Hits: 45
Claudita Piesesta Tarigan/ Reny Elyna
Pijar, Medan. Pekan Olahraga Nasional (PON), diadakan setiap empat tahun sekali, kali ini diselenggarakan di Aceh dan Sumatera Utara (Sumut). Penunjukan Aceh dan Sumut sebagai tuan rumah PON dilakukan melalui proses pengajuan diri oleh pemerintah daerah kedua provinsi. Setelah melalui proses seleksi oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), Aceh-Sumut akhirnya terpilih menjadi tuan rumah PON 2024. Ajang ini berlangsung selama 11 hari dengan pertandingan tersebar di berbagai lokasi di kedua provinsi.
Alih-Alih mendapatkan pujian, PON tahun ini justru dianggap gagal oleh beberapa masyarakat yang melihat keluh kesah yang dialami para atlet dimulai dari makanan hingga tempat ataupun fasilitas yang dianggap kurang pantas untuk seorang atlet.
Salah satu cuitan warga internet (warganet) bernama Komisi Wasit yang terdapat di platform X membahas makanan PON yang dianggap sangat kurang layak karena para atlet hanya disediakan nasi kotak dengan lauk seadanya.
“Lebih mahal paket Jumat Berkah harga Rp10.000 dibanding paket makanan PON Aceh-Sumut 2024”, ujarnya.
Ghinayal Alifa Amri, salah satu atlet di bidang sepatu roda menjelaskan pengalaman yang kurang menyenangkan ketika ia harus mendapat sebuah tantangan yang cukup fatal saat bertanding.
“Pengalaman saya selain tantangan yang didapat dari lawan-lawan pada saat bertanding, yaitu tempat berlangsungnya perlombaan. Karena saya adalah termasuk atlet cabang olahraga sepatu roda yang perlombaannya berada di Sigli, Kabupaten Pidi. Tempatnya yang tidak terlalu maju membuat saya kesusahan, dan itu lumayan menjadi tantangan baru dan pengalaman baru selama 2 minggu berada di sana. Namun, kami berusaha ikhlas dan tetap menerima apapun yang terjadi selama PON ini berlangsung”, jelasnya pada Pijar.
PON tahun ini diketahui menerima alokasi dana yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan penyelenggaraan pada tahun-tahun sebelumnya. Sebagai perbandingan, PON Papua tahun 2020 mendapatkan anggaran sekitar Rp10.000.000.000.000, sedangkan PON Aceh-Sumut hanya memperoleh sekitar Rp800.000.000.000, yang harus dialokasikan untuk kedua provinsi.
Hal ini menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan penyelenggaraan PON tahun ini dianggap kurang memadai jika dibandingkan dengan edisi sebelumnya. Meskipun demikian, sebagian warganet menyadari bahwa dengan keterbatasan anggaran, Aceh dan Sumut telah berupaya memberikan yang terbaik bagi para atlet dari seluruh Indonesia.
(Redaktur Tulisan: Kelly Kidman Salim)

