Hits: 203

 Tiara Al Medina

 Pijar, Medan. Kehadiran ponsel sebagai teknologi komunikasi telah banyak membawa kemudahan bagi kehidupan manusia. Pasalnya, melalui perangkat yang besarnya hanya segenggam tangan ini, kita dapat terhubung dengan orang-orang dari berbagai penjuru dunia, mengakses informasi secara instan, menjalankan berbagai aktivitas seperti bekerja, berbelanja, pemantauan kesehatan, bahkan sebagai sumber hiburan.

Dengan segala kemudahan dan kecanggihan yang ditawarkan, tidak mengherankan jika ponsel sangat digemari dan dibutuhkan manusia. Namun, seperti koin yang memiliki dua sisi, kehadiran ponsel tidak melulu membawa dampak positif. Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah munculnya fenomena perilaku phubbing yang terjadi akibat kecanduan bermain ponsel.

Secara umum, istilah phubbing mungkin masih terdengar cukup asing, tetapi sebenarnya hal ini kerap ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Istilah phubbing digunakan untuk menggambarkan perilaku di mana seseorang sangat asyik bermain dan memperhatikan perangkat ponselnya daripada berinteraksi dengan orang yang ada di sekitarnya.

Kata phubbing berasal dari penggabungan kata phone yang berarti ponsel atau gawai, dan snubbing yang berarti menghina. Diartikan sebagai menghina karena perilaku ini mencakup tindakan mengabaikan atau mengacuhkan orang lain akibat kecanduan bermain ponsel atau perangkat elektronik lainnya.

Namun, perlu diketahui pula bahwa phubbing berbeda dengan nomophobia, yang merupakan singkatan dari no mobile phone phobia.

Phubbing mengacu pada perilaku seseorang yang lebih memperhatikan ponselnya daripada berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya. Sementara nomophobia menyoroti bagaimana seseorang merasa takut, cemas, dan tidak nyaman ketika mereka tidak dapat menggunakan ponsel mereka.

Sayangnya, perilaku phubbing kini sangat umum terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan terkadang kita tidak menyadari bahwa kita adalah satu pelakunya. Dilansir dari alodokter.com, orang yang melakukan phubbing dapat ditandai dengan beberapa hal berikut.

Pertama, saat makan bersama teman, keluarga, atau pasangan, orang tersebut sering meletakkan ponselnya di samping hidangan untuk berjaga-jaga jika ada panggilan atau notifikasi masuk ke ponselnya.

Kedua, orang tersebut kerap melakukan dua percakapan sekaligus, yakni melalui sambungan telepon dan juga secara langsung.

Terakhir, orang itu selalu memeriksa ponsel dalam keadaan apa pun, kapan pun, dan di mana pun, terutama saat bersama orang lain. Hal ini didasari karena munculnya perasaan kehilangan ketika tidak bisa memeriksa ponsel atau saat ponsel tidak dalam jangkauan. Jika tanda-tanda ini terlihat pada diri kamu ataupun orang terdekat, maka kamu termasuk orang yang melakukan phubbing.

Meski terkesan sepele, perilaku phubbing ternyata memiliki dampak buruk bagi hubungan sosial dan kesehatan mental. Orang lain dapat merasa tidak dihargai dan dipedulikan. Imbas dari permasalahan ini dapat mengarah kepada rusaknya kualitas hubungan serta berkurangnya rasa empati dan kepercayaan dalam komunikasi antar individu.

Orang yang menjadi korban dari perilaku phubbing tak jarang merasa dirinya dikucilkan dan dianggap tidak penting sebab kehadirannya sering kali tidak digubris. Perasaan hampa yang dirasakan korban phubbing ini memengaruhi kondisi kesehatan mental yang selanjutnya dapat memicu depresi dan gangguan kecemasan.

Selain itu, pelaku phubbing dapat menjadi kecanduan yang membuat mereka terus-menerus melakukan perilaku ini saat bersama orang lain. Phubbing juga dapat menular, yang berarti jika seseorang mengalami phubbing dari orang lain, mereka kemungkinan akan melakukan hal yang sama sebagai bentuk pembelaan diri.

Lantas, apa yang harus dilakukan untuk mengatasi siklus tanpa akhir dari phubbing? Kunci utama mengatasi kebiasaan buruk ini dimulai dari diri sendiri yang konsisten untuk berani berubah.

Langkah yang paling sederhana dapat dimulai dari membiasakan diri untuk menyimpan ponsel ketika sedang menghabiskan waktu bersama orang terdekat. Kamu harus mampu memusatkan perhatian kamu sepenuhnya kepada lawan bicara dan dengarkan apa yang mereka katakan. Dengan begitu, lawan bicara akan merasa nyaman dan dihargai keberadaannya.

Selanjutnya, kamu dapat menantang diri kamu untuk melakukan detoks ponsel selama beberapa hari. Misalnya, dengan menonaktifkan notifikasi yang masuk, tidak membuka media sosial selama satu hari penuh, pergi ke luar tanpa membawa ponsel, hingga mematikan ponsel selama satu hari. Melalui tantangan ini, kamu bisa lebih menghargai waktumu bersama orang lain sekaligus meningkatkan kualitas interaksi sosial yang dilakukan.

Terakhir, sekaligus menjadi yang paling penting untuk mengatasi phubbing adalah meningkatkan kemampuan untuk mengontrol diri. Selalu sadari bahwa phubbing hanya akan merusak hubungan dan membuat orang lain merasa tidak nyaman.

Akan tetapi, jika kamu adalah korban dari perilaku phubbing berusahalah untuk tidak berkecil hati terlalu cepat. Berikanlah contoh positif dan bicarakan permasalahan tersebut secara baik-baik bahwa kamu tidak nyaman dengan perilaku tersebut. Kontrol diri untuk berdingin kepala juga sangat dibutuhkan sebab untuk menghentikan phubbing sepenuhnya memerlukan waktu yang tidak sebentar.

(Redaktur Tulisan: Marcheline Darmawan)

Leave a comment