Hits: 89
Nadila Tasya Tanjung
Namaku Malik. Aku terlahir dari sebuah keluarga kelas menengah. Orang tuaku tidak kaya raya, tapi juga tidak miskin. Saat aku beranjak dewasa, aku mulai mengenal sedikit kehidupan yang lebih menyenangkan, merasakan kebahagiaan memiliki wajah yang tampan rupawan, kebahagiaan memiliki pekerjaan yang layak, hingga kebahagiaanku memiliki teman, sahabat serta kekasih yang selalu ada serta selalu mendukung mulai dari perantauan pertamaku di kota orang. Mereka layaknya sudah seperti sebuah keluarga bagiku diluar keluarga intiku yang bahagia.
Sudah 19 tahun lamanya, Malik memiliki hubungan dengan seorang perempuan bernama Dina. Suatu ketika Dina bertanya kepada Malik, saat mereka bertemu di sebuah kafe.
“Mal, tidak inginkah kau makan malam bersama seorang perempuan ?”
Malik yang memang tak memiliki saudara maupun anak perempuan itu bertanya kebingungan perihal pertanyaan kekasihnya yang menurutnya janggal, Maksudmu?”
Kemudian dijelaskanlah oleh Dina,
“Besok, keluarlah untuk makan malam bersama ibu”
Ah, rupanya selama ini Malik sangat sibuk mengurusi karir dan kehidupannya sendiri
“Sudah 19 tahun sejak kau memiliki hubungan denganku, kulihat kau tak pernah makan malam dan mengambil waktu sebentar bersama ibumu” kata Dina menerangkan.
“Teleponlah beliau, ajaklah makan malam bersama. Berikan ia kejutan bahwasanya kau datang ke kampung untuk menghabiskan waktu dengannya. Beliau pasti sangat mendambakan kebersamaan denganmu.” Lanjut Dina kemudian.
Segeralah Malik menelepon sang ibunda. Dalam perbincangan itu, disampaikanlah maksud dan keinginannya. Ibu Rahma yang telah lama menjanda dan hidup bersama keluarga lainnya itu amat gembira mendengar ajakan itu. Meskipun, ada rasa tak percaya akan ajakan yang begitu mengejutkan dari anak kesayangannya itu. Sebab, masa 12 tahun bukanlah sebentar baginya.
Hari yang direncanakan pun tiba. Malik pulang ke kampung halamannya di desa, ia menuju rumah ibunya. Sesampainya di depan rumah sang ibu, sosok janda yang sudah lama mendambakan kebersamaan bersama anaknya itu tengah menunggu, tepat di depan pintu. Tak ingin diketahui oleh saudaranya yang lain, ibu Rahma langsung menyambut, menghampiri dan bergegas masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil, terjadilah perbincangan kecil antara keduanya. Tentang rumah makan dan menu terbaik yang hendak mereka tuju untuk bersantap malam ini di kota. Tak lama kemudian, tibalah mereka di tempat makan terbaik di kota itu.
Sepintas, Malik sempat memperhatikan pakaian yang dikenakan oleh ibunya. Agak sempit. Rupanya, itu adalah pakaian terakhir yang diberikan oleh almarhum ayahnya. Astaga, Malik sampai lupa kalau tidak pernah membelikan pakaian untuk ibunya.
Sesaat kemudian datanglah pelayan membawa menu. Diberikanlah daftar makanan yang hendak dipesan. Ternyata, ibu Rahma sudah tak mampu lagi membaca. Dengan senyum, Malik menawarkan.
“Biar aku bacakan menunya, nanti ibu tinggal pilih menu apa yang ibu kehendaki.”
Lantas dipesanlah aneka jenis makanan yang tak lama kemudian sudah terhidang di meja mereka.
Karena begitu bahagianya lantaran diajak makan malam oleh anak kesayangannya, selera makan ibu Rahma lenyap. Ia sama sekali tak berminat mencicipi apalagi melahapnya. Sosok yang sudah hampir terbenam masa hidupnya itu hanya memperhatikan anaknya, dengan cinta dan keindahan yang telah lama terpendam.
Di tengah menikmati menu makan malamnya. Malik berkata
“Bu ini yang pertama sejak 19 tahun yang lalu. Maafkan anakmu ini. Besok kita akan makan malam lagi untuk yang kedua kalinya, kebetulan aku memiliki sedikit pekerjaan disini dalam beberapa waktu kedepan.”
Mendengar kalimat itu, mata ibu Rahma berbinar ceria. Binar bahagia itu semakin bertambah hingga kedua insan itu pun pulang. Malik mengantarkan ibunya ke kediamannya, setelah itu ia kembali ke apartmentnya.
Waktu-waktu setelah itu, adalah waktu menunggu yang sangat membahagiakan bagi ibu Rahma. Ditungguilah ponselnya sambil berharap akan datangnya panggilan dari anaknya. Sementara itu di tempat yang lain, Malik sibuk dengan dunia, pekerjaan dan kehidupannya. Ia benar-benar lupa dengan janji yang ia ucapkan sendiri.
Karena usia yang menua, suatu ketika ibu Rahma pun jatuh sakit. Makin hari makin bertambah sakit parah yang dideritanya. Alasan sibuk pun membuat Malik tak kunjung membesuk ibunya. Hingga akhirnya, wanita berhati lembut bak malaikat itu wafat sebelum sang anak menjenguknya.
Proses pemakaman pun berlangsung dengan lancar dan tertutup. Ada perasaan haru nan pilu yang menyelinap ke dalam hati Malik. Ia sangat menyesal tidak meluangkan waktu untuk mendampingi sang ibunda di saat-saat terakhirnya. Perasaan bersalah selalu datang belakangan. Andai perasaan itu bisa datang lebih dulu, mungkin saja ia akan bisa menebus dosanya.
Sepulang dari pemakaman, ponselnya bergetar. Diangkatlah telepon itu oleh Malik. Tertera dalam layar, pemanggil adalah restoran tempat ia dan ibunya makan malam tempo hari lalu.
“Halo, Pak Malik,” terdengar suara dari seberang.
“Maaf, Pak. Dalam catatan kasir kami, Bapak telah memesan tempat makan malam untuk dua orang. Tagihannya sudah dibayar oleh ibu Anda. Dan ini ada…”
Entah apa yang dirasakan oleh Malik. Belum selesai bicara, dimatikanlah ponselnya kemudian bergegas menuju restoran tersebut. Sesampainya di sana, sang kasir menyerahkan sebuah pesan dengan tulisan tangan. Dari sang ibu. Tertera di dalamnya,
“Nak, aku mengerti. Malam ini adalah makan malam terakhir kita. Meski kau sampaikan akan ada yang kedua, aku tak terlalu yakin. Maka, makan malamlah bersama kekasihmu, calon istrimu yang pernah kau ceritakan, aku mengetahuinya, ia sangat cantik cocok denganmu anakku pria yang sukses dan tampan. Aku sudah membayarnya untukmu dengan uang ibu.”
Pedih hati Malik membaca pesan itu. Ia baru sadar akan keangkuhannya selama ini. Bahkan sampai lupa untuk memberikan sekedar perhatian kecil untuk ibunda yang telah melahirkan dan membesarkannya dengan penuh cinta dan kasih. Sekarang hanya ada rasa sesal yang tak berujung pada hidup Malik bahwa semua sudah terlambat. Maafkan Aku Ibu..

