Hits: 1154
Marcheline Darmawan
“Manners maketh man”- William of Wykeham
Pijar, Medan. Tidak dapat dipungkiri bahwa etiket adalah hal yang penting dalam tatanan masyarakat. Etiket mengatur bagaimana manusia berpikir dan berperilaku, bagaimana ia berfungsi dalam kehidupan sosial, dan bagaimana cara menghadapi situasi dan manusia lain.
Dianggap sebagai seseorang yang sopan adalah sebuah pujian yang menandakan bahwa kita adalah orang yang “berhasil”, berhasil menjadi “manusia”. Sayang, pendidikan mengenai etiket ini tidak diajarkan secara gamblang dan serius dalam kurikulum sekolah yang menjadi tempat seseorang menghabiskan dua dekade awal hidupnya.
Ajaran mengenai etiket sering kali disepelekan, dengan anggapan bahwa seorang dapat mempelajarinya seiring bertumbuh dewasa. Orang tua yang memegang peranan penting terhadap tumbuh kembang anak, tentu menjadi tahapan awal dalam mempelajari aturan tak tertulis dalam bermasyarakat ini.
Namun, lambat laun, seseorang akan membutuhkan pengetahuan yang lebih, terutama ketika ia sudah hidup bermasyarakat. Etiket bukan hanya sekadar mengucapkan salam lagi, tetapi juga bagaimana seseorang memegang tas saat berada di acara formal.

(Sumber Foto: ellentendean.com)
Ahli mengenai ilmu tersebut adalah Ellen Tendean, seorang Soft Skills Trainer berpengalaman kelahiran Tarakan, Kalimantan Utara. Mimpinya menjadi model terwujud ketika ia berkuliah di Jurusan Teknik Sipil Universitas Indonesia. Ellen menjadi nama model yang tersohor di era 70 hingga 80-an dan telah berjalan di panggung besar dunia.
Pada awal 90-an, ia mulai menjadi seorang trainer yang mengajar ilmu tentang modelling, etiket, kepribadian, perawatan diri, table manners, dan komunikasi. Tiga puluh tahun adalah waktu yang tidak sebentar, tetapi segudang pengalaman Ellen telah membentuk reputasinya hingga kini.
Ellen adalah pribadi yang aktif di media sosial. Ia tak segan membagikan ilmu yang “mahal” ini melalui kontennya. Akun Instagram, TikTok, hingga Youtube miliknya penuh dengan ajaran etiket yang dijelaskan dengan rinci. Mulai dari cara bersalaman, penggunaan aksesori saat ke kantor, cara menyambut tamu di rumah, sampai hal yang tidak terpikirkan seperti menyebrang jalan.
Dalam podcast bersama dengan Cherryl Hatumesen, mantan peragawati yang mahir berbahasa Banjar ini menjelaskan bahwa ia mendapat banyak komentar mengenai kontennya. Etiket yang ia ajarkan kerap kali menuai pendapat yang menganggap bahwa hal tersebut hanya akan dipraktikkan ketika bertemu dengan orang-orang yang berkedudukan tinggi saja.
“Mereka selalu bilang ‘Ah nanti tunggu diundang sama kerajaan Inggris dulu, yang penting saya udah dapat ilmunya’, ‘Nanti kalau saya diundang sama Bill Gates’. Kayak sesuatu yang gak mungkin gitu, lo. Banyak juga orang yang nggak mengerti bahwa sebenarnya ini adalah hal-hal yang umum yang perlu diketahui,” ucap Ellen.

(Sumber Foto: Kanal YouTube Cherryl Hatumesen)
Dalam salah satu videonya di Instagram @ellen.tendean, Ellen menjawab alasan kenapa seseorang harus belajar mengenai etiket. Menurutnya, sebebas-bebasnya seseorang atau situasinya, tetap akan ada hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
“Sayangnya, di mana pun kita berada, pasti berlaku aturan yang tertulis maupun tidak tertulis. Meskipun di lingkungan orang tersebut dia bisa bebas semaunya, ketika dia pindah ke lingkungan yang berbeda bahkan di negara yang sama, aturan dan norma bisa berbeda. Pernyataan ‘it’s a free world’ memang ada benarnya, tetapi selalu ada batasannya tergantung di mana dan di situasi apa kita berada,” jelasnya.
Mungkin terasa sulit membiasakan diri untuk mempelajari cara makan yang berbeda dari biasanya. Akan menambah beban pikiran apabila harus memikirkan bagaimana cara meminum minuman di jamuan makan. Belum lagi hal-hal kecil yang dirasa sepele seperti membuang sampah atau menerima pujian.
Namun, perlu diingat bahwa hal-hal yang sepele inilah yang menunjukkan citra diri seseorang, sehingga orang lain dapat memiliki kesan yang baik terhadap diri kita. Seperti peribahasa “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”, seseorang harus bertindak sepantasnya di mana pun ia berada.
(Redaktur Tulisan: Alya Amanda)

