Hits: 26

 Rais Sihombing

Hidup memang tak bisa ditebak, ada saja caranya untuk menggoyah hati. Mereka yang hampa jiwanya saling bertemu dengan pujangga yang bakal mengisi dunianya. Untuk selamanya? Belum tentu.

Hiduplah seorang penulis di kota yang penuh dengan hiruk pikuk manusia. Dengan jiwa yang penuh warna, dia hidup dan mencerna setiap kisah yang ada menjadi romansa yang disuguhkan ke dalam novel tebal di tiap toko buku di sudut kota.

Saat ini dia berada di masa yang kosong, tiada ide dan kisah yang bisa dibukukannya. Oleh karena itu, dia mencoba mencari inspirasi itu ke tiap tempat yang ada. Entah itu di taman, museum, stasiun kota, atau bahkan gudang membosankan di sudut universitas kota.

Agaknya, kita terlalu cepat menyebutnya membosankan…, karena dia menemukan apa yang ia cari.

Berdiri di antara banyaknya kanvas berisi warna-warna gelap nan kelabu, seorang pelukis memancarkan aura yang kuat. Dengan ekspresi yang sendu, dia menatap nanar karya-karya yang berada di hadapannya saat ini.

Perlahan namun pasti, sang penulis mendekatinya sedikit demi sedikit. Langkah kaki yang bergaung dengan hati-hati rupanya disadari oleh si pelukis. Akhirnya, mata saling bertemu dan kata terucap.

“Ada yang bisa saya bantu?” tutur si pelukis dengan ekspresi kebingungan. Mata jernih berwarna biru itu memberikan kesan dingin yang menenangkan. Hal itu membuat sang penulis gugup. Terbawa dalam suasana canggung yang tidak terkendali, mereka akhirnya hanya bisa tertawa kecil.

Begitulah awal perjumpaan mereka berdua.

Musim panas berjalan dengan menyenangkan, kedua insan ini semakin hari semakin dekat. Mereka mau tahu tentang kesukaan dan pengalaman masing-masing. Dimulai dari sang penulis yang tidak suka udang, si pelukis yang lebih memilih mentari daripada bulan, hingga kisah masa lalunya yang pernah dikhianati oleh mantan di masa lalu.

“Ironis sebenarnya, luka yang dibuat olehnya malah membuat aku terkenal dan punya banyak uang,” celetuk si pelukis. Ternyata, lukisan kelabu itu merupakan ciri khas yang berasal dari luka masa lalu. Kenangan yang dituangkannya dalam lukisan mengantarnya ke jenjang keberhasilan karier dan juga popularitas. Dari artis juga selebriti hingga petinggi negara membeli karya seni yang dia ciptakan.

“Walaupun aku sangat membencinya, namun aku berterima kasih akan luka yang dia beri,” curhatnya dengan muka yang sendu.

Tanpa disadari, tumbuh perasaan baru di dalam hati sang penulis, yang awalnya ingin menemukan inspirasi dan cerita baru, ia malah merasakan sesuatu yang familiar. Sesuatu yang biasanya hanya ia dengar dan ketahui dari orang-orang. Akhirnya, dia merasakan cinta.

Keinginannya untuk memiliki si pelukis semakin hari semakin meningkat. Kebersamaan yang ia rasakan ketika berjalan dan tertawa melahirkan rindu ketika berpisah. Malam berganti pagi dengan selalu mengingat wajah si pelukis. Akhirnya, dia memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya.

Namun, telat dia ketahui bahwa perasaan ini salah adanya. Kehadiran sang penulis di hari-hari si pelukis rupanya memberikan hambatan terhadap karya-karya si pelukis. Getaran melankolis dan kesenduan yang menjadi ciri khas warna dan goresan tangan si pelukis perlahan memudar. Gejolak rasa yang baru rupanya merekah di hati si pelukis. Nahasnya, ternyata itu bukan hal yang baik. Penjualan menurun dan popularitasnya digantikan dengan pelukis-pelukis lain yang lebih muda.

Si penulis pasti mengerti betapa pentingnya perasaan dalam karya seni. Melihat terpuruknya si pelukis di antara karya-karya yang mungkin tidak dapat dia ciptakan lagi, membuat sang penulis mengurung perasaannya dalam-dalam dan memutuskan untuk pergi.

Tiada kata, tiada kabar, tiada sapa. Sang penulis pergi dengan diam. Di sisi lain, si pelukis ternyata merasakan hal yang serupa dengan sang penulis. Betapa menyedihkan hidup ini, pikirnya. Di saat dia mulai membuka hati dengan seseorang yang baru, rupanya dia pergi.

Tiap malam dia merasakan kepergian sang penulis. Air mata, amarah, dan kerinduan merajai jiwa dan raga si pelukis. Apa yang salah dari dalam dirinya? Mengapa sang penulis melakukan ini semua. Pertanyaan-pertanyaan itu menghantui pikiran si pelukis.

Akhirnya, kedua tangan si pelukis kembali meraih kuas dan cat untuk mencurahkan isi hatinya. Otot dan pikiran menyatu dengan perasaan, mengendalikan tubuh ini sesuka hati. Kali ini bukan kelabu dan hitam warna yang ada, melainkan rona seperti merah, kuning, dan jingga.

Tepat di tengah malam purnama, karya itu akhirnya selesai. Goresan abstrak campuran setiap warna merepresentasikan perasaan yang dia miliki kepada sang penulis. Cinta, yang rasanya tidak akan pernah kesampaian.

Akhirnya, cinta dan luka kembali membuat si pelukis balik dan meraih ketenarannya. Dia kembali mengukuhkan kedudukannya sebagai seorang pelukis yang tersohor. Karya-karya penuh warna ini rupanya menarik minat lebih banyak orang. Si pelukis pun akhirnya dapat mengadakan pameran lukisannya di galeri seni tersohor di kota.

Walaupun berkilau ketenaran itu, masihlah terasa kosong hati yang ia miliki. Ia masih menunggu kehadiran sang penulis.

Tepat di pagi itu, salah satu staf menginfokan hal penting. Ia segera bergegas dan berlari menuju pameran. Ia menemukan surat tertempel di salah satu karyanya yang berjudul “A lovers”.

Segera setelah ia melihat surat itu, tahu betul dia bahwa itu adalah tulisan sang penulis. Di dalam surat tersebut tertulis sebuah sajak.

 aku akan kembali disaat yang tepat

di kala angin sore masih dapat menyentuhmu dengan lembut

di saat daun gugur merekah memperkaya jalan yang kau lewati

sehingga kepergianku tidak terlalu mengganggu

atau mengusik hari-harimu

sampai jumpa kembali di masa yang indah

sampai jumpa di hari yang cerah

semoga kita dapat berjumpa kembali

ceritakanlah segalanya

ceritakan padaku

..bagaimana mentari bersinar kepadamu.

Leave a comment