Hits: 114
Anastasia Yolanda / Sinta Siregar
Pijar, Medan. Pers mahasiswa Pijar melakukan kolaborasi bersama komunitas Bijak Memilih untuk mengadakan seminar sekaligus orasi. Tema yang diangkat dalam kegiatan ini adalah “Pemilu 2024: Media, Hoax, dan Pilihanku”. Telah berlangsung di Aula Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara (FISIP USU) pada Kamis (23/11/2023).
Bijak Memilih merupakan gerakan berbasis platform teknologi yang berupaya membentuk massa kritis (critical mass) untuk meminta proses politik dan kebijakan politik yang lebih baik.
Melalui situs (website) bijakmemilih.id, peserta pemilu dapat melihat rekam jejak (track record) partai yang berpartisipasi pada pemilu 2024. Selain itu, dalam diskusi ini juga dapat mempelajari isu strategis yang cocok bagi peserta pemilu.
Seminar ini terbuka bagi umum dengan pematerinya dari perwakilan Bijak Memilih, Yosifebi Ramadhani sebagai Communication Lead Think Policy & Bijak Memilih.
Setelah berlangsungnya pemaparan materi, acara dilanjutkan dengan sesi orasi. Sesi ini disampaikan oleh tiga perwakilan organisasi, yakni Aziz Syahputra selaku ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) USU, M. Rizki Prananda selaku koordinator Aliansi Pers Mahasiswa SUMUT, dan Ulfah Sakinah Siregar selaku ketua Ikatan Mahasiswa Departemen Ilmu Politik USU.
Pada sesi gelar wicara (talkshow) menghadirkan Maulana Adinata Dalimunthe merupakan dosen Ilmu Komunikasi FISIP USU, Hanifah Azizah selaku Legal Influencer & Founder dasarhukum.id, dan Yosifebi Ramadhani sebagai narasumber.
Di akhir sesi, terdapat satu pertanyaan menarik yang mendapat tiga jawaban berbeda dari ketiga narasumber.
“Bagaimana jika ketiga calon pasangan presiden tidak sesuai dengan moral dan visi saya? Apakah saya tetap harus memilih yang terbaik di antara yang terburuk? Apakah pilihan untuk menjadi golongan putih adalah absolute false?” ucap Ari Gazi, salah satu peserta seminar.
Pertanyaan tersebut menimbulkan tanggapan yang berbeda dari ketiga narasumber yang masih berkaitan dengan politik dan pemilihan presiden mendatang.
Maulana menegaskan untuk tetap memilih tanpa terpaku dengan keburukan yang ada pada diri calon pemimpin mendatang.
“Kita tetap harus memilih dan jangan terpaku dengan keburukannya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Hanina turut menambahkan untuk berdiskusi tanpa mengumbar pilihannya.
“Tampung seluruh aspirasi yang kamu dapatkan saat berdiskusi tanpa memberitahukan paslon pilihanmu, lalu pikirkan kembali setelahnya,” sarannya.
Sementara itu, Yosi menanggapi berbeda dengan kedua narasumber. Meskipun begitu, Yosi tetap memberikan jawaban yang sekiranya menjadi solusi.
“Jika memang golput pilihanmu, tak apa. Tetapi, lebih baik rusakin aja kertasnya supaya tidak ada pihak lain yang memanipulasinya,” katanya.

(Fotografer: Nailah Yudi Permata)
Panitia juga mengadakan sesi diskusi kelompok dengan membagi seluruh peserta menjadi enam kelompok. Setiap dua kelompok akan membahas berkaitan dengan tema yang ada, yakni tentang literasi media, hoax dan disinformasi, serta isu pemilih berkualitas. Dalam sesi ini, seluruh peserta dapat menyampaikan aspirasinya sesuai dengan materi kepada teman sekelompoknya.
Ayu Nabila Putri selaku ketua penyelenggara menyatakan harapannya untuk para peserta seminar.
“Harapannya agar audiens dapat memberikan ataupun membuat keputusan yang lebih cerdas, memberikan panduan untuk mengidentifikasi dan melawan penyebaran hoaks, dan mendukung partisipasi aktif pemilu 2024,” pungkasnya.
(Redaktur Tulisan: Rani Sakraloi)

