Hits: 12

Lainatus Syifa Hasibuan / Stella Regina Christy

Pijar, Medan. Alexander Yandy Laurens atau dikenal dengan nama Yandy Laurens adalah salah satu sutradara dan penulis skenario kenamaan Indonesia yang telah melahirkan sederet karya fenomenal dan populer.

Pria kelahiran Makassar, 9 April 1988 ini memulai langkahnya ke dunia perfilman saat berkuliah di Institut Kesenian Jakarta. Inspirasi untuk mengejar karir di dunia perfilman muncul saat ia masih SMA, ketika ia diminta untuk membuat naskah drama pementasan sekolah.

Matanya terbuka terhadap dunia sutradara film ketika ia membeli buku Menjadi Sutradara Televisi karya Naratama. Ia pun semakin memantapkan pilihannya untuk menjadi seorang sutradara film. Di mana pemikiran ini muncul ketika ia mulai bertanya-tanya mengenai tujuan hidupnya.

Jawaban atas pertanyaan tersebut ditemukannya melalui berbagai pengalaman hidupnya sehingga ia memutuskan untuk menjadi sutradara film dengan menggabungkan bakat menulis dan hobinya dalam mengarahkan pembuatan film.

Yandy kemudian menapaki karirnya dengan menyutradarai film-film pendek seperti Papa Hao (2008) dan Badminton (2009). Sebagai tugas akhir kuliah, ia menyutradarai film pendek bertajuk Wan An pada tahun 2012 yang membuahkan kesuksesan dan prestasi.

Film Wan An mampu meraih beberapa penghargaan, di antaranya adalah Film Pendek Terbaik, Piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI) tahun 2012, dan Film Pendek Fiksi Naratif Terbaik. Tak hanya itu, film tersebut juga menerima penghargaan sebagai Film Pendek Favorit Pilihan Penonton dan Film Pendek Fiksi Naratif Pilihan Media di XXI Short Film Festival tahun 2013.

Setelahnya, Yandy melebarkan sayap dengan mengembangkan pengalaman sebagai sutradara iklan, video klip, dan bahkan serial web. Beberapa serial web yang ia sutradarai sekaligus tulis skenarionya adalah Arteta (2015), Sore: Istri dari Masa Depan (2017), Axelerate the Documentary (2017), Janji (2019), Perjalanan Terbaik Sepanjang Masa (2022), dan Yang Hilang Dalam Cinta (2022).

Ia juga tetap menyutradarai film pendek seperti Friend (2014) yang masuk dalam nominasi Piala Maya 2015, Menunggu Kabar (2014), Indonesia Itu Rumahku (2016), dan masih banyak lagi.

Yandy Laurens juga terlibat dalam pembuatan beberapa video musik sebagai sutradara seperti “Mercusuar” (2017) milik Kunto Aji dan “Tenang” (2021) milik Yura Yunita. Dengan beragam karya yang dihasilkan, Yandy membuktikan kemampuannya sebagai seorang kreator multitalenta.

Pada tahun 2017, Yandy menyutradarai film panjang pertamanya yang berjudul Keluarga Cemara. Film ini diadaptasi dari cerita bersambung yang awalnya dimuat di majalah Hai dan kemudian menjadi novel berseri karya Arswendo Atmowiloto, serta diangkat menjadi sinetron dengan judul yang sama. Yandy dipercaya untuk menulis skenario film ini bersama penulis terkenal Indonesia, Gina S. Noer.

Film Keluarga Cemara dirilis di bioskop Indonesia pada awal tahun 2019 dan berhasil mencapai kesuksesan dengan meraih 1,7 juta penonton. Film genre drama keluarga ini menempati posisi kelima sebagai film terlaris tahun 2019.

Keberhasilan ini membawa Yandy meraih berbagai penghargaan, termasuk Penulis Skenario Adaptasi Terbaik Festival Film Indonesia pada FFI 2019. Penghargaan lain yang diraihnya meliputi Penyutradaraan Berbakat Film Panjang Karya Perdana dan Skenario Adaptasi Terpilih pada Piala Maya 2018.

Pada tahun 2023, Yandy melanjutkan kiprahnya dengan menyutradarai film yang ramai dibicarakan, berjudul Jatuh Cinta Seperti di Film-Film. Film ini mengisahkan kisah cinta manis dengan alur cerita yang menarik dan cocok disaksikan berbagai kalangan. Hal ini terbukti dengan diraihnya 500.000 penonton dalam waktu 16 hari.

Pencapaiannya yang terus meningkat dan kontribusinya yang tak terbantahkan dalam perfilman Indonesia menjadikan Yandy Laurens bukan hanya seorang sutradara maupun penulis skenario, melainkan juga seorang visioner yang mampu menyentuh hati penonton dengan karya-karyanya.

Kiprahnya dari film pendek, iklan, hingga film panjang telah membuktikan bahwa Yandy Laurens adalah salah satu tokoh penting yang membentuk arah dan dinamika perfilman Indonesia. Lewat setiap karya yang dihasilkan, Yandy tidak hanya menggambarkan kepiawaiannya sebagai seorang seniman, tetapi juga menunjukkan perannya sebagai pembawa pesan dan inspirasi bagi penonton karyanya.

Dengan prestasi dan dedikasinya yang tak terbantahkan, karya-karya Yandy Laurens akan terus menerangi layar dan menciptakan jejak berarti dalam industry perfilman Tanah Air.

(Redaktur Tulisan: Rani Sakraloi)

Leave a comment