interaksi hangat dan inklusif antara teman Tuli dan teman dengar.

Mengusung tema “Menghidangkan Rasa, Mengisyaratkan Cerita”, kegiatan ini dirancang untuk membangun kebersamaan melalui keberagaman cara berkomunikasi. Frasa “Menghidangkan Rasa” merujuk pada kegiatan menyajikan kreasi tortilla dan mocktail, sementara “Mengisyaratkan Cerita” menggambarkan interaksi hangat antara teman tuli dan teman dengar saat membuat hidangan tersebut, yang menjadi momen berbagi, berkomunikasi, dan saling memahami melalui dua bahasa yang digunakan.

Bahasa Isyarat di Meja Kita, Kolaborasi Teman Dengar dan Teman Tuli dalam Kegiatan Edukreatif - www.mediapijar.com
Sesi membuat tortilla bersama
(Fotografer: Azka Luthfiah Khalda)

Rangkaian acara dimulai dengan sesi mengenal bahasa isyarat dasar yang dipaparkan bersama founder Rumah Difabel Sharaswaty, Sri Dewi Fitriyani Natadiningrat, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan membuat tortilla dan mocktail. Aktivitas ini tidak hanya menjadi sarana untuk saling berinteraksi, tetapi juga membuka wawasan tentang potensi berwirausaha.

Bahasa Isyarat di Meja Kita, Kolaborasi Teman Dengar dan Teman Tuli dalam Kegiatan Edukreatif - www.mediapijar.com
Mengenal bahasa isyarat bersama teman Tuli
(Fotografer: Azka Luthfiah Khalda)

Shafna Jonanda, selaku Project Leader, menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi wadah berkomunikasi dan berkolaborasi, tetapi juga memberikan nilai tambah dalam bentuk peluang wirausaha bagi para peserta.

“Kami membuat kegiatan edukreatif yang nantinya bisa dijadikan peluang bisnis. Teman-teman sudah diajarkan cara membuatnya, lalu di akhir acara akan diberi tahu harga bahan, modal untuk jualan, dan bagaimana harga bisa lebih murah jika dibuat dalam jumlah banyak. Harapannya, teman Tuli dan teman dengar juga bisa punya kesempatan yang sama,” ujarnya.

Fahrurozi Nasution, salah satu peserta, mengungkapkan kesan pertamanya saat mengikuti kegiatan ini

First time sih, Kak, jadi kesan pertamanya tuh senang banget. Soalnya aku jadi tahu kalau komunikasi itu nggak cuma dari suara, tapi juga bisa lewat gerakan tangan. Aku mau ngasih tahu ke teman-teman lain, jangan pandang teman-teman Tuli itu beda, karena mereka justru lebih bahagia kalau dipandang sama seperti yang lain,” ucapnya.

Ia berharap acara serupa dapat dikembangkan dengan dukungan lebih luas dari media partner dan sponsor, agar bahasa isyarat semakin dikenal luas dan tidak lagi dianggap tabu.

“Biar kita bisa lebih mudah berbicara dengan teman-teman Tuli maupun disabilitas lainnya,” tutupnya.

(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

Leave a comment